Advertisement

Kota Pasuruan Resmi Usung Identitas Baru: Religius Modern

Jum'at, 06 Februari 2026 - 23:30 WIB
Advertisement
PEMKOT KENALKAN BRANDING BARU KOTA PASURUAN, RELIGIUS MODERN

Pasuruan — Pemerintah Kota Pasuruan memperkenalkan wajah baru citra kota melalui konsep “Religius Modern.” Arah ini tidak lahir dari selera desain, melainkan dari pembacaan yang cermat atas cara warga sendiri mengingat, merasakan, dan menyebut kotanya.

Citra kota ini dihasilkan dari hasil riset terpadu yang menggabungkan beberapa metode hasil kerja sama Pemkot Pasuruan bersama lembaga profesional LOGITERA yang menjadi pijakan utama perumusan branding ini, yang kemudian diterjemahkan ke dalam satu bahasa visual kota yang konsisten.

Salah satu metodenya adalah survei persepsi dari warga. Di benak warga, Pasuruan pertama-tama hadir sebagai kota santri. Angka survei memperlihatkan, kekuatan memori kolektif itu disebutkan oleh 73,5 persen responden. Mereka menyebutkan keunikan Pasuruan terletak pada nuansa religiusnya.

Sebanyak 58,4 persen memilih kata religius, santri, dan berkah sebagai frasa paling tepat menggambarkan kota. Sementara itu sebanyak 41,8 persen langsung mengingat santri, KH Abdul Hamid, serta Payung Madinah di alun-alun ketika nama Pasuruan disebut. Spiritualitas, dengan demikian, bukan tempelan simbolik, melainkan identitas yang hidup dalam ingatan mayoritas warga.

Namun riset yang sama juga menunjukkan sisi lain Pasuruan: kota yang hidup. Warga menyebut alun-alun dan tugu kota sebagai ruang interaksi yang aktif; pesisir, nelayan, dan pelabuhan sebagai denyut ekonomi sehari-hari; serta bipang/jipang sebagai warisan kuliner yang terus diproduksi dan diperdagangkan. Pasuruan juga dikenali sebagai kota yang majemuk, tempat beragam latar sosial berdampingan. Dari sinilah kata “Modern” menemukan dasarnya: Pasuruan dipersepsikan sebagai ruang publik yang dinamis, ekonomi rakyat yang berjalan, dan masyarakat yang terbuka.

Temuan-temuan ini kemudian dirangkum menjadi enam simbol identitas—spiritualitas, pesisir-bahari, tugu kota, kemajemukan warga, kuliner khas, dan lanskap laut—yang membentuk Sistem Bahasa Visual Pasuruan. Sistem ini dibakukan dalam pedoman identitas visual: konstruksi logo, palet warna, tipografi, hingga aturan penerapan, agar seluruh komunikasi kota berbicara dalam satu tata bahasa yang sama.

Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo menegaskan temuan riset untuk branding kota ini penting guna memperkuat identitas diri dari wilayah yang dipimpinnya. “Religius bukan berarti statis, modern bukan berarti tercerabut dari akar. Pasuruan menunjukkan keduanya menyatu dalam kehidupan warganya,” ujar Adi yang juga termasuk kepala daerah muda di Jawa Timur ini menjelaskan.

Untuk itu, menurut Adi Wibowo, branding kota ini diposisikan bukan sekadar logo baru, melainkan pijakan strategis untuk memperkuat pariwisata, ekonomi kreatif, komunikasi publik, dan promosi investasi daerah.

Sementara itu peneliti LOGITERA, Adi F. Nugrotomo, menjelaskan pentingnya menggali persepsi warga dan akar sejarah sebagai bagian tak terpisahkan dalam merumuskan branding untuk Kota Pasuruan ini. “Kami tidak memulai dari desain, melainkan dari ingatan warga. Ketika memori kolektif mengarah pada religiusitas, dan pada saat yang sama warga menggambarkan kotanya sebagai ruang yang hidup dan terbuka, maka ‘Religius Modern’ adalah simpulan empirik, bukan slogan kreatif,” ungkapnya.

Sosialisasi terkait temuan riset ini juga sudah dilakukan kepada seluruh jajaran aparatur pemerintahan di Kota Pasuruan dalam rangkaian acara Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Pasuruan Tahun 2025-2029 pada pertengahan 2025 lalu.

Ke depan, identitas visual Religius Modern akan hadir bertahap di ruang-ruang publik, dokumen resmi, materi promosi, serta kolaborasi dengan komunitas dan pelaku usaha lokal. Tujuannya sederhana: agar warga melihat dirinya sendiri di dalam simbol-simbol kota, dan orang luar dengan mudah mengenali Kota Pasuruan dari bahasa visualnya.

Penguatan branding ini juga ditopang oleh persepsi publik terhadap kepemimpinan kota. Survei menunjukkan, sebanyak 68,3% responden memberikan citra positif terhadap Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo. Di samping itu, 67% responden menyatakan yakin kepemimpinan Wali Kota Kota Pasuruan mampu membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi kota ini.

Temuan tersebut juga didukung dengan kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kota Pasuruan secara umum yang mencapai 75,7%. Angka ini menegaskan bahwa arah “Religius Modern” tidak hanya selaras dengan identitas kultural kota, tetapi juga sejalan dengan kepercayaan warga terhadap figur dan kapasitas kepemimpinan yang sedang berjalan.
(sra)
Advertisement
Tim Editor :
Isra Triansyah
Isra Triansyah
Editor
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Advertisement