Advertisement

Tarawih Pertama di Masjid Negara IKN: Saf yang Menyatukan Nusantara

Jum'at, 20 Februari 2026 - 10:51 WIB
Advertisement
LANGIT malam Ibu Kota Nusantara (IKN) membentang pekat ketika cahaya keemasan memancar dari Masjid Negara. Dari kejauhan, siluet Masjid Negara IKN tampak seperti mahkota yang diletakkan perlahan di atas perbukitan. Kubahnya yang berlapis pola geometris berkilau lembut diterpa lampu sorot, sementara menara ramping berpilin menjulang di sampingnya, seolah menjadi penunjuk arah bagi siapa pun yang mencari cahaya di bulan suci.

Di pelataran yang luas dan bertingkat, kendaraan mengalir perlahan. Langkah-langkah jamaah berdatangan dari berbagai penjuru, menyatu menuju pintu-pintu masjid, simbol berlangsungnya denyut spiritual di ibu kota masa depan Indonesia.

Di bagian dalam masjid, dinding mihrab melengkung dengan aksen cokelat keemasan membingkai ceruk imam secara anggun. Garis-garis lengkung yang simetris berpadu dengan pencahayaan hangat, menciptakan suasana teduh tanpa kesan berlebihan. Pilar-pilar besar berdiri kokoh, sementara hamparan lantai marmer memantulkan bayang jamaah yang terus berdatangan. Di langit-langit, bidang atap yang menjulang memberi kesan luas sekaligus merangkul—seolah ruang ini dirancang untuk memeluk ribuan orang dalam satu kesatuan saf.

Rabu malam (18/02/2026), 1 Ramadan 1447 Hijriah, ribuan jamaah berdiri rapat. Dari saf terdepan hingga ke baris paling belakang, warna-warni mukena dan baju koko membentuk mozaik kebersamaan. Ketika takbir pertama berkumandang, gelombang gerak yang serempak—berdiri, rukuk, sujud—mengalir seperti satu tarikan napas panjang. Dalam momen sujud itu, lantai marmer yang dingin menjadi saksi kesetaraan: tak ada sekat jabatan, asal daerah, ataupun latar belakang.

Tarawih perdana ini bukan sekadar agenda seremonial Ramadan. Ia adalah peristiwa batin yang menyatukan orang-orang yang kini mulai menata kehidupan di Nusantara. Di kota yang sedang dibangun dengan konsep modern dan berkelanjutan, kehadiran Masjid Negara menghadirkan dimensi ruhani yang menyeimbangkan geliat fisik pembangunan. Beton, baja, dan teknologi menemukan padanannya dalam doa, zikir, dan harap.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Irfan Rosady, dai Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Timur, mengingatkan bahwa fondasi kehidupan tidak hanya diletakkan dengan perencanaan matang, tetapi juga dengan niat yang lurus. “Perbaiki, mantapkan dan luruskan niat dalam menjalankan Ramadhan,” ujarnya di hadapan jamaah yang khusyuk menyimak.

Pesan itu terasa relevan di ruang yang sarat makna simbolik ini. Masjid Negara IKN berdiri bukan hanya sebagai bangunan megah, melainkan sebagai penanda arah—bahwa ibu kota baru tidak dibangun semata untuk pusat pemerintahan, tetapi juga untuk menumbuhkan peradaban. Arsitekturnya yang futuristik berpadu dengan nilai tradisi, menghadirkan filosofi tentang kesinambungan: antara masa lalu yang berakar dan masa depan yang menjulang.

Shakira, jamaah dari Sepaku, mengaku terharu melihat langsung kemegahan masjid tersebut. “Saya sangat antusias beribadah di Masjid Negara. Saya tidak menyangka masjid negara semegah ini,” tuturnya. Kekaguman itu bukan hanya pada skala bangunan, tetapi juga pada pengalaman batin berada di tengah ribuan orang yang salat berjamaah.

Malam kian larut ketika rangkaian rakaat terakhir usai. Jamaah perlahan beranjak, sebagian berhenti sejenak di pelataran untuk memandang kembali kubah yang bercahaya. Di tengah kota yang masih terus bertumbuh, tarawih perdana ini menjadi semacam ikrar sunyi: bahwa di antara rencana besar dan cita-cita nasional, selalu ada ruang untuk menata hati. Dari Masjid Negara IKN, denyut itu mulai terdengar—pelan, khusyuk, namun pasti.

Foto-foto: Humas Otoritas IKN
(sra)
Advertisement
Tim Editor :
Isra Triansyah
Isra Triansyah
Editor
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Advertisement