GICC Inisiasi Seminar Multinasional Dukung UMKM dan Startup ASEAN
Jum'at, 24 April 2026 - 11:29 WIB
A
A
A
Green Innovation Cooperation Center (GICC) bekerja sama dengan ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre, BINUS University, Innobiz Association, serta didukung oleh Kementerian Koperasi dan Kementerian UMKM Republik Indonesia, sukses menyelenggarakan seminar bertema “Enhancing the Sustainability of a Green Economy through the Utilization of Renewable Energy and Sustainable Finance by Strengthening MSMEs and Cooperatives in the ASEAN Region.”
GICC merupakan inisiatif di bawah ASEIC (ASEM SMEs Eco-Innovation Center), organisasi yang berbasis di Republik Korea dan berfokus pada pengembangan eco-innovation serta penguatan kapasitas UMKM di negara-negara mitra ASEM.
Seminar yang diselenggarakan di BINUS University Bekasi ini menjadi platform strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, industri, dan organisasi internasional. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Kim Heesoon (Direktur GICC), Lee Young Jick (Ketua ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre), George Wijaya Hadipoespito (Vice President BINUS Higher Education), Bastian (Kepala Biro Manajemen Kinerja dan Kerja Sama Kementerian UMKM RI), serta perwakilan dari Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, dan jajaran pimpinan akademik BINUS University.
Dalam sambutan pembukaannya, Direktur GICC menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan. Ia menyatakan, “Untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor sangat penting, dengan UMKM dan koperasi sebagai pilar utama ekonomi ASEAN.”
Seminar ini membahas berbagai topik strategis, mulai dari pemanfaatan teknologi energi terbarukan untuk UMKM, penguatan pembiayaan berkelanjutan, hingga integrasi inovasi digital dalam mendukung transformasi bisnis menuju ekonomi hijau.
Menyoroti tantangan praktis yang dihadapi UMKM, Andi Darell Alhakim, analis dekarbonisasi bisnis dari University of Oxford, menyampaikan bahwa transisi menuju keberlanjutan dapat dimulai dari langkah sederhana. Ia menjelaskan, “Bagi banyak UMKM, tantangan terbesar bukanlah kurangnya solusi, tetapi mengetahui dari mana harus memulai. Pada kenyataannya, langkah-langkah kecil dan praktis sudah dapat memberikan dampak yang berarti.”
Selain itu, Lee Young Jick menekankan pentingnya integrasi antara berbagai faktor pendukung. Ia menyatakan, “Memperkuat keterkaitan antara teknologi, keuangan, dan kebijakan akan menjadi kunci untuk mempercepat keberhasilan transisi hijau di kawasan ASEAN.”
Seminar ini juga menghadirkan berbagai sesi, mulai dari pembukaan, talk show interaktif, hingga presentasi dari para ahli dan praktisi. Topik diskusi mencakup strategi kerja sama berkelanjutan, peran universitas dalam inovasi UMKM, kebijakan dukungan pemerintah, penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam transisi hijau, serta upaya dekarbonisasi UMKM.
Lebih dari sekadar forum berbagi pengetahuan, kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kemitraan strategis antara sektor publik dan swasta, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di kawasan ASEAN.
Melalui seminar ini, GICC menegaskan komitmennya untuk terus mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi internasional, serta mendukung pengembangan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di ASEAN.
GICC merupakan inisiatif di bawah ASEIC (ASEM SMEs Eco-Innovation Center), organisasi yang berbasis di Republik Korea dan berfokus pada pengembangan eco-innovation serta penguatan kapasitas UMKM di negara-negara mitra ASEM.
Seminar yang diselenggarakan di BINUS University Bekasi ini menjadi platform strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, industri, dan organisasi internasional. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Kim Heesoon (Direktur GICC), Lee Young Jick (Ketua ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre), George Wijaya Hadipoespito (Vice President BINUS Higher Education), Bastian (Kepala Biro Manajemen Kinerja dan Kerja Sama Kementerian UMKM RI), serta perwakilan dari Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, dan jajaran pimpinan akademik BINUS University.
Dalam sambutan pembukaannya, Direktur GICC menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan. Ia menyatakan, “Untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor sangat penting, dengan UMKM dan koperasi sebagai pilar utama ekonomi ASEAN.”
Seminar ini membahas berbagai topik strategis, mulai dari pemanfaatan teknologi energi terbarukan untuk UMKM, penguatan pembiayaan berkelanjutan, hingga integrasi inovasi digital dalam mendukung transformasi bisnis menuju ekonomi hijau.
Menyoroti tantangan praktis yang dihadapi UMKM, Andi Darell Alhakim, analis dekarbonisasi bisnis dari University of Oxford, menyampaikan bahwa transisi menuju keberlanjutan dapat dimulai dari langkah sederhana. Ia menjelaskan, “Bagi banyak UMKM, tantangan terbesar bukanlah kurangnya solusi, tetapi mengetahui dari mana harus memulai. Pada kenyataannya, langkah-langkah kecil dan praktis sudah dapat memberikan dampak yang berarti.”
Selain itu, Lee Young Jick menekankan pentingnya integrasi antara berbagai faktor pendukung. Ia menyatakan, “Memperkuat keterkaitan antara teknologi, keuangan, dan kebijakan akan menjadi kunci untuk mempercepat keberhasilan transisi hijau di kawasan ASEAN.”
Seminar ini juga menghadirkan berbagai sesi, mulai dari pembukaan, talk show interaktif, hingga presentasi dari para ahli dan praktisi. Topik diskusi mencakup strategi kerja sama berkelanjutan, peran universitas dalam inovasi UMKM, kebijakan dukungan pemerintah, penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam transisi hijau, serta upaya dekarbonisasi UMKM.
Lebih dari sekadar forum berbagi pengetahuan, kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kemitraan strategis antara sektor publik dan swasta, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di kawasan ASEAN.
Melalui seminar ini, GICC menegaskan komitmennya untuk terus mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi internasional, serta mendukung pengembangan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di ASEAN.
(sra)