Menerawang Sejarah Jakarta dari House of Tugu di Kota Tua Jelang Usia Lima Abad
Kamis, 25 Juni 2026 - 20:16 WIB
Advertisement
JAKARTA – Di usia hampir lima abad, Jakarta masih menyimpan ruang-ruang bagi kita untuk menengok masa lalunya secara utuh. Jejaknya masih dapat disentuh, dilihat, bahkan dirasakan langsung di kawasan Kota Tua, tempat kota metropolitan ini memulai perjalanan panjangnya. Salah satunya berada di tepi Kali Besar, Kota Tua, kawasan yang dahulu menjadi jantung perdagangan Batavia.
Kanal tua itu masih mengalir tenang di tengah bangunan-bangunan kolonial yang bertahan melawan zaman. Sesekali kendaraan melintas di Jalan Kali Besar Barat. Sulit membayangkan kawasan ini pernah menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia. Namun jejak masa itu tetap hidup di House of Tugu Old Town Jakarta. Bahkan jejak tersebut mengantarkan properti ini masuk jajaran World's Greatest Places 2026 versi TIME Magazine sebagai satu-satunya wakil Indonesia.
Di tengah perayaan HUT ke-499 Jakarta, hotel butik ini menawarkan cara berbeda untuk lebih mengenal ibu kota. Bukan melalui gedung pencakar langit atau jalan-jalan modernnya, melainkan melalui artefak, kisah para saudagar, kapitan Tionghoa, bangsawan Jawa, hingga kanal-kanal yang pernah menjadi urat nadi Batavia ratusan tahun lalu. Tempat ini menghadirkan pengalaman menginap yang menyerupai perjalanan sejarah. Setiap sudut membawa pengunjung pada zaman berlainan. Karena itulah akhir pekan di sini terasa lebih seperti menelusuri museum hidup daripada sekadar staycation.
Bangunan lima lantai seluas sekitar 950 meter persegi itu tampak menyatu dengan karakter Kota Tua. Kami memasuki House of Tugu pada Sabtu selepas tengah hari. Di lobi, resepsionis melayani sejumlah tamu dari balik meja marmer panjang. Lampu gantung klasik menghiasi langit-langit. Banyak tamu berfoto ria di lobi itu. Alasannya sederhana, hampir seluruh sudut dipenuhi benda antik kolonial dan Peranakan yang sulit ditemukan di tempat lain.
"Kami mengangkat budaya Peranakan sebagai tema utama," ujar Indriana Amanda Ticoalu, Guest Relation Manager House of Tugu Old Town Jakarta, yang menyambut kami.
Amanda kemudian menyuguhkan minuman kunyit calamansi. Rasa asam dan manis berpadu menyegarkan tenggorokan setelah perjalanan. Minuman tersebut menggabungkan kunyit dan jeruk calamansi yang kaya vitamin C. Kombinasi keduanya dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Di atas baki tersaji handuk basah kecil berwarna putih yang hangat dan daun bertuliskan "Sugeng Rawuh" dengan nama tamu di bawahnya.
Hotel yang Lahir dari Ribuan Artefak
Amanda menjelaskan, Tugu Hotels & Restaurants menaungi lima properti hotel. Lokasinya berada di Malang, Blitar, Canggu Bali, Lombok, dan Jakarta yang memiliki 25 suite. Grup ini juga mengelola sejumlah restoran ternama yang tersebar di kawasan Menteng, Jakarta, yakni Dapur Babah Élite, Lara Djonggrang, Kawisari Cafe & Eatery, Tugu Kunstkring Paleis, serta Shanghai Blue 1920. "Kami juga punya Perkebunan Kawisari di Blitar," kata Amanda.
Perkebunan tersebut berdiri sejak 1870. Luasnya mencapai sekitar 850 hingga 900 hektare. Lokasinya berada di lereng Gunung Kelud dan Gunung Kawi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kopi dari perkebunan itulah yang kemudian disajikan di berbagai properti grup ini.
Kisah Tugu Group berawal sejak 1970-an Ketika pemiliknya, Anhar Setjadibrata, mulai mengumpulkan benda-benda antik. Saat banyak orang menganggap artefak lama tidak bernilai, ia justru menyelamatkannya. Bersama istrinya, Wedya Julianti, koleksi itu berkembang menjadi fondasi konsep hotel butik berbasis museum. Hasilnya kini terlihat di hampir seluruh sudut bangunan.
Riverside Suite dan Jendela Menuju Batavia Lama
Kamar kami berada di lantai empat. Tipenya adalah Riverside Suite. Ini merupakan satu dari tiga Riverside Suite yang tersedia di House of Tugu. Koridor pada setiap tingkat memiliki karakter berbeda. ”Di sini tidak ada lantai yang didesain sama,” ungkap Amanda saat mengantar kami menuju kamar.
Tarif Riverside Suite mencapai Rp16 juta per malam. Pintunya menggunakan smart door lock berbasis kata sandi. Begitu masuk, sebuah meja panjang menyambut di seberang pintu. Di atasnya terdapat kartu pos bergambar lukisan pohon kopi karya C. Perieri tahun 1941. Kartu itu dilengkapi prangko Presiden Soekarno serta pesan selamat datang yang sangat personal.
Dinding hijau mendominasi ruangan. Plafon putih dihiasi ukiran klasik. Luas kamar mencapai 86 meter persegi. Sebuah lemari kayu jati hitam berdiri dekat kamar mandi. Di dalamnya tersedia bathrobe dan sandal batik bermotif senada, brankas, serta laundry bag. Sementara itu, kamar mandi yang berdinding marmer dilengkapi bangku khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas.
Bagian paling menarik berada di balkon pribadi. Dua kursi empuk menghadap Kali Besar dan kawasan Kota Tua. Dari balik rimbun dedaunan terlihat kanal bersejarah yang dahulu menjadi nadi perdagangan Batavia. Pada masa lampau, kapal-kapal kecil membawa komoditas menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa bangunan kolonial masih berdiri di seberang jalan. "Dulu kanal ini jauh lebih lebar dan airnya bersih," ujar Amanda.
Kini sebagian bangunan kolonial itu menjadi kantor Jasa Raharja. Sebagian lain berubah fungsi menjadi toko cendera mata dan bangunan komersial. Namun bentuk arsitekturnya masih mengingatkan pada masa kejayaan Batavia.
Kamar dengan ranjang super king ini dilengkapi televisi 85 inci, tablet digital untuk berkomunikasi dengan resepsionis selama 24 jam, serta menu layanan kamar yang bisa diakses langsung. Penunjuk kiblat tersimpan di laci. Fasilitas ini menunjukkan hotel ini ramah Muslim.
Meja di living room area berhiaskan towel art berbentuk kelinci, gajah, dan burung. Buah jeruk, jambu, serta salak disiapkan sebagai pelengkap. Kopi spesial Kawisari dan aneka teh tersedia di meja.
Rahasia Forbidden House of Batavia
Usai salat Asar, perjalanan sejarah dimulai dari lobi. Berbagai artefak di area ini menceritakan kehidupan Kali Besar berabad-abad lalu. Salah satu yang paling menarik adalah plang kuno dari kayu bertuliskan Hoofdkantoor Bataviase Kong Koan De Groote Rivier West Batavia. "Itu kantor pusat Dewan Tionghoa Batavia," jelas Amanda. Ukiran Jawa dan Tionghoa menghiasi bagian bawah papan nama.
Plang tersebut berasal dari kawasan Jalan Tiang Bendera. Lokasinya hanya sekitar sepuluh menit dari hotel. Bangunan aslinya kini sudah tidak ada. Namun artefaknya menjadi pengingat hubungan erat komunitas Tionghoa dan perdagangan Batavia.
Tak jauh dari sana terdapat kisah Forbidden House of Batavia. Amanda menjelaskan, rumah tersebut dibangun imigran dari China, Wang Hao Kwa, pada awal 1600-an. Luas lahannya mencapai lima hektare atau sekitar 50.000 meter persegi. Kawasan itu sangat eksklusif sehingga hanya tamu tertentu yang boleh masuk. "Pemilik rumah ini terkenal sangat tertutup," ujarnya.
Di berbagai sudut rumah terpasang tulisan Forbidden House. Wang Hao Kwa hanya mengizinkan tamu tertentu melewati gerbang Tian An Men miliknya. Bahkan kakek buyut Anhar Setjadibrata, Oei Tjie Sien, pernah ditolak masuk. Penolakan itu kemudian melahirkan tekad untuk membeli kawasan tersebut ketika berhasil menjadi orang kaya.
Seiring waktu, area itu berpindah tangan beberapa kali dan akhirnya berbentuk blok-blok. Pernah menjadi kandang harimau. Pernah pula menjadi kantor dan gudang palawija milik perusahaan Wellenstein. Kawasan tersebut juga sempat menjadi pasar malam barang-barang antik yang digemari kalangan elite Peranakan dan Belanda. Singkat cerita, Oei Tjie Sien berhasil membeli sebagian area di sana sekitar 5.000 meter persegi yang kemudian diwariskan kepada putranya, Oei Tiong Ham yang lahir pada 1866. Di lahan itulah kini berdiri House of Tugu.
Di samping meja resepsionis, ada Kapitan Hall yang didedikasikan untuk mengenang Nie Hoe Kong, pemimpin komunitas Tionghoa Batavia. Ruangan ini menyimpan artefak, termasuk suvenir berbentuk gong kayu bertuliskan tahun 1740, yang merujuk pada tragedi Geger Pecinan.
Ruang-Ruang Tematik Sarat Sejarah
Perjalanan kami berlanjut menuju Kasinem Room di belakang lobi hotel. Ruangan ini didedikasikan untuk Raden Ajeng Kasinem (1857-1935), istri Oei Tiong Ham yang berhasil menjadi saudagar gula terbesar se-Asia Tenggara. Foto, lukisan, dan dokumen keluarga memenuhi dinding. Tiga sofa antik berukuran besar dengan motif sama tersusun membentuk huruf U. Sebuah lukisan memperlihatkan Oei Tiong Ham berdampingan dengan Kasinem. "Mereka menikah saat letusan Krakatau 1883," ujar Amanda.
Lorong penghubung dipenuhi potret perempuan Peranakan. Wajah-wajah itu mengenakan busana khas yang pernah menjadi simbol status sosial pada masanya. Tidak jauh dari sana terdapat Raden Saleh Room. Ruangan berkapasitas 12 hingga 16 orang tersebut menyimpan silsilah keluarga pelukis besar Indonesia itu.
Raden Saleh merupakan paman Kasinem. Di ruangan ini tersimpan pula peninggalan Pangeran Diponegoro. Salah satunya koper dari kulit kayu yang digunakan selama masa pengasingan di Ujung Pandang pada 1834. Sepasang tombak pemikul koper itu juga tersimpan di lokasi yang sama.
Selain itu terdapat tombak naga air dengan ujung menyerupai kelopak bunga. Ada pula tombak berbentuk cakra yang konon tidak ikut terbawa ketika Diponegoro diasingkan ke Manado. Semua koleksi dibersihkan setiap hari untuk menjaga kondisinya.
Salah satu artefak paling mengesankan adalah Prau Macan. "Perahu kuno ini digunakan saat pembukaan kanal dari Sungai Ciliwung ke Kali Macan pada pertengahan abad ke-17," kata Amanda. Perahu berukuran sekitar lima kali empat meter itu ditempatkan di ruang khusus berdinding kaca. Warnanya hijau dengan kombinasi kayu, keramik, dan besi.
Perahu tersebut terkait Kapitan Tionghoa Phoa Beng Gam yang menjabat antara 1645 hingga 1663. Ia dikenal berperan penting dalam pembangunan infrastruktur dan pengendalian banjir Batavia. Pada badan perahu masih terlihat tulisan Tigersgracht Kali Matjan 1648 dan De Groote Rivier. Bagian tengahnya cukup menampung sekitar lima penumpang. Di atas dek penumpang terdapat ornamen patung macan memanjang yang menjadi ciri khasnya. (bersambung) *
Foto-foto: IMG/Armydian Kurniawan
Kanal tua itu masih mengalir tenang di tengah bangunan-bangunan kolonial yang bertahan melawan zaman. Sesekali kendaraan melintas di Jalan Kali Besar Barat. Sulit membayangkan kawasan ini pernah menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia. Namun jejak masa itu tetap hidup di House of Tugu Old Town Jakarta. Bahkan jejak tersebut mengantarkan properti ini masuk jajaran World's Greatest Places 2026 versi TIME Magazine sebagai satu-satunya wakil Indonesia.
Di tengah perayaan HUT ke-499 Jakarta, hotel butik ini menawarkan cara berbeda untuk lebih mengenal ibu kota. Bukan melalui gedung pencakar langit atau jalan-jalan modernnya, melainkan melalui artefak, kisah para saudagar, kapitan Tionghoa, bangsawan Jawa, hingga kanal-kanal yang pernah menjadi urat nadi Batavia ratusan tahun lalu. Tempat ini menghadirkan pengalaman menginap yang menyerupai perjalanan sejarah. Setiap sudut membawa pengunjung pada zaman berlainan. Karena itulah akhir pekan di sini terasa lebih seperti menelusuri museum hidup daripada sekadar staycation.
Bangunan lima lantai seluas sekitar 950 meter persegi itu tampak menyatu dengan karakter Kota Tua. Kami memasuki House of Tugu pada Sabtu selepas tengah hari. Di lobi, resepsionis melayani sejumlah tamu dari balik meja marmer panjang. Lampu gantung klasik menghiasi langit-langit. Banyak tamu berfoto ria di lobi itu. Alasannya sederhana, hampir seluruh sudut dipenuhi benda antik kolonial dan Peranakan yang sulit ditemukan di tempat lain.
"Kami mengangkat budaya Peranakan sebagai tema utama," ujar Indriana Amanda Ticoalu, Guest Relation Manager House of Tugu Old Town Jakarta, yang menyambut kami.
Amanda kemudian menyuguhkan minuman kunyit calamansi. Rasa asam dan manis berpadu menyegarkan tenggorokan setelah perjalanan. Minuman tersebut menggabungkan kunyit dan jeruk calamansi yang kaya vitamin C. Kombinasi keduanya dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Di atas baki tersaji handuk basah kecil berwarna putih yang hangat dan daun bertuliskan "Sugeng Rawuh" dengan nama tamu di bawahnya.
Hotel yang Lahir dari Ribuan Artefak
Amanda menjelaskan, Tugu Hotels & Restaurants menaungi lima properti hotel. Lokasinya berada di Malang, Blitar, Canggu Bali, Lombok, dan Jakarta yang memiliki 25 suite. Grup ini juga mengelola sejumlah restoran ternama yang tersebar di kawasan Menteng, Jakarta, yakni Dapur Babah Élite, Lara Djonggrang, Kawisari Cafe & Eatery, Tugu Kunstkring Paleis, serta Shanghai Blue 1920. "Kami juga punya Perkebunan Kawisari di Blitar," kata Amanda.
Perkebunan tersebut berdiri sejak 1870. Luasnya mencapai sekitar 850 hingga 900 hektare. Lokasinya berada di lereng Gunung Kelud dan Gunung Kawi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kopi dari perkebunan itulah yang kemudian disajikan di berbagai properti grup ini.
Kisah Tugu Group berawal sejak 1970-an Ketika pemiliknya, Anhar Setjadibrata, mulai mengumpulkan benda-benda antik. Saat banyak orang menganggap artefak lama tidak bernilai, ia justru menyelamatkannya. Bersama istrinya, Wedya Julianti, koleksi itu berkembang menjadi fondasi konsep hotel butik berbasis museum. Hasilnya kini terlihat di hampir seluruh sudut bangunan.
Riverside Suite dan Jendela Menuju Batavia Lama
Kamar kami berada di lantai empat. Tipenya adalah Riverside Suite. Ini merupakan satu dari tiga Riverside Suite yang tersedia di House of Tugu. Koridor pada setiap tingkat memiliki karakter berbeda. ”Di sini tidak ada lantai yang didesain sama,” ungkap Amanda saat mengantar kami menuju kamar.
Tarif Riverside Suite mencapai Rp16 juta per malam. Pintunya menggunakan smart door lock berbasis kata sandi. Begitu masuk, sebuah meja panjang menyambut di seberang pintu. Di atasnya terdapat kartu pos bergambar lukisan pohon kopi karya C. Perieri tahun 1941. Kartu itu dilengkapi prangko Presiden Soekarno serta pesan selamat datang yang sangat personal.
Dinding hijau mendominasi ruangan. Plafon putih dihiasi ukiran klasik. Luas kamar mencapai 86 meter persegi. Sebuah lemari kayu jati hitam berdiri dekat kamar mandi. Di dalamnya tersedia bathrobe dan sandal batik bermotif senada, brankas, serta laundry bag. Sementara itu, kamar mandi yang berdinding marmer dilengkapi bangku khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas.
Bagian paling menarik berada di balkon pribadi. Dua kursi empuk menghadap Kali Besar dan kawasan Kota Tua. Dari balik rimbun dedaunan terlihat kanal bersejarah yang dahulu menjadi nadi perdagangan Batavia. Pada masa lampau, kapal-kapal kecil membawa komoditas menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa bangunan kolonial masih berdiri di seberang jalan. "Dulu kanal ini jauh lebih lebar dan airnya bersih," ujar Amanda.
Kini sebagian bangunan kolonial itu menjadi kantor Jasa Raharja. Sebagian lain berubah fungsi menjadi toko cendera mata dan bangunan komersial. Namun bentuk arsitekturnya masih mengingatkan pada masa kejayaan Batavia.
Kamar dengan ranjang super king ini dilengkapi televisi 85 inci, tablet digital untuk berkomunikasi dengan resepsionis selama 24 jam, serta menu layanan kamar yang bisa diakses langsung. Penunjuk kiblat tersimpan di laci. Fasilitas ini menunjukkan hotel ini ramah Muslim.
Meja di living room area berhiaskan towel art berbentuk kelinci, gajah, dan burung. Buah jeruk, jambu, serta salak disiapkan sebagai pelengkap. Kopi spesial Kawisari dan aneka teh tersedia di meja.
Rahasia Forbidden House of Batavia
Usai salat Asar, perjalanan sejarah dimulai dari lobi. Berbagai artefak di area ini menceritakan kehidupan Kali Besar berabad-abad lalu. Salah satu yang paling menarik adalah plang kuno dari kayu bertuliskan Hoofdkantoor Bataviase Kong Koan De Groote Rivier West Batavia. "Itu kantor pusat Dewan Tionghoa Batavia," jelas Amanda. Ukiran Jawa dan Tionghoa menghiasi bagian bawah papan nama.
Plang tersebut berasal dari kawasan Jalan Tiang Bendera. Lokasinya hanya sekitar sepuluh menit dari hotel. Bangunan aslinya kini sudah tidak ada. Namun artefaknya menjadi pengingat hubungan erat komunitas Tionghoa dan perdagangan Batavia.
Tak jauh dari sana terdapat kisah Forbidden House of Batavia. Amanda menjelaskan, rumah tersebut dibangun imigran dari China, Wang Hao Kwa, pada awal 1600-an. Luas lahannya mencapai lima hektare atau sekitar 50.000 meter persegi. Kawasan itu sangat eksklusif sehingga hanya tamu tertentu yang boleh masuk. "Pemilik rumah ini terkenal sangat tertutup," ujarnya.
Di berbagai sudut rumah terpasang tulisan Forbidden House. Wang Hao Kwa hanya mengizinkan tamu tertentu melewati gerbang Tian An Men miliknya. Bahkan kakek buyut Anhar Setjadibrata, Oei Tjie Sien, pernah ditolak masuk. Penolakan itu kemudian melahirkan tekad untuk membeli kawasan tersebut ketika berhasil menjadi orang kaya.
Seiring waktu, area itu berpindah tangan beberapa kali dan akhirnya berbentuk blok-blok. Pernah menjadi kandang harimau. Pernah pula menjadi kantor dan gudang palawija milik perusahaan Wellenstein. Kawasan tersebut juga sempat menjadi pasar malam barang-barang antik yang digemari kalangan elite Peranakan dan Belanda. Singkat cerita, Oei Tjie Sien berhasil membeli sebagian area di sana sekitar 5.000 meter persegi yang kemudian diwariskan kepada putranya, Oei Tiong Ham yang lahir pada 1866. Di lahan itulah kini berdiri House of Tugu.
Di samping meja resepsionis, ada Kapitan Hall yang didedikasikan untuk mengenang Nie Hoe Kong, pemimpin komunitas Tionghoa Batavia. Ruangan ini menyimpan artefak, termasuk suvenir berbentuk gong kayu bertuliskan tahun 1740, yang merujuk pada tragedi Geger Pecinan.
Ruang-Ruang Tematik Sarat Sejarah
Perjalanan kami berlanjut menuju Kasinem Room di belakang lobi hotel. Ruangan ini didedikasikan untuk Raden Ajeng Kasinem (1857-1935), istri Oei Tiong Ham yang berhasil menjadi saudagar gula terbesar se-Asia Tenggara. Foto, lukisan, dan dokumen keluarga memenuhi dinding. Tiga sofa antik berukuran besar dengan motif sama tersusun membentuk huruf U. Sebuah lukisan memperlihatkan Oei Tiong Ham berdampingan dengan Kasinem. "Mereka menikah saat letusan Krakatau 1883," ujar Amanda.
Lorong penghubung dipenuhi potret perempuan Peranakan. Wajah-wajah itu mengenakan busana khas yang pernah menjadi simbol status sosial pada masanya. Tidak jauh dari sana terdapat Raden Saleh Room. Ruangan berkapasitas 12 hingga 16 orang tersebut menyimpan silsilah keluarga pelukis besar Indonesia itu.
Raden Saleh merupakan paman Kasinem. Di ruangan ini tersimpan pula peninggalan Pangeran Diponegoro. Salah satunya koper dari kulit kayu yang digunakan selama masa pengasingan di Ujung Pandang pada 1834. Sepasang tombak pemikul koper itu juga tersimpan di lokasi yang sama.
Selain itu terdapat tombak naga air dengan ujung menyerupai kelopak bunga. Ada pula tombak berbentuk cakra yang konon tidak ikut terbawa ketika Diponegoro diasingkan ke Manado. Semua koleksi dibersihkan setiap hari untuk menjaga kondisinya.
Salah satu artefak paling mengesankan adalah Prau Macan. "Perahu kuno ini digunakan saat pembukaan kanal dari Sungai Ciliwung ke Kali Macan pada pertengahan abad ke-17," kata Amanda. Perahu berukuran sekitar lima kali empat meter itu ditempatkan di ruang khusus berdinding kaca. Warnanya hijau dengan kombinasi kayu, keramik, dan besi.
Perahu tersebut terkait Kapitan Tionghoa Phoa Beng Gam yang menjabat antara 1645 hingga 1663. Ia dikenal berperan penting dalam pembangunan infrastruktur dan pengendalian banjir Batavia. Pada badan perahu masih terlihat tulisan Tigersgracht Kali Matjan 1648 dan De Groote Rivier. Bagian tengahnya cukup menampung sekitar lima penumpang. Di atas dek penumpang terdapat ornamen patung macan memanjang yang menjadi ciri khasnya. (bersambung) *
Foto-foto: IMG/Armydian Kurniawan
(sra)