Menuju Dunia Bebas Asap : Alternatif yang Lebih Baik Daripada Rokok
Senin, 13 Oktober 2025 - 17:55 WIB
Advertisement
Jakarta - "Kalau anda belum merokok, jangan mulai. Kalau anda merokok, berhentilah. Tapi kalau anda belum bisa berhenti, beralihlah ke alternatif yang lebih baik.”
Kalimat ini menarik karena diucapkan oleh Jacek Olczak, CEO Philip Morris International (PMI), salah satu perusahaan tembakau terbesar di dunia. “Semua orang setuju bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan,” ujar Olczak dalam acara Technovation : Smoke-Free by PMI di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (8/10).
“Pertanyaannya adalah : apa yang bisa kita lakukan untuk membantu para perokok dewasa untuk beralih dari kebiasaannya?” Tantangan menuju dunia bebas asap faktanya, meskipun masyarakat sepakat bahwa merokok berbahaya, jutaan orang tetap merokok.
“Kenyataannya orang tetap merokok dan mereka akan terus merokok jika kita tidak memberi mereka alternatif,” jelas Olczak. Masih menurut Olczak, teknologi sudah memungkinkan terciptanya produk yang dapat mengurangi paparan zat kimia berbahaya dan berpotensi berbahaya tanpa menghilangkan nikotin.
Berbagai produk bebas asap yang dikembangkan oleh PMI, misalnya produk tembakau yang dipanaskan seperti IQOS, rokok elektronik seperti VEEV dan kantong nikotin seperti ZYN, kini menjadi bagian dari strategi tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau, sebuah upaya untuk mengurangi risiko dari kebiasaan merokok tanpa menghilangkan perilaku mengonsumsi nikotin sepenuhnya.
Belajar dari Jepang dan Swedia
Sebagai contoh, Jepang menjadi laboratorium alami bagi perubahan ini. Setelah 10 tahun diperkenalkannya IQOS, lebih dari 50 persen perokok dewasa di Jepang beralih ke produk tembakau yang dipanaskan ini.
Sementara di Swedia, tingkat perokok telah turun ke angka 5% sebuah ambang batas yang menurut standar kesehatan dianggap sebagai “masalah yang hampir terselesaikan”.
“Itu bukti bahwa jika masyarakat diberi pilihan yang lebih baik dan informasi yang akurat, maka mereka akan berubah,” ujar Olczak.
Kalimat ini menarik karena diucapkan oleh Jacek Olczak, CEO Philip Morris International (PMI), salah satu perusahaan tembakau terbesar di dunia. “Semua orang setuju bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan,” ujar Olczak dalam acara Technovation : Smoke-Free by PMI di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (8/10).
“Pertanyaannya adalah : apa yang bisa kita lakukan untuk membantu para perokok dewasa untuk beralih dari kebiasaannya?” Tantangan menuju dunia bebas asap faktanya, meskipun masyarakat sepakat bahwa merokok berbahaya, jutaan orang tetap merokok.
“Kenyataannya orang tetap merokok dan mereka akan terus merokok jika kita tidak memberi mereka alternatif,” jelas Olczak. Masih menurut Olczak, teknologi sudah memungkinkan terciptanya produk yang dapat mengurangi paparan zat kimia berbahaya dan berpotensi berbahaya tanpa menghilangkan nikotin.
Berbagai produk bebas asap yang dikembangkan oleh PMI, misalnya produk tembakau yang dipanaskan seperti IQOS, rokok elektronik seperti VEEV dan kantong nikotin seperti ZYN, kini menjadi bagian dari strategi tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau, sebuah upaya untuk mengurangi risiko dari kebiasaan merokok tanpa menghilangkan perilaku mengonsumsi nikotin sepenuhnya.
Belajar dari Jepang dan Swedia
Sebagai contoh, Jepang menjadi laboratorium alami bagi perubahan ini. Setelah 10 tahun diperkenalkannya IQOS, lebih dari 50 persen perokok dewasa di Jepang beralih ke produk tembakau yang dipanaskan ini.
Sementara di Swedia, tingkat perokok telah turun ke angka 5% sebuah ambang batas yang menurut standar kesehatan dianggap sebagai “masalah yang hampir terselesaikan”.
“Itu bukti bahwa jika masyarakat diberi pilihan yang lebih baik dan informasi yang akurat, maka mereka akan berubah,” ujar Olczak.
(sra)