Riset LPEM UI: AdaKami Sumbang Hingga Rp10,9 T ke PDB
Kamis, 26 Februari 2026 - 07:15 WIB
A
A
A
Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyebut platform pinjaman daring berizin AdaKami berkontribusi terhadap PDB Indonesia tahun 2024 sebesar Rp6,95–10,96 triliun melalui efek berganda (ripple effect) pembiayaan konsumsi. Dampaknya dirasakan di 185 sektor ekonomi, terutama jasa lembaga keuangan lainnya, jasa pendidikan pemerintah, dan perdagangan non-mobil/motor. Nilai kontribusi tersebut setara dengan PDB negara Tonga.
Selain mendorong PDB, pembiayaan AdaKami membuka 47–78 ribu lapangan kerja di 17 sektor, terutama perdagangan, pendidikan, serta pertanian/kehutanan/perikanan.
Bagi rumah tangga, pinjaman berfungsi sebagai bantalan keuangan (financial buffer) untuk menjaga konsumsi saat kondisi mendesak seperti PHK atau sakit. Sebanyak 24,51% responden menyatakan tanpa pinjaman daring mereka harus memakai tabungan atau menjual aset. Pengguna juga tercatat memiliki rata-rata pengeluaran Rp4,8 juta/bulan dan tabungan hampir Rp700 ribu.
Dalam mendukung usaha mikro, 53,1% pengguna memakai pinjaman untuk menambah stok dan 28,1% melaporkan kenaikan omzet. Sektor utama penerima manfaat adalah perdagangan, akomodasi/makan minum, dan pertanian.
Tingkat literasi keuangan pengguna relatif tinggi (89,2% memahami bunga, biaya, dan tenor). Namun riset juga menyoroti risiko perilaku seperti overconfidence dan bias jangka pendek. Karena itu, diperlukan penguatan edukasi, transparansi, perlindungan konsumen, penertiban pinjaman ilegal, serta pengawasan regulator dan perbaikan manajemen risiko industri agar ekosistem pinjaman daring tetap berkelanjutan dan prudent.
Data riset diperoleh dari survei 615 responden di tujuh provinsi (Oktober–November 2025) dan dihitung menggunakan pendekatan Input-Output untuk mengestimasi dampak ekonomi langsung dan tidak langsung.
Selain mendorong PDB, pembiayaan AdaKami membuka 47–78 ribu lapangan kerja di 17 sektor, terutama perdagangan, pendidikan, serta pertanian/kehutanan/perikanan.
Bagi rumah tangga, pinjaman berfungsi sebagai bantalan keuangan (financial buffer) untuk menjaga konsumsi saat kondisi mendesak seperti PHK atau sakit. Sebanyak 24,51% responden menyatakan tanpa pinjaman daring mereka harus memakai tabungan atau menjual aset. Pengguna juga tercatat memiliki rata-rata pengeluaran Rp4,8 juta/bulan dan tabungan hampir Rp700 ribu.
Dalam mendukung usaha mikro, 53,1% pengguna memakai pinjaman untuk menambah stok dan 28,1% melaporkan kenaikan omzet. Sektor utama penerima manfaat adalah perdagangan, akomodasi/makan minum, dan pertanian.
Tingkat literasi keuangan pengguna relatif tinggi (89,2% memahami bunga, biaya, dan tenor). Namun riset juga menyoroti risiko perilaku seperti overconfidence dan bias jangka pendek. Karena itu, diperlukan penguatan edukasi, transparansi, perlindungan konsumen, penertiban pinjaman ilegal, serta pengawasan regulator dan perbaikan manajemen risiko industri agar ekosistem pinjaman daring tetap berkelanjutan dan prudent.
Data riset diperoleh dari survei 615 responden di tujuh provinsi (Oktober–November 2025) dan dihitung menggunakan pendekatan Input-Output untuk mengestimasi dampak ekonomi langsung dan tidak langsung.
(sra)