Film Pesta Babi Tuai...
1/3
Sejumlah penonton menyaksikan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang digelar Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Ciputat di pelataran Asrama IMM Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (16/5/2026).
Film Pesta Babi Tuai...
2/3
Sejumlah penonton menyaksikan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang digelar Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Ciputat di pelataran Asrama IMM Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (16/5/2026).
Film Pesta Babi Tuai...
3/3
Sejumlah penonton menyaksikan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang digelar Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Ciputat di pelataran Asrama IMM Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (16/5/2026).
Film Pesta Babi Tuai...
Film Pesta Babi Tuai...
Film Pesta Babi Tuai...

Film Pesta Babi Tuai Polemik, Pengamat Minta Publik Lebih Kritis

Jum'at, 22 Mei 2026 - 12:32 WIB
A A A
*Respon Film Pesta Babi, Pengamat Politik : Jangan Kunci Papua dengan Narasi Ketertinggalan*

Jakarta - Kehadiran film dokumenter Pesta Babi menuai kontroversi ditengah masyarakat. Film tersebut menyoroti Proyek Strategis Nasional atau PSN Food Estate di Merauke, Papua Selatan, dengan narasi adanya kolonialisme baru di Tanah Papua.

Merespons hal itu, Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indeks Data Nasional, Ayip Tayana, meminta publik tidak buru-buru menghakimi realitas pembangunan di Papua hanya dari satu sudut pandang.

Menurut Ayip, kritik terhadap pembangunan adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun, ia menilai narasi bahwa Papua sedang dijajah karena proyek Food Estate merupakan cara pandang yang berbahaya.

“Narasi Papua sedang dijajah karena proyek Food Estate itu menurut saya berbahaya. Karena kalimat itu bukan lagi sekadar kritik pembangunan, tapi sudah masuk pada delegitimasi negara. Masa negara mau menjajah rakyatnya sendiri?” kata Ayip.

Ayip menegaskan, negara selama ini justru terus berupaya membangun Papua melalui berbagai kebijakan. Mulai dari dana Otonomi Khusus, pembangunan infrastruktur, jalan, bandara, pelabuhan, rumah sakit, sekolah, hingga akses internet.

Ia mengakui pembangunan di Papua belum sepenuhnya sempurna. Namun, menurutnya, tidak adil bila seluruh kerja pembangunan negara di Papua dihapus hanya karena ada kritik terhadap satu proyek tertentu.

“Papua hari ini masih mendapat dana Otonomi Khusus. Infrastruktur juga terus dibangun, jalan dibuka, bandara, pelabuhan, rumah sakit, sekolah, sampai internet terus didorong. Memang belum sempurna, tapi jangan juga berpura-pura seolah-olah negara tidak pernah membangun Papua,” ujarnya.

Ayip juga mengkritik cara pandang yang menurutnya terlalu mudah mencurigai setiap agenda pembangunan di Papua. Ia menilai Papua tidak boleh terus dikunci dalam narasi ketertinggalan, penderitaan, dan eksploitasi.

Menurutnya, masyarakat Papua juga berhak menikmati kemajuan seperti wilayah lain di Indonesia. Karena itu, setiap pembangunan tidak semestinya langsung dicap sebagai eksploitasi atau kolonialisme.

“Kalau ada investasi masuk disebut eksploitasi. Ada jalan dibangun, dibilang eksploitasi. Ada Food Estate disebut penjajahan gaya baru. Lalu kita mau apakan Papua? Apakah kita mau Papua tetap hutan semua? Harga barang-barang di Papua tetap mahal? Warganya tetap miskin? Kan tidak mau begitu. Papua juga Indonesia, dan masyarakat Papua berhak maju,” tegas Ayip.

Ia menambahkan, selama ini pemerintah pusat sering dikritik bila Papua tertinggal. Namun, ketika pemerintah berupaya serius membangun Papua, muncul pula tudingan bahwa pembangunan tersebut merupakan bentuk penjajahan baru.

“Kalau Papua tertinggal, pemerintah pusat dikritik. Tapi ketika pemerintah serius membangun, dicurigai. Kan susah jadinya. Jangan kunci Papua dengan narasi ketertinggalan. Yang harus kita pastikan adalah pembangunan itu adil, melibatkan warga lokal, dan benar-benar memberi manfaat,” ungkapnya.

Ayip menilai PSN Food Estate di Merauke tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandang negatif. Apalagi, menurutnya, proyek tersebut berkaitan dengan isu besar kedaulatan pangan nasional.

“Isu pangan itu isu kedaulatan negara. Kalau Indonesia terus-terusan bergantung pada impor pangan, maka Indonesia akan mudah ditekan. Karena itu, membangun Food Estate untuk cadangan pangan nasional menjadi penting, terlebih dunia sedang tidak baik-baik saja,” jelasnya.

Meski demikian, Ayip menekankan bahwa proyek Food Estate tetap harus dikawal. Ia menyebut pemerintah perlu memastikan keterlibatan masyarakat lokal, penghormatan terhadap hak-hak adat, serta manfaat ekonomi yang nyata bagi warga Papua.

Ayip juga mengingatkan bahwa realitas di Papua tidak sesederhana seperti yang digambarkan dalam satu film dokumenter. Menurutnya, selain kelompok yang menolak, ada pula masyarakat Papua yang mendukung dan berharap proyek tersebut membawa perubahan.

“Jadi jangan dibangun narasi seolah-olah seluruh Papua menolak pembangunan. Tidak sesederhana itu. Realitanya lebih kompleks. Ada yang menolak, ada yang mendukung, ada yang khawatir, tapi juga ada yang berharap dari Food Estate,” ulasnya.

Karena itu, Ayip mengajak masyarakat untuk menonton film Pesta Babi secara kritis dan proporsional. Menurutnya, film dokumenter dapat menjadi bahan diskusi publik, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya kebenaran dalam melihat Papua.

“Film dokumenter ini bukan kitab suci. Publik harus kritis. Jika semua investasi ditolak dan semua pembangunan dianggap kolonialisme, maka Indonesia tidak akan maju. Yang harus dikawal bukan penghentian PSN, tapi bagaimana proyek itu berjalan : apakah melibatkan warga lokal, menghormati masyarakat adat, dan bermanfaat bagi Papua,” pungkasnya.
(sra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Anda punya koleksi foto jalan-jalan yang keren, liburan tak terlupakan, atau foto indah penuh makna?
Kirim foto-foto Anda untuk tampil di Galerimu Unggah Foto
Foto Terkait
Pengamat : Terima Kritik...
Pengamat : Terima Kritik Publik, Pemerintahan Prabowo Masih Demokratis
Begini Suasana Nobar...
Begini Suasana Nobar Film Pesta Babi di Ciputat
Potensi Kebocoran Tinggi,...
Potensi Kebocoran Tinggi, Pengamat Sarankan Mendag Lebih Banyak Libatkan Kapolri
KPK OTT Lagi, Pengamat:...
KPK OTT Lagi, Pengamat: Kepemimpinan Firli Efektif, Tumbuhkan Kepercayaan Publik Atas Jokowi
Klarifikasi Pangkostrad...
Klarifikasi Pangkostrad Dinilai Sudah Sangat Jelas, PB PMII Minta Sudahi Polemik Patung
Respon Tingginya Harapan...
Respon Tingginya Harapan Publik atas KPK, Pengamat Dorong Firli Geber Kinerja hingga Akhir Jabatan
Foto Terkini
World AI Show 2026 Bahas...
World AI Show 2026 Bahas Masa Depan AI Indonesia
1 hari yang lalu
PM India Narendra Modi...
PM India Narendra Modi Sampaikan Pidato Kenegaraan di DPR RI
1 hari yang lalu
MNC Life Hadirkan Perlindungan...
MNC Life Hadirkan Perlindungan Asuransi di Koplove Fest Vol. 4
1 hari yang lalu
AFTECH di IDBS 2026:...
AFTECH di IDBS 2026: Peran Fintech Makin Krusial Sokong Ekonomi Riil
1 hari yang lalu
Trotoar Darurat Bundaran...
Trotoar Darurat Bundaran HI Disulap Menyerupai Labirin Taman
1 hari yang lalu
INOTEK dan Sampoerna...
INOTEK dan Sampoerna untuk Indonesia Dorong Penguatan Kapasitas UMKM di Subang
1 hari yang lalu
Foto Terpopuler
Penampilan Feast di...
Penampilan Feast di Panggung Jakarta Fair 2026
Produksi Seragam Sekolah...
Produksi Seragam Sekolah Meningkat Jelang Tahun Ajaran Baru
Whoosh Jadi Favorit...
Whoosh Jadi Favorit Turis Asing: Layani 184 Ribu WNA Sepanjang 2026, Malaysia Terbanyak
PM India Narendra Modi...
PM India Narendra Modi Sampaikan Pidato Kenegaraan di DPR RI
Hari Bhayangkara ke-80...
Hari Bhayangkara ke-80 : Kapoksi Komisi III DPR RI Muhammad Rahul Apresiasi Keberhasilan Polda Riau Tuntaskan 110 Jembatan Merah Putih Presisi
World AI Show 2026 Bahas...
World AI Show 2026 Bahas Masa Depan AI Indonesia