Drone Indonesia VS Drone AS, Mana yang Lebih Canggih?
Rabu, 08 Januari 2020 - 18:00 WIB
A
A
A
Amerika Serikat (AS) telah berhasil menghabisi pemimpin pasukan elite Iran, Qassem Soleimani. Pembunuhan Soleimani diketahui menggunakan pesawat tanpa awak (drone) andalan mereka, yakni MQ-9 Reaper . Soleimani tewas dirudal oleh drone tersebut, tidak lama setelah meninggalkan bandara Baghdad, Irak Jumat pekan lalu.
------------------------------------------------------------
BACA JUGA :
TERKAMAN SI ELANG HITAM, BUKTI INDONESIA BISA MANDIRI
ELANG HITAM, PESAWAT DRONE PERTAMA BUATAN ANAK BANGSA
------------------------------------------------------------
MQ-9 Reaper adalah drone yang diproduksi General Atomics Aeronautical Systems. Drone ini diketahui memiliki harga hampir Rp200 miliar per unitnya. Menjadi andalan Angkatan Udara AS dalam satu dekade terakhir, MQ-9 Reaper memiliki jarak terbang yang lebih jauh dan lama, jangkauan sensor yang lebih luas, rangkaian komunikasi multi-mode, dan senjata presisi.
Dari dalam negeri, PT Dirgantara Indonesia (DI) bersama anggota konsorsium lainnya memproduksi pesawat tanpa awak (drone) Black Eagle atau Elang Hitam , membuktikan bahwa sumber daya lokal mampu bersaing untuk membuat produk berteknologi tinggi. Ke depan industri semacam ini harus didukung agar mendapatkan pasar lebih luas sehingga mencapai tingkat keekonomian secara komersial. Lalu, apa perbedaannya dengan drone milik AS yaitu MQ-9 Reaper ? Simak perbedaannya pada infografis.
------------------------------------------------------------
BACA JUGA :
TERKAMAN SI ELANG HITAM, BUKTI INDONESIA BISA MANDIRI
ELANG HITAM, PESAWAT DRONE PERTAMA BUATAN ANAK BANGSA
------------------------------------------------------------
MQ-9 Reaper adalah drone yang diproduksi General Atomics Aeronautical Systems. Drone ini diketahui memiliki harga hampir Rp200 miliar per unitnya. Menjadi andalan Angkatan Udara AS dalam satu dekade terakhir, MQ-9 Reaper memiliki jarak terbang yang lebih jauh dan lama, jangkauan sensor yang lebih luas, rangkaian komunikasi multi-mode, dan senjata presisi.
Dari dalam negeri, PT Dirgantara Indonesia (DI) bersama anggota konsorsium lainnya memproduksi pesawat tanpa awak (drone) Black Eagle atau Elang Hitam , membuktikan bahwa sumber daya lokal mampu bersaing untuk membuat produk berteknologi tinggi. Ke depan industri semacam ini harus didukung agar mendapatkan pasar lebih luas sehingga mencapai tingkat keekonomian secara komersial. Lalu, apa perbedaannya dengan drone milik AS yaitu MQ-9 Reaper ? Simak perbedaannya pada infografis.
(dvd)