Survei Sun Life Indonesia: Kesenjangan Pensiun di Indonesia, Antara Pilihan dan Kewajiban
Sabtu, 14 Februari 2026 - 13:12 WIB
Advertisement
Indonesia menghadapi kesenjangan pensiun yang kian nyata. Survei terbaru Sun Life di Asia menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, bekerja di masa pensiun adalah pilihan untuk tetap aktif dan produktif. Namun bagi yang lain, hal tersebut menjadi kewajiban akibat tekanan finansial. Temuan ini menegaskan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang di tengah kesiapan pensiun yang belum merata.
Secara demografis, Indonesia tengah memasuki era penuaan penduduk. Pada 2023, sekitar 30,9 juta jiwa atau 11,1% populasi berusia 60 tahun ke atas, dan jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 64,9 juta jiwa (20,5%) pada 2050. Perubahan ini, ditambah kebiasaan menunda perencanaan pensiun serta meningkatnya ketergantungan pada teknologi seperti generative AI untuk mengambil keputusan finansial, berpotensi memperlebar kesenjangan kesiapan pensiun.
Survei bertajuk “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” mengungkapkan 77% responden memperkirakan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun. Bagi sebagian orang, keputusan ini didorong keinginan menjaga rasa memiliki tujuan dan pemenuhan diri (48%), mempertahankan hubungan sosial (48%), serta stimulasi mental (36%). Namun di sisi lain, 71% responden mengaku tetap bekerja karena membutuhkan penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga keamanan finansial jangka panjang.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menyebut terdapat dua realitas berbeda dalam menghadapi masa pensiun. “Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama adalah pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Namun bagi yang lain, itu mencerminkan tekanan keuangan. Perencanaan pensiun sejak dini menjadi penentu realitas mana yang akan dijalani,” ujarnya.
Dua Realitas: Siap Secara Finansial vs Terpaksa Menunda
Riset ini mengelompokkan responden dalam dua kategori: Gold Star Planners dan Stalled Starters.
Gold Star Planners adalah mereka yang siap secara finansial dan memiliki keleluasaan menentukan kapan serta bagaimana mengurangi pekerjaan. Sebanyak 60% dari kelompok ini melihat bekerja lebih lama sebagai bagian dari tujuan hidup dan kesejahteraan. Bahkan 48% menyatakan menantikan masa pensiun dengan optimisme, didukung rasa aman secara finansial.
Sebaliknya, Stalled Starters adalah mereka yang menunda pensiun karena tidak mampu berhenti bekerja. Sekitar 20% dari kelompok ini merasa tidak pasti atau pesimistis menghadapi pensiun. Sebanyak 43% menunda pensiun demi menutup biaya pendidikan dan kebutuhan hidup anak.
Menariknya, 83% Gold Star Planners yang tetap bekerja melakukannya karena menikmati aspek sosial pekerjaan dan ingin tetap aktif secara fisik maupun mental—bukan karena tekanan finansial.
Lonjakan Penggunaan AI, Minat pada Nasihat Profesional Menurun
Survei juga mencatat peningkatan signifikan penggunaan generative AI dalam pengambilan keputusan finansial. Penggunaan alat seperti ChatGPT dan Google Gemini melonjak dari 13% menjadi 30%.
Di saat yang sama, minat berkonsultasi dengan bank menurun dari 40% menjadi 31%, dan konsultasi dengan penasihat keuangan independen turun dari 44% menjadi 31%. Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kenyamanan terhadap solusi digital, namun juga menyoroti risiko perencanaan mandiri tanpa pendampingan profesional.
Menurut Albertus, AI dapat menjadi titik awal pencarian informasi, tetapi belum tentu mampu memberikan konteks dan personalisasi yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan finansial jangka panjang. Karena itu, peran penasihat keuangan tetap krusial agar keputusan yang diambil akurat dan selaras dengan tujuan individu.
Keamanan Finansial Tentukan Optimisme
Keamanan finansial menjadi faktor utama optimisme terhadap pensiun. Di antara responden yang menantikan masa pensiun, 60% menyebut keamanan finansial sebagai alasan utama, disusul stabilitas (46%) dan rasa kendali terhadap transisi hidup (23%).
Sebaliknya, mereka yang cemas menghadapi pensiun khawatir tidak mampu mendukung keluarga (44%) serta menghadapi ketidakamanan finansial (37%).
Namun, banyak masyarakat Indonesia memiliki rentang perencanaan yang relatif pendek. Sebanyak 24% tidak memiliki rencana pensiun sama sekali, dan 34% baru mulai merencanakan dua tahun sebelum berhenti bekerja. Hanya 38% yang merasa sangat percaya diri dengan rencana pensiun mereka.
Tekanan juga datang dari fenomena “sandwich generation”, di mana individu harus menopang orang tua sekaligus anak. Kondisi ini membuat 40% responden menurunkan ekspektasi gaya hidup dan 23% menunda pensiun.
Meski demikian, 77% responden percaya pensiun seharusnya menjadi pilihan pribadi, bukan kewajiban berdasarkan batas usia tertentu. Bahkan 81% mendukung opsi bekerja melampaui usia pensiun.
Kesehatan Jadi Fondasi Masa Pensiun
Selain faktor finansial, kesehatan turut menentukan kualitas pensiun. Sebanyak 58% responden yang kini lebih optimistis terhadap pensiun menyebut kondisi fisik yang lebih baik dari perkiraan sebagai alasan utama, disusul kesehatan mental (52%).
Sebaliknya, 22% responden yang berencana pensiun lebih awal menyebut penurunan kesehatan sebagai faktor utama.
Albertus menegaskan bahwa kesehatan adalah bentuk kekayaan nyata di masa pensiun. Perencanaan yang komprehensif—mencakup aspek finansial dan kesehatan—menjadi kunci untuk memastikan masa pensiun yang aman, mandiri, dan bermakna.
Secara demografis, Indonesia tengah memasuki era penuaan penduduk. Pada 2023, sekitar 30,9 juta jiwa atau 11,1% populasi berusia 60 tahun ke atas, dan jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 64,9 juta jiwa (20,5%) pada 2050. Perubahan ini, ditambah kebiasaan menunda perencanaan pensiun serta meningkatnya ketergantungan pada teknologi seperti generative AI untuk mengambil keputusan finansial, berpotensi memperlebar kesenjangan kesiapan pensiun.
Survei bertajuk “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” mengungkapkan 77% responden memperkirakan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun. Bagi sebagian orang, keputusan ini didorong keinginan menjaga rasa memiliki tujuan dan pemenuhan diri (48%), mempertahankan hubungan sosial (48%), serta stimulasi mental (36%). Namun di sisi lain, 71% responden mengaku tetap bekerja karena membutuhkan penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga keamanan finansial jangka panjang.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menyebut terdapat dua realitas berbeda dalam menghadapi masa pensiun. “Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama adalah pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Namun bagi yang lain, itu mencerminkan tekanan keuangan. Perencanaan pensiun sejak dini menjadi penentu realitas mana yang akan dijalani,” ujarnya.
Dua Realitas: Siap Secara Finansial vs Terpaksa Menunda
Riset ini mengelompokkan responden dalam dua kategori: Gold Star Planners dan Stalled Starters.
Gold Star Planners adalah mereka yang siap secara finansial dan memiliki keleluasaan menentukan kapan serta bagaimana mengurangi pekerjaan. Sebanyak 60% dari kelompok ini melihat bekerja lebih lama sebagai bagian dari tujuan hidup dan kesejahteraan. Bahkan 48% menyatakan menantikan masa pensiun dengan optimisme, didukung rasa aman secara finansial.
Sebaliknya, Stalled Starters adalah mereka yang menunda pensiun karena tidak mampu berhenti bekerja. Sekitar 20% dari kelompok ini merasa tidak pasti atau pesimistis menghadapi pensiun. Sebanyak 43% menunda pensiun demi menutup biaya pendidikan dan kebutuhan hidup anak.
Menariknya, 83% Gold Star Planners yang tetap bekerja melakukannya karena menikmati aspek sosial pekerjaan dan ingin tetap aktif secara fisik maupun mental—bukan karena tekanan finansial.
Lonjakan Penggunaan AI, Minat pada Nasihat Profesional Menurun
Survei juga mencatat peningkatan signifikan penggunaan generative AI dalam pengambilan keputusan finansial. Penggunaan alat seperti ChatGPT dan Google Gemini melonjak dari 13% menjadi 30%.
Di saat yang sama, minat berkonsultasi dengan bank menurun dari 40% menjadi 31%, dan konsultasi dengan penasihat keuangan independen turun dari 44% menjadi 31%. Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kenyamanan terhadap solusi digital, namun juga menyoroti risiko perencanaan mandiri tanpa pendampingan profesional.
Menurut Albertus, AI dapat menjadi titik awal pencarian informasi, tetapi belum tentu mampu memberikan konteks dan personalisasi yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan finansial jangka panjang. Karena itu, peran penasihat keuangan tetap krusial agar keputusan yang diambil akurat dan selaras dengan tujuan individu.
Keamanan Finansial Tentukan Optimisme
Keamanan finansial menjadi faktor utama optimisme terhadap pensiun. Di antara responden yang menantikan masa pensiun, 60% menyebut keamanan finansial sebagai alasan utama, disusul stabilitas (46%) dan rasa kendali terhadap transisi hidup (23%).
Sebaliknya, mereka yang cemas menghadapi pensiun khawatir tidak mampu mendukung keluarga (44%) serta menghadapi ketidakamanan finansial (37%).
Namun, banyak masyarakat Indonesia memiliki rentang perencanaan yang relatif pendek. Sebanyak 24% tidak memiliki rencana pensiun sama sekali, dan 34% baru mulai merencanakan dua tahun sebelum berhenti bekerja. Hanya 38% yang merasa sangat percaya diri dengan rencana pensiun mereka.
Tekanan juga datang dari fenomena “sandwich generation”, di mana individu harus menopang orang tua sekaligus anak. Kondisi ini membuat 40% responden menurunkan ekspektasi gaya hidup dan 23% menunda pensiun.
Meski demikian, 77% responden percaya pensiun seharusnya menjadi pilihan pribadi, bukan kewajiban berdasarkan batas usia tertentu. Bahkan 81% mendukung opsi bekerja melampaui usia pensiun.
Kesehatan Jadi Fondasi Masa Pensiun
Selain faktor finansial, kesehatan turut menentukan kualitas pensiun. Sebanyak 58% responden yang kini lebih optimistis terhadap pensiun menyebut kondisi fisik yang lebih baik dari perkiraan sebagai alasan utama, disusul kesehatan mental (52%).
Sebaliknya, 22% responden yang berencana pensiun lebih awal menyebut penurunan kesehatan sebagai faktor utama.
Albertus menegaskan bahwa kesehatan adalah bentuk kekayaan nyata di masa pensiun. Perencanaan yang komprehensif—mencakup aspek finansial dan kesehatan—menjadi kunci untuk memastikan masa pensiun yang aman, mandiri, dan bermakna.
(sra)