Arsjad Rasjid : Masjid Harus Jadi Pusat Pertumbuhan dan Martabat Umat
Rabu, 29 Oktober 2025 - 11:48 WIB
A
A
A
Jakarta - Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi Dewan Masjid Indonesia (DMI), Arsjad Rasjid menegaskan bahwa masjid memiliki peran strategis dalam membangun ekonomi umat dan memperkuat fondasi kemanusiaan.
Berbicara di Community of Sant’Egidio International Peace Forum bertema “Daring for Peace” di Roma, Arsjad menyampaikan bahwa masjid harus dipandang bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat.
“Masjid bukan hanya tempat berdoa tapi rumah produktivitas. Tempat dimana iman diterjemahkan menjadi karya dan kesejahteraan,” ujar Arsjad dalam pidatonya yang bertemakan “A More Human Economy.”
Arsjad memaparkan inisiatif Rumah Wirausaha Masjid yang dikembangkan DMI untuk menjadikan masjid sebagai pusat pelatihan kewirausahaan, keterampilan digital dan penguatan UMKM, terutama bagi perempuan dan generasi muda.
“Ketika orang menemukan martabat dan tujuan dalam pekerjaannya, mereka juga menemukan kedamaian dan harapan dalam hidupnya,” jelas Arsjad.
Menurut Arsjad, inisiatif berbasis masjid ini adalah bentuk nyata dari human economy, ekonomi yang tumbuh dari nilai spiritual, gotong royong dan empati sosial. Arsjad menyebut bahwa ditengah 800 ribu masjid yang tersebar diseluruh Indonesia, terdapat potensi besar untuk membangun ekosistem ekonomi yang adil dan inklusif.
“Melalui ekonomi umat, kita bisa menciptakan kesejahteraan yang berakar dari nilai iman dan kebersamaan,” tegasnya.
Arsjad menambahkan, keberhasilan model ini sejalan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila Economy yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan dan keadilan sosial.
Seperti diketahui sebelumnya Forum Sant’Egidio di Roma dihadiri oleh Presiden Italia Sergio Mattarella, Grand Imam Al-Azhar Ahmed Al-Tayyeb, Her Majesty Queen of the Belgians serta Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar. Melalui forum tersebut, Arsjad membawa pesan dari Indonesia bahwa masjid dapat menjadi lokomotif ekonomi umat dan pilar perdamaian sosial dunia.
Berbicara di Community of Sant’Egidio International Peace Forum bertema “Daring for Peace” di Roma, Arsjad menyampaikan bahwa masjid harus dipandang bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat.
“Masjid bukan hanya tempat berdoa tapi rumah produktivitas. Tempat dimana iman diterjemahkan menjadi karya dan kesejahteraan,” ujar Arsjad dalam pidatonya yang bertemakan “A More Human Economy.”
Arsjad memaparkan inisiatif Rumah Wirausaha Masjid yang dikembangkan DMI untuk menjadikan masjid sebagai pusat pelatihan kewirausahaan, keterampilan digital dan penguatan UMKM, terutama bagi perempuan dan generasi muda.
“Ketika orang menemukan martabat dan tujuan dalam pekerjaannya, mereka juga menemukan kedamaian dan harapan dalam hidupnya,” jelas Arsjad.
Menurut Arsjad, inisiatif berbasis masjid ini adalah bentuk nyata dari human economy, ekonomi yang tumbuh dari nilai spiritual, gotong royong dan empati sosial. Arsjad menyebut bahwa ditengah 800 ribu masjid yang tersebar diseluruh Indonesia, terdapat potensi besar untuk membangun ekosistem ekonomi yang adil dan inklusif.
“Melalui ekonomi umat, kita bisa menciptakan kesejahteraan yang berakar dari nilai iman dan kebersamaan,” tegasnya.
Arsjad menambahkan, keberhasilan model ini sejalan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila Economy yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan dan keadilan sosial.
Seperti diketahui sebelumnya Forum Sant’Egidio di Roma dihadiri oleh Presiden Italia Sergio Mattarella, Grand Imam Al-Azhar Ahmed Al-Tayyeb, Her Majesty Queen of the Belgians serta Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar. Melalui forum tersebut, Arsjad membawa pesan dari Indonesia bahwa masjid dapat menjadi lokomotif ekonomi umat dan pilar perdamaian sosial dunia.
(sra)