Kampanye Ayo Cegah Stunting di Sumatra Barat dan Nusa Tenggara Barat
Kamis, 25 Desember 2025 - 07:42 WIB
A
A
A
Padang Pariaman, 25 Desember 2025 – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA menggelar kampanye “Ayo Cegah Stunting” (ACS) di Nagari Guguak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, Rabu (17/12).
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Bakti BCA dalam memperkuat upaya pencegahan stunting berbasis masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku gizi dan kesehatan yang berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas.
Program ACS telah dijalankan sejak 2024 melalui tahapan pemetaan kondisi dan potensi wilayah sebagai dasar perancangan intervensi berbasis masyarakat. Program ini kemudian difokuskan pada penguatan fondasi melalui peningkatan kapasitas masyarakat, keterlibatan local champion, serta berbagai kegiatan edukasi yang mendorong perubahan perilaku gizi dan kesehatan.
Memasuki 2025, ACS dilanjutkan dengan penguatan yang lebih komprehensif, meliputi peningkatan kapasitas kader, pemanfaatan sistem digital untuk mendukung pemantauan program, serta penguatan peran remaja sebagai agen penyebaran pesan positif terkait gizi dan kesehatan. Selain di Nagari Guguak, kampanye ACS juga dilaksanakan di Desa Taman Indah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan pencegahan stunting merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan perubahan perilaku gizi dan kesehatan di tingkat keluarga dan komunitas. Melalui program ACS, Bakti BCA berfokus pada penguatan kapasitas dan kemandirian masyarakat, mulai dari masa kehamilan hingga anak memasuki usia remaja. “Kami berharap upaya ini dapat membangkitkan kesadaran dan menciptakan perubahan perilaku masyarakat dalam pencegahan stunting secara holistik,” ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan di Nagari Guguak, Bakti BCA juga meluncurkan dashboard monitoring program Ayo Cegah Stunting. Sistem digital ini memungkinkan kader posyandu dan tenaga kesehatan mencatat, memantau, serta menganalisis pertumbuhan anak secara lebih cepat dan akurat. Dengan fitur visualisasi data yang sederhana, dashboard tersebut membantu mendeteksi risiko stunting sejak dini sekaligus memberikan gambaran kondisi gizi di tingkat desa.
Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah agar intervensi dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
Selain penguatan sistem pemantauan, Bakti BCA menyalurkan dua unit alat fetal monitor kepada Puskesmas Kayu Tanam di Nagari Guguak, Padang Pariaman, Sumatra Barat, serta Puskesmas Pringgarata di Desa Taman Indah, Lombok Tengah, NTB. Penyaluran ini merupakan bentuk dukungan dalam memperkuat pemantauan kesehatan ibu hamil, sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan kondisi janin secara lebih optimal dan mendukung deteksi dini potensi risiko kehamilan.
Kampanye ACS juga diisi dengan ajakan minum tablet tambah darah serta pemberian apresiasi dan sertifikat kepada pihak-pihak yang terlibat aktif, mulai dari local champion, kader posyandu, hingga peserta Sekolah Lapangan Isi Piringku dalam Pekaranganku dan Sekolah Lapangan Remaja. Para peserta Sekolah Lapangan Remaja turut dikukuhkan sebagai Duta Stunting Remaja sebagai bentuk penguatan peran generasi muda dalam menyebarkan pesan positif terkait gizi, kesehatan, pencegahan stunting, dan pola hidup sehat di lingkungan sekitar.
Sebagai bagian dari kegiatan, peserta program juga menampilkan berbagai praktik baik hasil implementasi di lapangan. Showcase tersebut mencakup hasil demplot pangan dari pemanfaatan lahan pekarangan, seperti terong, pepaya, tomat, cabai, dan seledri, serta sajian menu sehat sesuai standar gizi seimbang bagi balita, ibu hamil, dan remaja. Melalui kegiatan ini, masyarakat berbagi pengalaman dan pembelajaran mengenai upaya pencegahan stunting yang kontekstual dan sesuai dengan potensi lokal.
“Program ACS berfokus pada penguatan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Dengan demikian, ACS menjadi pelengkap intervensi pemerintah agar perubahan perilaku gizi dan kesehatan dapat berjalan secara berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas,” kata Hera.
Hingga 10 November 2025, sebanyak 1.050 keluarga dan 97 ibu hamil telah mendapatkan pendampingan gizi melalui program ACS. Selain itu, sebanyak 1.221 remaja telah teredukasi mengenai pencegahan stunting, 44 kader ACS memperoleh penguatan kapasitas, dua posyandu menjadi percontohan, satu aplikasi pemantauan diluncurkan, serta 23.815 bibit tanaman dibagikan guna memperkuat ketahanan pangan dan gizi keluarga.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Bakti BCA dalam memperkuat upaya pencegahan stunting berbasis masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku gizi dan kesehatan yang berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas.
Program ACS telah dijalankan sejak 2024 melalui tahapan pemetaan kondisi dan potensi wilayah sebagai dasar perancangan intervensi berbasis masyarakat. Program ini kemudian difokuskan pada penguatan fondasi melalui peningkatan kapasitas masyarakat, keterlibatan local champion, serta berbagai kegiatan edukasi yang mendorong perubahan perilaku gizi dan kesehatan.
Memasuki 2025, ACS dilanjutkan dengan penguatan yang lebih komprehensif, meliputi peningkatan kapasitas kader, pemanfaatan sistem digital untuk mendukung pemantauan program, serta penguatan peran remaja sebagai agen penyebaran pesan positif terkait gizi dan kesehatan. Selain di Nagari Guguak, kampanye ACS juga dilaksanakan di Desa Taman Indah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan pencegahan stunting merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan perubahan perilaku gizi dan kesehatan di tingkat keluarga dan komunitas. Melalui program ACS, Bakti BCA berfokus pada penguatan kapasitas dan kemandirian masyarakat, mulai dari masa kehamilan hingga anak memasuki usia remaja. “Kami berharap upaya ini dapat membangkitkan kesadaran dan menciptakan perubahan perilaku masyarakat dalam pencegahan stunting secara holistik,” ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan di Nagari Guguak, Bakti BCA juga meluncurkan dashboard monitoring program Ayo Cegah Stunting. Sistem digital ini memungkinkan kader posyandu dan tenaga kesehatan mencatat, memantau, serta menganalisis pertumbuhan anak secara lebih cepat dan akurat. Dengan fitur visualisasi data yang sederhana, dashboard tersebut membantu mendeteksi risiko stunting sejak dini sekaligus memberikan gambaran kondisi gizi di tingkat desa.
Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah agar intervensi dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
Selain penguatan sistem pemantauan, Bakti BCA menyalurkan dua unit alat fetal monitor kepada Puskesmas Kayu Tanam di Nagari Guguak, Padang Pariaman, Sumatra Barat, serta Puskesmas Pringgarata di Desa Taman Indah, Lombok Tengah, NTB. Penyaluran ini merupakan bentuk dukungan dalam memperkuat pemantauan kesehatan ibu hamil, sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan kondisi janin secara lebih optimal dan mendukung deteksi dini potensi risiko kehamilan.
Kampanye ACS juga diisi dengan ajakan minum tablet tambah darah serta pemberian apresiasi dan sertifikat kepada pihak-pihak yang terlibat aktif, mulai dari local champion, kader posyandu, hingga peserta Sekolah Lapangan Isi Piringku dalam Pekaranganku dan Sekolah Lapangan Remaja. Para peserta Sekolah Lapangan Remaja turut dikukuhkan sebagai Duta Stunting Remaja sebagai bentuk penguatan peran generasi muda dalam menyebarkan pesan positif terkait gizi, kesehatan, pencegahan stunting, dan pola hidup sehat di lingkungan sekitar.
Sebagai bagian dari kegiatan, peserta program juga menampilkan berbagai praktik baik hasil implementasi di lapangan. Showcase tersebut mencakup hasil demplot pangan dari pemanfaatan lahan pekarangan, seperti terong, pepaya, tomat, cabai, dan seledri, serta sajian menu sehat sesuai standar gizi seimbang bagi balita, ibu hamil, dan remaja. Melalui kegiatan ini, masyarakat berbagi pengalaman dan pembelajaran mengenai upaya pencegahan stunting yang kontekstual dan sesuai dengan potensi lokal.
“Program ACS berfokus pada penguatan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Dengan demikian, ACS menjadi pelengkap intervensi pemerintah agar perubahan perilaku gizi dan kesehatan dapat berjalan secara berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas,” kata Hera.
Hingga 10 November 2025, sebanyak 1.050 keluarga dan 97 ibu hamil telah mendapatkan pendampingan gizi melalui program ACS. Selain itu, sebanyak 1.221 remaja telah teredukasi mengenai pencegahan stunting, 44 kader ACS memperoleh penguatan kapasitas, dua posyandu menjadi percontohan, satu aplikasi pemantauan diluncurkan, serta 23.815 bibit tanaman dibagikan guna memperkuat ketahanan pangan dan gizi keluarga.
(sra)