IBC Luncurkan ICMA, Targetkan RI Jadi Pemain Utama Pasar Karbon Global
Jum'at, 25 Juli 2025 - 15:06 WIB
A
A
A
JAKARTA – Indonesian Business Council (IBC) meluncurkan Indonesia Carbon Market Academy (ICMA) untuk memperkuat kapasitas dan daya saing pelaku pasar karbon nasional agar mampu bersaing di pasar global. ICMA ditujukan untuk mendukung target pengurangan emisi menuju net-zero pada 2050. “ICMA adalah langkah strategis membangun pelaku pasar karbon yang kompeten,” kata Chief Operating Officer IBC, William Sabandar di Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Pemerintah menargetkan potensi pendapatan hingga USD65 miliar atau sekitar Rp1.000 triliun dari ekspor kredit karbon pada 2028. Dengan hutan tropis yang luas, Indonesia punya posisi strategis dalam perdagangan karbon. Namun hingga 11 Juli 2025, volume transaksi di bursa karbon IDXCarbon baru mencapai 1,59 juta ton CO?e senilai Rp77,95 miliar, menunjukkan masih perlunya peningkatan kualitas dan integritas proyek karbon nasional.
Direktur Eksekutif ICRES, Paul Butarbutar, menilai rendahnya kualitas dan integritas sebagian proyek karbon menjadi tantangan utama yang menurunkan kepercayaan pasar global. “ICMA jadi wadah strategis untuk meningkatkan kapasitas teknis pelaku pasar,” ucap Paul. Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi kesenjangan yang ada.
Founder & CEO Fairatmos, Natalia Rialucky Marsudi, menambahkan bahwa pasar karbon harus inklusif agar seluruh pihak, termasuk komunitas hutan desa dan masyarakat umum, dapat terlibat aktif. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan segelintir pemain,” tegasnya. Natalia yakin ICMA bisa menjembatani tantangan teknis dan akses pendanaan, serta membangun ekosistem karbon yang adil, transparan, dan berkelanjutan.
Pemerintah menargetkan potensi pendapatan hingga USD65 miliar atau sekitar Rp1.000 triliun dari ekspor kredit karbon pada 2028. Dengan hutan tropis yang luas, Indonesia punya posisi strategis dalam perdagangan karbon. Namun hingga 11 Juli 2025, volume transaksi di bursa karbon IDXCarbon baru mencapai 1,59 juta ton CO?e senilai Rp77,95 miliar, menunjukkan masih perlunya peningkatan kualitas dan integritas proyek karbon nasional.
Direktur Eksekutif ICRES, Paul Butarbutar, menilai rendahnya kualitas dan integritas sebagian proyek karbon menjadi tantangan utama yang menurunkan kepercayaan pasar global. “ICMA jadi wadah strategis untuk meningkatkan kapasitas teknis pelaku pasar,” ucap Paul. Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi kesenjangan yang ada.
Founder & CEO Fairatmos, Natalia Rialucky Marsudi, menambahkan bahwa pasar karbon harus inklusif agar seluruh pihak, termasuk komunitas hutan desa dan masyarakat umum, dapat terlibat aktif. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan segelintir pemain,” tegasnya. Natalia yakin ICMA bisa menjembatani tantangan teknis dan akses pendanaan, serta membangun ekosistem karbon yang adil, transparan, dan berkelanjutan.
(sra)