Penelitian TikTok Antar Dosen Raih Gelar Doktor
Selasa, 17 Juni 2025 - 14:59 WIB
A
A
A
Vinsensia Anisa Citta Erydani SPd MPd, Dosen Universitas BPD sukses menyandang gelar doktor pada Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Pengukuhan gelar doktor (S3) berlangsung di Ruang Bundar Dekanat FBS Unnes Sekaran Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (17/6/2025). Sebelumnya,Citta telah menjalani uji disertasi hasil penelitian terkait pemanfaatan aplikasi TikTok sebagai media pembelajaran bahasa Inggris.
Melalui disertasinya, Citta telah membuktikan bahwa platform yang populer di kalangan milenial atau Gen Z (GenZi) ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan. Namun juga efektif mendukung kemampuan berbicara (speaking) mahasiswa. Menurutnya, ide penelitian ini muncul dari pengamatannya terhadap kebiasaan generasi muda yang sangat dekat dengan berbagai platform digital, terutama TikTok. Aplikasi yang biasa digunakan untuk hiburan ini dinilai memiliki potensi besar. Terlebih jika dimanfaatkan dengan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran bahasa Inggris, khususnya untuk melatih kemampuan berbicara mahasiswa. “Biasanya, anak-anak muda hanya menggunakan TikTok untuk hiburan," ujarnya. Sehingga dia merasa perlu menghadirkan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini juga menjadi jawaban atas tantangan pembelajaran daring pascapandemi.
Dosen bidang Pendidikan Bahasa Inggris itu berharap hasil penelitiannya berdampak positif dan bisa menginspirasi para pengajar maupun peneliti lainnya untuk semakin kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pendidikan. “Saya berharap hasil penelitian ini semoga bisa menginspirasi generasi muda atau menginspirasi peneliti lain untuk melakukan penelitian dengan hal yang lebih kreatif dan inovatif,” harapnya.
FOTO: Ahmad Antoni
Melalui disertasinya, Citta telah membuktikan bahwa platform yang populer di kalangan milenial atau Gen Z (GenZi) ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan. Namun juga efektif mendukung kemampuan berbicara (speaking) mahasiswa. Menurutnya, ide penelitian ini muncul dari pengamatannya terhadap kebiasaan generasi muda yang sangat dekat dengan berbagai platform digital, terutama TikTok. Aplikasi yang biasa digunakan untuk hiburan ini dinilai memiliki potensi besar. Terlebih jika dimanfaatkan dengan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran bahasa Inggris, khususnya untuk melatih kemampuan berbicara mahasiswa. “Biasanya, anak-anak muda hanya menggunakan TikTok untuk hiburan," ujarnya. Sehingga dia merasa perlu menghadirkan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini juga menjadi jawaban atas tantangan pembelajaran daring pascapandemi.
Dosen bidang Pendidikan Bahasa Inggris itu berharap hasil penelitiannya berdampak positif dan bisa menginspirasi para pengajar maupun peneliti lainnya untuk semakin kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pendidikan. “Saya berharap hasil penelitian ini semoga bisa menginspirasi generasi muda atau menginspirasi peneliti lain untuk melakukan penelitian dengan hal yang lebih kreatif dan inovatif,” harapnya.
FOTO: Ahmad Antoni
(sra)