PK Entertainment Group Tancap Gas, Siapkan Ekspansi Hiburan Asia Tenggara
Minggu, 24 Mei 2026 - 06:45 WIB
A
A
A
JAKARTA - Lampu panggung berganti cepat dalam perayaan 11 tahun PK Entertainment Group di Jakarta, Jumat (22/5/2026). Perusahaan hiburan itu memperkenalkan ekosistem kreatif terintegrasi kepada para mitra dan jurnalis. Fokus bisnisnya kini meluas menuju musik, film, investasi kreatif, serta kolaborasi strategis regional. Selama lebih satu dekade, mereka dikenal melalui konser internasional dan pengalaman hiburan berskala besar. Kini arah bisnis perusahaan bergerak membangun ekosistem kreatif Indonesia yang lebih terhubung.
Melalui momentum tersebut, PK Entertainment Group mengumumkan sejumlah proyek besar mendatang kepada publik. Deretan artis internasional seperti Enhypen dan BoyNextDoor dipastikan masuk agenda konser berikutnya. Selain itu, Anime Festival Asia juga menjadi bagian ekspansi live entertainment perusahaan tersebut. Lalala Fest tengah dipersiapkan menuju Manila melalui kolaborasi regional bersama berbagai mitra strategis. Sementara itu, kerja sama dengan Antara Suara melahirkan program D’Masiv Asia Home Run untuk membawa musisi Indonesia menuju panggung global.
Transformasi bisnis perusahaan disebut mengikuti perubahan perilaku konsumen industri hiburan modern saat ini. Penonton kini tidak hanya mencari pertunjukan, melainkan pengalaman personal dan berbasis komunitas. Founder dan Chief Executive Officer PK Entertainment Group, Peter Harjani, menilai kebutuhan audiens semakin personal dan imersif. “Masa depan industri hiburan dimiliki ekosistem, bukan bisnis berdiri sendiri,” kata Peter. Sementara itu, Co-Founder dan Chief Operating Officer PK Entertainment Group, Harry Sudarma, menegaskan transformasi bisnis penting menghadapi perubahan industri hiburan. “Kami ingin membangun ekosistem yang tumbuh bersama konsumennya,” ujar Harry.
Saat ini, populasi Asia Tenggara didominasi generasi Z dan kelompok milenial yang konsumtif. Mereka lebih memilih mengeluarkan uang untuk pengalaman hiburan dibanding membeli barang kepemilikan pribadi. Pasar live entertainment Asia Tenggara diproyeksikan mencapai USD770 juta pada 2028 mendatang. Indonesia sendiri disebut menjadi salah satu pasar konser terbesar di kawasan regional Asia Tenggara. Pada saat bersamaan, keterlibatan audiens berkembang cepat dalam sektor kreatif dan perfilman nasional.
Industri perfilman Indonesia mencatat tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 9,9 persen beberapa tahun terakhir. Film lokal bahkan menguasai sekitar 65 persen pangsa box office domestik nasional saat ini. Selain menonton film, masyarakat juga semakin mencari pengalaman offline yang lebih interaktif dan imersif. Perubahan perilaku tersebut diproyeksikan mendorong experiential marketing Asia Tenggara menjadi USD3,8 miliar pada 2034. Sebelumnya, nilai sektor itu diperkirakan mencapai USD1,2 miliar sepanjang 2025 mendatang.
Perjalanan bisnis PK Entertainment Group kini berkembang melalui sejumlah unit spesialis berbeda dalam industri hiburan. PK Entertainment telah menghadirkan lebih dari 30 konser internasional kepada satu juta penonton Indonesia. Adapun PK Events menangani lebih dari 500 brand dan entertainment experiences berbagai perusahaan multinasional, termasuk Google, YouTube, Meta, dan Netflix.
Sementara itu, PK Music menggelar lebih dari 50 event musik lokal selama dua tahun terakhir dan mulai berekspansi ke Singapura serta Malaysia. Di sektor perfilman, PK Films menargetkan lebih dari 10 proyek baru pada 2026, meliputi Cerita Lila, Sihir Tanah Kubur, Putri Jangan Gentayangan Lagi, Si Manis Jembatan Ancol 2, Hungry Ghost Festival, Di Ambang Kematian II, Betting with Ghost bersama MVP Pictures, Garuda di Dadaku bersama BASE Entertainment, serta Seni Merayu Tuhan bersama Wahana Kreator.
Melalui momentum tersebut, PK Entertainment Group mengumumkan sejumlah proyek besar mendatang kepada publik. Deretan artis internasional seperti Enhypen dan BoyNextDoor dipastikan masuk agenda konser berikutnya. Selain itu, Anime Festival Asia juga menjadi bagian ekspansi live entertainment perusahaan tersebut. Lalala Fest tengah dipersiapkan menuju Manila melalui kolaborasi regional bersama berbagai mitra strategis. Sementara itu, kerja sama dengan Antara Suara melahirkan program D’Masiv Asia Home Run untuk membawa musisi Indonesia menuju panggung global.
Transformasi bisnis perusahaan disebut mengikuti perubahan perilaku konsumen industri hiburan modern saat ini. Penonton kini tidak hanya mencari pertunjukan, melainkan pengalaman personal dan berbasis komunitas. Founder dan Chief Executive Officer PK Entertainment Group, Peter Harjani, menilai kebutuhan audiens semakin personal dan imersif. “Masa depan industri hiburan dimiliki ekosistem, bukan bisnis berdiri sendiri,” kata Peter. Sementara itu, Co-Founder dan Chief Operating Officer PK Entertainment Group, Harry Sudarma, menegaskan transformasi bisnis penting menghadapi perubahan industri hiburan. “Kami ingin membangun ekosistem yang tumbuh bersama konsumennya,” ujar Harry.
Saat ini, populasi Asia Tenggara didominasi generasi Z dan kelompok milenial yang konsumtif. Mereka lebih memilih mengeluarkan uang untuk pengalaman hiburan dibanding membeli barang kepemilikan pribadi. Pasar live entertainment Asia Tenggara diproyeksikan mencapai USD770 juta pada 2028 mendatang. Indonesia sendiri disebut menjadi salah satu pasar konser terbesar di kawasan regional Asia Tenggara. Pada saat bersamaan, keterlibatan audiens berkembang cepat dalam sektor kreatif dan perfilman nasional.
Industri perfilman Indonesia mencatat tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 9,9 persen beberapa tahun terakhir. Film lokal bahkan menguasai sekitar 65 persen pangsa box office domestik nasional saat ini. Selain menonton film, masyarakat juga semakin mencari pengalaman offline yang lebih interaktif dan imersif. Perubahan perilaku tersebut diproyeksikan mendorong experiential marketing Asia Tenggara menjadi USD3,8 miliar pada 2034. Sebelumnya, nilai sektor itu diperkirakan mencapai USD1,2 miliar sepanjang 2025 mendatang.
Perjalanan bisnis PK Entertainment Group kini berkembang melalui sejumlah unit spesialis berbeda dalam industri hiburan. PK Entertainment telah menghadirkan lebih dari 30 konser internasional kepada satu juta penonton Indonesia. Adapun PK Events menangani lebih dari 500 brand dan entertainment experiences berbagai perusahaan multinasional, termasuk Google, YouTube, Meta, dan Netflix.
Sementara itu, PK Music menggelar lebih dari 50 event musik lokal selama dua tahun terakhir dan mulai berekspansi ke Singapura serta Malaysia. Di sektor perfilman, PK Films menargetkan lebih dari 10 proyek baru pada 2026, meliputi Cerita Lila, Sihir Tanah Kubur, Putri Jangan Gentayangan Lagi, Si Manis Jembatan Ancol 2, Hungry Ghost Festival, Di Ambang Kematian II, Betting with Ghost bersama MVP Pictures, Garuda di Dadaku bersama BASE Entertainment, serta Seni Merayu Tuhan bersama Wahana Kreator.
(sra)