Teknologi Medis dan Terapi Presisi Hadirkan Harapan Baru Penanganan Kanker pada Perempuan
Jum'at, 17 Juli 2026 - 07:15 WIB
A
A
A
Jakarta, 16 Juli 2026 – Kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar bagi perempuan di dunia. Kanker payudara, kanker serviks, kanker ovarium, dan kanker endometrium masih menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker payudara dan 604 ribu kasus baru kanker serviks secara global sepanjang 2024. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak didiagnosis pada perempuan di 164 dari 186 negara, sementara kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan, terutama di negara berkembang.
Di Indonesia, tantangan tersebut juga masih nyata. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, terdapat sekitar 408.661 kasus kanker baru dan 242.988 kematian akibat kanker. Pada perempuan, kanker payudara menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan dengan 66.271 kasus baru, disusul kanker serviks sebanyak 36.964 kasus dan kanker ovarium sebanyak 15.130 kasus.
Di tengah tingginya beban penyakit tersebut, perkembangan teknologi medis menghadirkan optimisme baru. Melalui precision medicine atau terapi presisi, pengobatan kanker kini tidak lagi menggunakan pendekatan yang sama untuk setiap pasien, melainkan disesuaikan dengan karakteristik biologis masing-masing tumor sehingga terapi menjadi lebih tepat sasaran.
Hal tersebut disampaikan Dr. See Hui Ti, Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre, Singapura, dalam Exclusive Media Roundtable & Interview bertajuk Harapan Baru Penanganan Kanker Wanita di Era Terapi Presisi dan Personalized Medicine di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
"Saat ini kami memahami bahwa kanker bukanlah satu penyakit yang sama pada setiap pasien. Dua orang yang sama-sama didiagnosis kanker payudara dapat memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga pendekatan terapinya pun harus disesuaikan dengan profil masing-masing pasien," ujar Dr. See Hui Ti.
Menurutnya, pola kanker pada perempuan telah berubah dalam dua dekade terakhir. Jika sebelumnya kanker serviks menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan, kini kanker payudara menjadi yang paling dominan. Ke depan, kasus kanker endometrium atau kanker rahim juga diperkirakan meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat.
"Berkurangnya aktivitas fisik, meningkatnya obesitas, serta pola makan tinggi gula menjadi faktor yang ikut meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker rahim," jelasnya.
Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, menghindari rokok dan alkohol, serta menerapkan pola hidup sehat tetap menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko kanker.
Menurutnya, peningkat jumlah kasus kanker bukan hanya karena teknologi skrining seperti mammografi yang semakin baik, tetapi juga karena adanya peningkatan nyata insiden kanker di masyarakat.
Penanganan Kanker Kian Personal
Perkembangan pemeriksaan histopatologi dan analisis molekuler kini memungkinkan dokter mengidentifikasi subtipe kanker secara lebih spesifik. Pada kanker payudara, misalnya, dokter dapat membedakan hormone receptor-positive, HER2-positive, maupun triple-negative breast cancer, yang masing-masing memerlukan pendekatan terapi berbeda.
Karena itu, pasien dapat memperoleh terapi hormonal, terapi target (targeted therapy), terapi anti-HER2, imunoterapi, maupun kombinasi berbagai terapi sesuai karakteristik biologis tumornya. Pendekatan ini menandai pergeseran besar dari konsep one-size-fits-all menuju personalized medicine, yakni pengobatan yang dirancang secara lebih individual sesuai kondisi setiap pasien.
Selain terapi presisi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) juga mulai membantu meningkatkan akurasi pembacaan mammografi dan pemeriksaan radiologi.
Namun, Dr. See mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan pengalaman klinis dokter. "AI membantu mengurangi human error, tetapi keputusan medis tetap harus mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh."
Menurutnya, teknologi merupakan alat bantu yang penting, tetapi keputusan terapi tetap harus didasarkan pada penilaian klinis dokter dan kondisi masing-masing pasien.
Dr. See mengatakan bahwa kemajuan terapi target, imunoterapi, teknologi diagnostik, dan teknik operasi telah mengubah harapan hidup pasien kanker secara signifikan dibandingkan satu hingga dua dekade lalu. Selain meningkatkan peluang keberhasilan terapi, berbagai inovasi tersebut juga membantu menjaga kualitas hidup pasien.
Pada kasus tertentu, teknik operasi yang semakin maju bahkan memungkinkan perempuan usia muda mempertahankan fungsi reproduksinya sehingga peluang memiliki anak tetap terbuka apabila kondisi klinis memungkinkan.
Meski teknologi berkembang pesat, Dr. See menegaskan bahwa penanganan kanker tetap harus berpusat pada pasien. Keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh obat maupun teknologi, tetapi juga oleh dukungan keluarga, kesehatan mental, komunitas, komunikasi yang baik antara dokter dan pasien, serta kualitas hidup selama menjalani pengobatan.
"Bagi pasien, yang paling diingat bukanlah nama obat yang diberikan, melainkan apakah mereka merasa didengar, dipahami, dan didukung dalam lingkungan yang suportif,” jelasnya.
Deteksi Dini Tetap Menjadi Kunci
Dr. See menegaskan bahwa peluang kesembuhan akan jauh lebih besar apabila kanker ditemukan pada stadium awal. Karena itulah, deteksi dini tetap menjadi hal paling penting.
Untuk penanganan kanker serviks, perluasan program vaksinasi HPV memberikan optimisme baru. WHO menargetkan eliminasi kanker serviks melalui strategi 90-70-90, yakni 90% anak perempuan menerima vaksin HPV sebelum usia 15 tahun, 70% perempuan menjalani skrining pada usia 35 dan 45 tahun, serta 90% perempuan yang terdiagnosis lesi prakanker maupun kanker serviks memperoleh pengobatan atau penanganan yang sesuai.
"Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien memperoleh pengobatan yang efektif sekaligus mempertahankan kualitas hidup yang baik,” jelasnya.
Menurut Dr. See, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini, meluasnya vaksinasi HPV, serta berkembangnya terapi presisi, semakin banyak perempuan memiliki peluang memperoleh diagnosis lebih awal, mendapatkan pengobatan yang lebih tepat, dan menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker payudara dan 604 ribu kasus baru kanker serviks secara global sepanjang 2024. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak didiagnosis pada perempuan di 164 dari 186 negara, sementara kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan, terutama di negara berkembang.
Di Indonesia, tantangan tersebut juga masih nyata. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, terdapat sekitar 408.661 kasus kanker baru dan 242.988 kematian akibat kanker. Pada perempuan, kanker payudara menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan dengan 66.271 kasus baru, disusul kanker serviks sebanyak 36.964 kasus dan kanker ovarium sebanyak 15.130 kasus.
Di tengah tingginya beban penyakit tersebut, perkembangan teknologi medis menghadirkan optimisme baru. Melalui precision medicine atau terapi presisi, pengobatan kanker kini tidak lagi menggunakan pendekatan yang sama untuk setiap pasien, melainkan disesuaikan dengan karakteristik biologis masing-masing tumor sehingga terapi menjadi lebih tepat sasaran.
Hal tersebut disampaikan Dr. See Hui Ti, Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre, Singapura, dalam Exclusive Media Roundtable & Interview bertajuk Harapan Baru Penanganan Kanker Wanita di Era Terapi Presisi dan Personalized Medicine di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
"Saat ini kami memahami bahwa kanker bukanlah satu penyakit yang sama pada setiap pasien. Dua orang yang sama-sama didiagnosis kanker payudara dapat memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga pendekatan terapinya pun harus disesuaikan dengan profil masing-masing pasien," ujar Dr. See Hui Ti.
Menurutnya, pola kanker pada perempuan telah berubah dalam dua dekade terakhir. Jika sebelumnya kanker serviks menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan, kini kanker payudara menjadi yang paling dominan. Ke depan, kasus kanker endometrium atau kanker rahim juga diperkirakan meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat.
"Berkurangnya aktivitas fisik, meningkatnya obesitas, serta pola makan tinggi gula menjadi faktor yang ikut meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker rahim," jelasnya.
Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, menghindari rokok dan alkohol, serta menerapkan pola hidup sehat tetap menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko kanker.
Menurutnya, peningkat jumlah kasus kanker bukan hanya karena teknologi skrining seperti mammografi yang semakin baik, tetapi juga karena adanya peningkatan nyata insiden kanker di masyarakat.
Penanganan Kanker Kian Personal
Perkembangan pemeriksaan histopatologi dan analisis molekuler kini memungkinkan dokter mengidentifikasi subtipe kanker secara lebih spesifik. Pada kanker payudara, misalnya, dokter dapat membedakan hormone receptor-positive, HER2-positive, maupun triple-negative breast cancer, yang masing-masing memerlukan pendekatan terapi berbeda.
Karena itu, pasien dapat memperoleh terapi hormonal, terapi target (targeted therapy), terapi anti-HER2, imunoterapi, maupun kombinasi berbagai terapi sesuai karakteristik biologis tumornya. Pendekatan ini menandai pergeseran besar dari konsep one-size-fits-all menuju personalized medicine, yakni pengobatan yang dirancang secara lebih individual sesuai kondisi setiap pasien.
Selain terapi presisi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) juga mulai membantu meningkatkan akurasi pembacaan mammografi dan pemeriksaan radiologi.
Namun, Dr. See mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan pengalaman klinis dokter. "AI membantu mengurangi human error, tetapi keputusan medis tetap harus mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh."
Menurutnya, teknologi merupakan alat bantu yang penting, tetapi keputusan terapi tetap harus didasarkan pada penilaian klinis dokter dan kondisi masing-masing pasien.
Dr. See mengatakan bahwa kemajuan terapi target, imunoterapi, teknologi diagnostik, dan teknik operasi telah mengubah harapan hidup pasien kanker secara signifikan dibandingkan satu hingga dua dekade lalu. Selain meningkatkan peluang keberhasilan terapi, berbagai inovasi tersebut juga membantu menjaga kualitas hidup pasien.
Pada kasus tertentu, teknik operasi yang semakin maju bahkan memungkinkan perempuan usia muda mempertahankan fungsi reproduksinya sehingga peluang memiliki anak tetap terbuka apabila kondisi klinis memungkinkan.
Meski teknologi berkembang pesat, Dr. See menegaskan bahwa penanganan kanker tetap harus berpusat pada pasien. Keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh obat maupun teknologi, tetapi juga oleh dukungan keluarga, kesehatan mental, komunitas, komunikasi yang baik antara dokter dan pasien, serta kualitas hidup selama menjalani pengobatan.
"Bagi pasien, yang paling diingat bukanlah nama obat yang diberikan, melainkan apakah mereka merasa didengar, dipahami, dan didukung dalam lingkungan yang suportif,” jelasnya.
Deteksi Dini Tetap Menjadi Kunci
Dr. See menegaskan bahwa peluang kesembuhan akan jauh lebih besar apabila kanker ditemukan pada stadium awal. Karena itulah, deteksi dini tetap menjadi hal paling penting.
Untuk penanganan kanker serviks, perluasan program vaksinasi HPV memberikan optimisme baru. WHO menargetkan eliminasi kanker serviks melalui strategi 90-70-90, yakni 90% anak perempuan menerima vaksin HPV sebelum usia 15 tahun, 70% perempuan menjalani skrining pada usia 35 dan 45 tahun, serta 90% perempuan yang terdiagnosis lesi prakanker maupun kanker serviks memperoleh pengobatan atau penanganan yang sesuai.
"Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien memperoleh pengobatan yang efektif sekaligus mempertahankan kualitas hidup yang baik,” jelasnya.
Menurut Dr. See, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini, meluasnya vaksinasi HPV, serta berkembangnya terapi presisi, semakin banyak perempuan memiliki peluang memperoleh diagnosis lebih awal, mendapatkan pengobatan yang lebih tepat, dan menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.
(sra)