Sampoerna Pertahankan Kepemimpinan Pasar di 2025 di Tengah Tantangan pada Industri Tembakau
Rabu, 20 Mei 2026 - 16:31 WIB
A
A
A
PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna/BEI: HMSP) hari ini mengumumkan hasil kinerja tahun buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Perseroan mencatat volume penjualan sebesar 79,4 miliar batang dan berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri hasil tembakau Indonesia dengan pangsa pasar 30,7%.
Sejalan dengan capaian tersebut, Sampoerna membukukan peningkatan laba bruto sebesar 11,2% menjadi Rp20,6 triliun.
Kinerja ini didukung oleh penerapan strategi penetapan harga di tengah kondisi pasar yang menantang. Sementara itu, laba bersih tercatat relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp6,6 triliun, yang mencerminkan kekuatan fundamental bisnis Perseroan serta konsistensi dalam menjalankan fokus strategi.
“Strategi kami berfokus pada inovasi dan penguatan portofolio produk yang berorientasi pada konsumen dewasa untuk mempertahankan kepemimpinan di seluruh segmen di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Kami juga terus menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan memperkuat hilirisasi di industri tembakau serta berkontribusi pada penciptaan nilai di seluruh rantai pasok,” ujar Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi, dalam RUPST 2025 di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Perekonomian Indonesia tetap menunjukkan resiliensi sepanjang 2025. Namun demikian, Industri Hasil Tembakau (IHT) masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan daya beli yang berkelanjutan, tren downtrading ke produk dengan harga lebih rendah, hingga meningkatnya peredaran rokok ilegal. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan penjualan IHT nasional sekitar 3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dampak terbesar dirasakan pada Rokok Golongan I, yang merupakan penyerap tenaga kerja terbesar sekaligus kontributor utama penerimaan cukai negara. Pangsa pasar Rokok Golongan I turun signifikan sekitar 22 poin dalam enam tahun terakhir, dari 80% pada 2019 menjadi mendekati 50% pada Kuartal I 2026. Hal ini juga tercermin pada penurunan volume penjualan Perseroan sebesar 8,7% pada Kuartal I 2026, dengan penurunan terbesar terjadi pada kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang merupakan segmen padat karya.
“Kami mengapresiasi keputusan Pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai pada 2026 sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas industri tembakau. Kebijakan ini, yang didukung oleh upaya pemerintah dalam pemberantasan rokok ilegal, memberi ruang bagi pelaku industri legal untuk terus berkontribusi terhadap penerimaan negara dan penciptaan lapangan kerja.
Namun, penurunan pangsa pasar di segmen Rokok Golongan I yang terus berlanjut serta perlindungan segmen SKT yang padat karya perlu mendapatkan perhatian seluruh pemangku kepentingan. Dengan iklim usaha yang lebih kondusif, kami optimistis dapat terus memperkuat ekosistem ekonomi nasional secara berkelanjutan,” ujar Ivan.
Dukungan terhadap SKT dan Perekonomian Nasional
Sampoerna secara konsisten memperkuat portofolio SKT guna menjaga mata pencaharian sekitar 70 ribu tenaga pelinting, yang sebagian besar merupakan perempuan. Para tenaga kerja tersebut tersebar di enam fasilitas produksi milik Perseroan dan 43 fasilitas produksi yang dimiliki serta dioperasikan oleh koperasi dan pengusaha daerah di 35 kabupaten/kota di Pulau Jawa.
Urgensi menjaga keberlangsungan segmen ini semakin nyata mengingat hasil studi Universitas Airlangga yang mencatat efek ekonomi berganda hingga 3,8 kali lipat. Artinya, setiap Rp1.000 aktivitas ekonomi yang dihasilkan fasilitas produksi SKT berpotensi menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp3.800 di masyarakat sekitar.
Karena itu, keterlibatan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi penting dalam merumuskan kebijakan yang mendukung keberlanjutan industri tembakau nasional, khususnya segmen SKT, guna menjaga ekosistem ekonomi daerah sekaligus melindungi puluhan ribu lapangan kerja yang bergantung pada sektor tersebut.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Sampoerna juga terus menciptakan nilai di seluruh rantai usahanya, mulai dari kemitraan dengan lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkih, kerja sama dengan lebih dari 1,5 juta toko ritel, hingga penciptaan sekitar 90 ribu lapangan kerja di Indonesia.
Berdasarkan Studi Litbang Kompas tahun 2025, dampak berganda aktivitas usaha Sampoerna mencapai sekitar Rp204,1 triliun per tahun atau setara sekitar 1% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan rasio multiplier sebesar 1,7 kali.
Sejalan dengan kontribusi tersebut, Perseroan juga terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan melalui berbagai inisiatif pelatihan, pengembangan talenta, dan program pembinaan bagi pengusaha UMKM lokal di seluruh Indonesia.
Beberapa program yang telah dijalankan antara lain Sampoerna Retail Community (SRC), yang diluncurkan pada 2008 dan telah membina 250 ribu toko kelontong di seluruh Indonesia dengan total omzet mencapai Rp251 triliun per tahun atau setara 9,46% PDB retail nasional 2025. Selain itu, terdapat Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yang sejak 2007 telah menjangkau lebih dari 108 ribu pelaku UMKM, serta program Sampoerna Karya Bangsa yang mencakup berbagai pengembangan kapasitas, termasuk program HOPE dengan lebih dari 9.000 peserta dan pelatihan vokasional yang melibatkan lebih dari 1.500 peserta.
Dengan pengalaman lebih dari 112 tahun di Indonesia, Sampoerna terus memperkuat perannya sebagai bagian integral dari perekonomian nasional melalui inovasi, keberlanjutan, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dalam RUPST tersebut, Sampoerna juga mengumumkan pembagian dividen dari laba tahun buku 2025 dengan total sekitar Rp6,55 triliun dari saldo laba Perseroan. Rasio pembayaran dividen mencapai 99,95% atau sebesar Rp56,3 per saham, yang mencerminkan komitmen perusahaan kepada para pemegang saham.
Perubahan Susunan Direksi
Dalam RUPST, para pemegang saham menyetujui perubahan susunan Direksi Perseroan. RUPST menyetujui pengunduran diri Elvira Lianita dari jabatannya sebagai Direktur Perseroan sehubungan dengan penunjukan beliau pada posisi baru sebagai Vice President Corporate Affairs East & Southeast Asia, Pacific and PMI Global Travel Retail, Philip Morris Asia Limited.
Perseroan menyampaikan apresiasi atas kontribusi yang telah diberikan selama masa jabatan beliau di Perseroan.
RUPST juga menyetujui pengangkatan Joy Kartika Widjaja dan Virawaty sebagai anggota Direksi Perseroan, serta Umer Jawaid sebagai Direktur Perseroan yang menggantikan Johan Bink, efektif sejak ditutupnya RUPST 2026.
“Perubahan dalam jajaran Direksi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Perseroan untuk memastikan kepemimpinan yang solid dan relevan dengan dinamika bisnis. Kami menyampaikan terima kasih atas dedikasi Ibu Elvira Lianita dan Bapak Johan Bink, serta mengucapkan selamat menjalankan tugas kepada Ibu Joy Kartika Widjaja, Ibu Virawaty, dan Bapak Umer Jawaid,” tutup Ivan.
Sejalan dengan capaian tersebut, Sampoerna membukukan peningkatan laba bruto sebesar 11,2% menjadi Rp20,6 triliun.
Kinerja ini didukung oleh penerapan strategi penetapan harga di tengah kondisi pasar yang menantang. Sementara itu, laba bersih tercatat relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp6,6 triliun, yang mencerminkan kekuatan fundamental bisnis Perseroan serta konsistensi dalam menjalankan fokus strategi.
“Strategi kami berfokus pada inovasi dan penguatan portofolio produk yang berorientasi pada konsumen dewasa untuk mempertahankan kepemimpinan di seluruh segmen di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Kami juga terus menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan memperkuat hilirisasi di industri tembakau serta berkontribusi pada penciptaan nilai di seluruh rantai pasok,” ujar Presiden Direktur Sampoerna, Ivan Cahyadi, dalam RUPST 2025 di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Perekonomian Indonesia tetap menunjukkan resiliensi sepanjang 2025. Namun demikian, Industri Hasil Tembakau (IHT) masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan daya beli yang berkelanjutan, tren downtrading ke produk dengan harga lebih rendah, hingga meningkatnya peredaran rokok ilegal. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan penjualan IHT nasional sekitar 3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dampak terbesar dirasakan pada Rokok Golongan I, yang merupakan penyerap tenaga kerja terbesar sekaligus kontributor utama penerimaan cukai negara. Pangsa pasar Rokok Golongan I turun signifikan sekitar 22 poin dalam enam tahun terakhir, dari 80% pada 2019 menjadi mendekati 50% pada Kuartal I 2026. Hal ini juga tercermin pada penurunan volume penjualan Perseroan sebesar 8,7% pada Kuartal I 2026, dengan penurunan terbesar terjadi pada kategori Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang merupakan segmen padat karya.
“Kami mengapresiasi keputusan Pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai pada 2026 sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas industri tembakau. Kebijakan ini, yang didukung oleh upaya pemerintah dalam pemberantasan rokok ilegal, memberi ruang bagi pelaku industri legal untuk terus berkontribusi terhadap penerimaan negara dan penciptaan lapangan kerja.
Namun, penurunan pangsa pasar di segmen Rokok Golongan I yang terus berlanjut serta perlindungan segmen SKT yang padat karya perlu mendapatkan perhatian seluruh pemangku kepentingan. Dengan iklim usaha yang lebih kondusif, kami optimistis dapat terus memperkuat ekosistem ekonomi nasional secara berkelanjutan,” ujar Ivan.
Dukungan terhadap SKT dan Perekonomian Nasional
Sampoerna secara konsisten memperkuat portofolio SKT guna menjaga mata pencaharian sekitar 70 ribu tenaga pelinting, yang sebagian besar merupakan perempuan. Para tenaga kerja tersebut tersebar di enam fasilitas produksi milik Perseroan dan 43 fasilitas produksi yang dimiliki serta dioperasikan oleh koperasi dan pengusaha daerah di 35 kabupaten/kota di Pulau Jawa.
Urgensi menjaga keberlangsungan segmen ini semakin nyata mengingat hasil studi Universitas Airlangga yang mencatat efek ekonomi berganda hingga 3,8 kali lipat. Artinya, setiap Rp1.000 aktivitas ekonomi yang dihasilkan fasilitas produksi SKT berpotensi menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp3.800 di masyarakat sekitar.
Karena itu, keterlibatan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi penting dalam merumuskan kebijakan yang mendukung keberlanjutan industri tembakau nasional, khususnya segmen SKT, guna menjaga ekosistem ekonomi daerah sekaligus melindungi puluhan ribu lapangan kerja yang bergantung pada sektor tersebut.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Sampoerna juga terus menciptakan nilai di seluruh rantai usahanya, mulai dari kemitraan dengan lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkih, kerja sama dengan lebih dari 1,5 juta toko ritel, hingga penciptaan sekitar 90 ribu lapangan kerja di Indonesia.
Berdasarkan Studi Litbang Kompas tahun 2025, dampak berganda aktivitas usaha Sampoerna mencapai sekitar Rp204,1 triliun per tahun atau setara sekitar 1% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan rasio multiplier sebesar 1,7 kali.
Sejalan dengan kontribusi tersebut, Perseroan juga terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan melalui berbagai inisiatif pelatihan, pengembangan talenta, dan program pembinaan bagi pengusaha UMKM lokal di seluruh Indonesia.
Beberapa program yang telah dijalankan antara lain Sampoerna Retail Community (SRC), yang diluncurkan pada 2008 dan telah membina 250 ribu toko kelontong di seluruh Indonesia dengan total omzet mencapai Rp251 triliun per tahun atau setara 9,46% PDB retail nasional 2025. Selain itu, terdapat Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yang sejak 2007 telah menjangkau lebih dari 108 ribu pelaku UMKM, serta program Sampoerna Karya Bangsa yang mencakup berbagai pengembangan kapasitas, termasuk program HOPE dengan lebih dari 9.000 peserta dan pelatihan vokasional yang melibatkan lebih dari 1.500 peserta.
Dengan pengalaman lebih dari 112 tahun di Indonesia, Sampoerna terus memperkuat perannya sebagai bagian integral dari perekonomian nasional melalui inovasi, keberlanjutan, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dalam RUPST tersebut, Sampoerna juga mengumumkan pembagian dividen dari laba tahun buku 2025 dengan total sekitar Rp6,55 triliun dari saldo laba Perseroan. Rasio pembayaran dividen mencapai 99,95% atau sebesar Rp56,3 per saham, yang mencerminkan komitmen perusahaan kepada para pemegang saham.
Perubahan Susunan Direksi
Dalam RUPST, para pemegang saham menyetujui perubahan susunan Direksi Perseroan. RUPST menyetujui pengunduran diri Elvira Lianita dari jabatannya sebagai Direktur Perseroan sehubungan dengan penunjukan beliau pada posisi baru sebagai Vice President Corporate Affairs East & Southeast Asia, Pacific and PMI Global Travel Retail, Philip Morris Asia Limited.
Perseroan menyampaikan apresiasi atas kontribusi yang telah diberikan selama masa jabatan beliau di Perseroan.
RUPST juga menyetujui pengangkatan Joy Kartika Widjaja dan Virawaty sebagai anggota Direksi Perseroan, serta Umer Jawaid sebagai Direktur Perseroan yang menggantikan Johan Bink, efektif sejak ditutupnya RUPST 2026.
“Perubahan dalam jajaran Direksi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Perseroan untuk memastikan kepemimpinan yang solid dan relevan dengan dinamika bisnis. Kami menyampaikan terima kasih atas dedikasi Ibu Elvira Lianita dan Bapak Johan Bink, serta mengucapkan selamat menjalankan tugas kepada Ibu Joy Kartika Widjaja, Ibu Virawaty, dan Bapak Umer Jawaid,” tutup Ivan.
(sra)