Membangun Momentum untuk Sistem Tekstil Sirkular di Indonesia
Jum'at, 24 Oktober 2025 - 18:04 WIB
A
A
A
Kemitraan Fashion Sirkular (Circular Fashion Partnership/CFP) Indonesia Rayakan Satu Tahun Kemajuan
Indonesia Tunjukkan Langkah Kuat Menuju Ekonomi Tekstil Sirkular pada Acara Penanda Satu Tahun
Yogyakarta, 23 Oktober 2025 — Indonesia menegaskan kembali ambisinya untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi tekstil sirkular global, dengan berkomitmen mempercepat upaya sirkularitas meskipun menghadapi berbagai tantangan. Komitmen ini disoroti dalam acara peringatan satu tahun Circular Fashion Partnership (CFP) – Indonesia, yang diselenggarakan di Kepatihan Puro Pakualaman, Yogyakarta.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 pemangku kepentingan yang mewakili ekosistem daur ulang tekstil yang terus tumbuh di Indonesia. Peserta meliputi perwakilan senior dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementerian Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Kementerian Perindustrian, Kanjeng Gusti Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X, serta Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), bersama dengan pelaku industri terkemuka, merek fashion global, pengelola limbah tekstil, dan lembaga akademik.
Dengan mengusung tema “Membangun Momentum untuk Sistem Tekstil Sirkular di Indonesia,” para peserta meninjau capaian program selama tahun pertama dan merumuskan langkah bersama menuju ekosistem tekstil yang lebih berkelanjutan dan sirkular.
Dukungan Pemerintah dan Keraton untuk Sirkularitas Tekstil
Acara dibuka dengan sambutan dari Rantai Tekstil Lestari (RTL), Global Fashion Agenda (GFA), serta pidato kerajaan oleh Kanjeng Gusti Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X. Acara dilanjutkan dengan sambutan kunci dari BAPPENAS dan BEKRAF, yang menekankan bahwa sirkularitas tekstil merupakan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi hijau dan inklusif — yang hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas sektor publik dan swasta.
“Pemerintah Indonesia memiliki strategi Promosi Industri Hijau, di mana ekonomi sirkular menjadi bagian penting dan industri tekstil merupakan salah satu sektor prioritas untuk dikembangkan. Strategi ini disebut HEBAT; Hilirisasi, Ekspor berorientasi global, Bermitra, Aglomerasi Industri, dan Transisi.”
— Rolly R. Purnomo, Deputi Sekretariat Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).
“Diskusi ini sangat relevan dengan upaya Kementerian Ekonomi Kreatif dalam mempromosikan produk-produk ekonomi kreatif yang tidak hanya unik, tetapi juga berdaya saing global. Produk kreatif berbahan limbah tekstil akan terus berkembang, menciptakan lapangan kerja di sektor penyortiran, pengolahan, dan perbaikan. Pasar global juga tumbuh seiring meningkatnya apresiasi dunia terhadap produk daur ulang.”
— Yuke Sri Rahayu, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Nasional (BEKRAF).
“Saya sangat senang acara ini dapat diselenggarakan di Kepatihan Kadipaten Pakualaman. Potongan kain telah menjadi masalah tersendiri karena berakhir menjadi limbah. Sangat luar biasa jika limbah tekstil dapat diolah kembali menjadi kain baru. Kita harus memiliki komitmen kuat, karena dampak lingkungan dari limbah tekstil sangat besar, sekaligus memiliki potensi manfaat sosial dan ekonomi, terutama bagi para pengumpul rumahan. Semoga kolaborasi yang terbangun dalam forum ini dapat menjadi solusi yang berdampak.”
— Kanjeng Gusti Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X.
Temuan Utama dan Langkah Selanjutnya
Para mitra pelaksana mempresentasikan hasil dan rekomendasi tahun pertama melalui paparan komprehensif dan dua sesi diskusi panel, yang berfokus pada kerangka kebijakan untuk daur ulang tekstil-ke-tekstil dan pandangan industri tentang peningkatan partisipasi lokal.
Diskusi menegaskan potensi besar Indonesia untuk berperan sebagai pemimpin dalam rantai nilai daur ulang global — sebuah bidang yang masih belum banyak didefinisikan. Selain itu, terdapat peluang yang muncul dari perjanjian perdagangan bebas terbaru Indonesia, yang dapat semakin memperkuat daya saing negara ini dalam manufaktur berkelanjutan dan inovasi tekstil sirkular.
Secara paralel, para panelis menunjukkan optimisme yang tumbuh di kalangan industri, di mana para produsen lokal menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam rantai nilai serta terus meningkatkan kualitas dan standar produk tekstil daur ulang agar memenuhi permintaan internasional.
Memasuki tahun kedua, CFP akan terus memperkuat kemitraan, memperdalam dialog kebijakan berbasis bukti, memperluas penerapan solusi sirkular yang dapat ditingkatkan dalam sektor tekstil Indonesia, serta melakukan pemetaan limbah alas kaki dan penyelarasan penggunaan bahan kimia untuk daur ulang tekstil.
Indonesia Tunjukkan Langkah Kuat Menuju Ekonomi Tekstil Sirkular pada Acara Penanda Satu Tahun
Yogyakarta, 23 Oktober 2025 — Indonesia menegaskan kembali ambisinya untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi tekstil sirkular global, dengan berkomitmen mempercepat upaya sirkularitas meskipun menghadapi berbagai tantangan. Komitmen ini disoroti dalam acara peringatan satu tahun Circular Fashion Partnership (CFP) – Indonesia, yang diselenggarakan di Kepatihan Puro Pakualaman, Yogyakarta.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 pemangku kepentingan yang mewakili ekosistem daur ulang tekstil yang terus tumbuh di Indonesia. Peserta meliputi perwakilan senior dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementerian Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Kementerian Perindustrian, Kanjeng Gusti Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X, serta Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), bersama dengan pelaku industri terkemuka, merek fashion global, pengelola limbah tekstil, dan lembaga akademik.
Dengan mengusung tema “Membangun Momentum untuk Sistem Tekstil Sirkular di Indonesia,” para peserta meninjau capaian program selama tahun pertama dan merumuskan langkah bersama menuju ekosistem tekstil yang lebih berkelanjutan dan sirkular.
Dukungan Pemerintah dan Keraton untuk Sirkularitas Tekstil
Acara dibuka dengan sambutan dari Rantai Tekstil Lestari (RTL), Global Fashion Agenda (GFA), serta pidato kerajaan oleh Kanjeng Gusti Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X. Acara dilanjutkan dengan sambutan kunci dari BAPPENAS dan BEKRAF, yang menekankan bahwa sirkularitas tekstil merupakan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi hijau dan inklusif — yang hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas sektor publik dan swasta.
“Pemerintah Indonesia memiliki strategi Promosi Industri Hijau, di mana ekonomi sirkular menjadi bagian penting dan industri tekstil merupakan salah satu sektor prioritas untuk dikembangkan. Strategi ini disebut HEBAT; Hilirisasi, Ekspor berorientasi global, Bermitra, Aglomerasi Industri, dan Transisi.”
— Rolly R. Purnomo, Deputi Sekretariat Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).
“Diskusi ini sangat relevan dengan upaya Kementerian Ekonomi Kreatif dalam mempromosikan produk-produk ekonomi kreatif yang tidak hanya unik, tetapi juga berdaya saing global. Produk kreatif berbahan limbah tekstil akan terus berkembang, menciptakan lapangan kerja di sektor penyortiran, pengolahan, dan perbaikan. Pasar global juga tumbuh seiring meningkatnya apresiasi dunia terhadap produk daur ulang.”
— Yuke Sri Rahayu, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Nasional (BEKRAF).
“Saya sangat senang acara ini dapat diselenggarakan di Kepatihan Kadipaten Pakualaman. Potongan kain telah menjadi masalah tersendiri karena berakhir menjadi limbah. Sangat luar biasa jika limbah tekstil dapat diolah kembali menjadi kain baru. Kita harus memiliki komitmen kuat, karena dampak lingkungan dari limbah tekstil sangat besar, sekaligus memiliki potensi manfaat sosial dan ekonomi, terutama bagi para pengumpul rumahan. Semoga kolaborasi yang terbangun dalam forum ini dapat menjadi solusi yang berdampak.”
— Kanjeng Gusti Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X.
Temuan Utama dan Langkah Selanjutnya
Para mitra pelaksana mempresentasikan hasil dan rekomendasi tahun pertama melalui paparan komprehensif dan dua sesi diskusi panel, yang berfokus pada kerangka kebijakan untuk daur ulang tekstil-ke-tekstil dan pandangan industri tentang peningkatan partisipasi lokal.
Diskusi menegaskan potensi besar Indonesia untuk berperan sebagai pemimpin dalam rantai nilai daur ulang global — sebuah bidang yang masih belum banyak didefinisikan. Selain itu, terdapat peluang yang muncul dari perjanjian perdagangan bebas terbaru Indonesia, yang dapat semakin memperkuat daya saing negara ini dalam manufaktur berkelanjutan dan inovasi tekstil sirkular.
Secara paralel, para panelis menunjukkan optimisme yang tumbuh di kalangan industri, di mana para produsen lokal menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam rantai nilai serta terus meningkatkan kualitas dan standar produk tekstil daur ulang agar memenuhi permintaan internasional.
Memasuki tahun kedua, CFP akan terus memperkuat kemitraan, memperdalam dialog kebijakan berbasis bukti, memperluas penerapan solusi sirkular yang dapat ditingkatkan dalam sektor tekstil Indonesia, serta melakukan pemetaan limbah alas kaki dan penyelarasan penggunaan bahan kimia untuk daur ulang tekstil.
(sra)