Potret Desa Timbulsloko...
1/7
Krisis iklim bukan lagi cerita nanti/yang akan datang, tapi cerita hari ini dan dialami banyak makhluk hidup di planet Bumi.
Potret Desa Timbulsloko...
2/7
Seperti yang dirasakan oleh warga Dukuh Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Potret Desa Timbulsloko...
3/7
Di Tahun 1970-an, desa ini makmur. Pohon kelapa, sawah padi, kebun sayur. Pendeknya, tiap jengkal tanah menghasilkan bahan pangan dan warga tak pernah alami krisis pangan. Namun, sawah terakhir yang dicatat di desa ini adalah di tahun 2016.
Potret Desa Timbulsloko...
4/7
Di Tahun 1970-an, desa ini makmur. Pohon kelapa, sawah padi, kebun sayur. Pendeknya, tiap jengkal tanah menghasilkan bahan pangan dan warga tak pernah alami krisis pangan. Namun, sawah terakhir yang dicatat di desa ini adalah di tahun 2016.
Potret Desa Timbulsloko...
5/7
Selanjutnya pada tahun 2019, air laut mengepung perkampungan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari awal garis pantai dan membuat tinggi air selutut. Sementara di tahun 2025 tinggi air ketika surut mendekati batas perut orang dewasa. Ketika air rob tinggi, jalan yang dulu bisa dilalui kendaraan roda empat, kini hanya bisa dilalui sampan.
Potret Desa Timbulsloko...
6/7
Musala hingga pemakaman pun dikepung air. Data penduduk Dukuh Timbulsloko yang dicatat Mongabay.co.id pada tahun 2019 adalah berjumlah 3.710 jiwa, dengan warga yang telah beralih profesi dari petani menjadi nelayan dan buruh pabrik. Di tahun 2025, jumlah penduduk yang bertahan adalah berkisar 200 orang yang terdiri dari sekitar 80an Kepala Keluarga. Warga yang bertahan di Timbulsloko dicatat memiliki daya lenting luar biasa. Meskipun dengan pendapatan terbatas, warga memprioritaskan uangnya untuk membangun mimpi hidup yang lebih baik di Timbulsloko.
Potret Desa Timbulsloko...
7/7
Dengan sumber daya yang ada, dan modal solidaritas warga mulai membangun adaptasi krisis iklim versi rakyat. Mereka membuat jalan panggung dengan penyangga bambu dan geladak dari limbah kayu Bengkirai. Rumah-rumah dan masjid yang telah tenggelam dijadikan lantai geladak, supaya biaya peninggian lebih murah dan mudah. Warga bertahan bukan karena mereka tidak mau meninggalkan tempat kediamannya. Mereka bertahan karena tak punya pilihan. Opsi-opsi yang ditawarkan pemerintah dirasakan kurang kondusif dan tidak menjawab kebutuhan warga.
Potret Desa Timbulsloko...
Potret Desa Timbulsloko...
Potret Desa Timbulsloko...
Potret Desa Timbulsloko...
Potret Desa Timbulsloko...
Potret Desa Timbulsloko...
Potret Desa Timbulsloko...

Potret Desa Timbulsloko Tenggelam Tergerus Abrasi dan Banjir Rob

Minggu, 16 Maret 2025 - 22:49 WIB
A A A
Krisis iklim bukan lagi cerita nanti/yang akan datang, tapi cerita hari ini dan dialami banyak makhluk hidup di planet Bumi. Seperti yang dirasakan oleh warga Dukuh Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Di Tahun 1970-an, desa ini makmur. Pohon kelapa, sawah padi, kebun sayur. Pendeknya, tiap jengkal tanah menghasilkan bahan pangan dan warga tak pernah alami krisis pangan. Namun, sawah terakhir yang dicatat di desa ini adalah di tahun 2016.

Selanjutnya pada tahun 2019, air laut mengepung perkampungan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari awal garis pantai dan membuat tinggi air selutut. Sementara di tahun 2025 tinggi air ketika surut mendekati batas perut orang dewasa. Ketika air rob tinggi, jalan yang dulu bisa dilalui kendaraan roda empat, kini hanya bisa dilalui sampan. Musala hingga pemakaman pun dikepung air. Data penduduk Dukuh Timbulsloko yang dicatat Mongabay.co.id pada tahun 2019 adalah berjumlah 3.710 jiwa, dengan warga yang telah beralih profesi dari petani menjadi nelayan dan buruh pabrik. Di tahun 2025, jumlah penduduk yang bertahan adalah berkisar 200 orang yang terdiri dari sekitar 80an Kepala Keluarga. Warga yang bertahan di Timbulsloko dicatat memiliki daya lenting luar biasa. Meskipun dengan pendapatan terbatas, warga memprioritaskan uangnya untuk membangun mimpi hidup yang lebih baik di Timbulsloko.

Dengan sumber daya yang ada, dan modal solidaritas warga mulai membangun adaptasi krisis iklim versi rakyat. Mereka membuat jalan panggung dengan penyangga bambu dan geladak dari limbah kayu Bengkirai. Rumah-rumah dan masjid yang telah tenggelam dijadikan lantai geladak, supaya biaya peninggian lebih murah dan mudah. Warga bertahan bukan karena mereka tidak mau meninggalkan tempat kediamannya. Mereka bertahan karena tak punya pilihan. Opsi-opsi yang ditawarkan pemerintah dirasakan kurang kondusif dan tidak menjawab kebutuhan warga.

Bantuan pemerintah daerah bagi warga sebesar sekitar Rp 30 juta sampai Rp 50 juta per keluarga tidak memadai untuk mereka pindah, atau lebih orang Jawa biasa menyebutnya dengan bedol desa. Selain itu, warga memiliki tantangan untuk menjalankan mata pencaharian sebagai nelayan. Selain wilayah tangkap diberi pagar dan mereka harus membayar sewa, akses nelayan, khususnya nelayan perempuan pada bantuan pemerintah bagi kelompok nelayan juga terbatas karena profesi dan hak nelayan perempuan masih belum diakui.

Inisiatif adaptasi krisis iklim yang dilakukan oleh warga seharusnya dijadikan pengetahuan berharga untuk mengelola kawasan pesisir, khususnya di bagian utara Jawa Tengah. Penyelesaian krisis iklim seperti banjir rob tidak melulu harus berupa infrastruktur raksasa seperti tanggul laut. Pengetahuan warga yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup di pesisir dan melakukan adaptasi tanpa putus perlu menjadi pertimbangan penting bagi negara untuk mengatur dan membangun pesisir yang memberikan masa depan lebih baik bagi warga dan lingkungannya.

FOTO-FOTO: Ahmad Antoni
(sra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Anda punya koleksi foto jalan-jalan yang keren, liburan tak terlupakan, atau foto indah penuh makna?
Kirim foto-foto Anda untuk tampil di Galerimu Unggah Foto
Foto Terkait
Hampir Sebulan Banjir...
Hampir Sebulan Banjir Rob Rendam Desa Eretan Wetan
Banjir Rob Rendam Pemakaman...
Banjir Rob Rendam Pemakaman di Desa Eretan Wetan
Banjir Rob Landa Pekalongan
Banjir Rob Landa Pekalongan
Potret Ratusan Karyawan...
Potret Ratusan Karyawan Terjebak Banjir Rob di Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
Banjir Rob Landa Kota...
Banjir Rob Landa Kota Banjarmasin
Banjir Rob Masih Menggenangi...
Banjir Rob Masih Menggenangi Pekalongan
Foto Terkini
Jonatan Christie Gagal...
Jonatan Christie Gagal Raih Gelar Indonesia Open 2026
11 jam yang lalu
Satu Dekade Membangun...
Satu Dekade Membangun Literasi Keuangan Berbasis Emas di Indonesia
19 jam yang lalu
Tehillim Concert Antarkan...
Tehillim Concert Antarkan Liliana Tanoesoedibjo Raih Penghargaan MURI Kartini
23 jam yang lalu
Jonatan Christie Melaju...
Jonatan Christie Melaju ke Final Indonesia Open 2026
1 hari yang lalu
Waisak Buddhayana DKI,...
Waisak Buddhayana DKI, Menebar Cinta untuk Perdamaian
1 hari yang lalu
Pengunjung Berburu Perlengkapan...
Pengunjung Berburu Perlengkapan Outdoor di Indofest 2026
1 hari yang lalu
Foto Terpopuler
Penyidik KPK Geledah...
Penyidik KPK Geledah Kediaman Silmy Karim Terkait Pengembangan Perkara
Berbagi Kepedulian dan...
Berbagi Kepedulian dan Semangat Sehat di Hari Lansia Nasional
Aksi Perenang Bersaing...
Aksi Perenang Bersaing di Opening Indonesia Short Course Emerging Series 2026
Waisak Buddhayana DKI,...
Waisak Buddhayana DKI, Menebar Cinta untuk Perdamaian
Pengunjung Berburu Perlengkapan...
Pengunjung Berburu Perlengkapan Outdoor di Indofest 2026
Hutan Petrofin Tumbuh...
Hutan Petrofin Tumbuh di 23 Kota, Elnusa Petrofin Perkuat Jejak Hijau Jalur Distribusi Energi