Cublak Suweng Satukan Kopi Gayo dan Temanggung dalam Satu Cita Rasa
Sabtu, 18 Juli 2026 - 21:22 WIB
Advertisement
TANGERANG - Perjalanan menikmati Cublak Suweng kini tak sekadar berbicara tentang secangkir kopi. Blend baru ini memadukan biji kopi Gayo, Aceh, dan Temanggung, Jawa Tengah. Perpaduan itu membawa kisah budaya Nusantara ke dalam pengalaman menyeruput kopi. Filosofi permainan tradisional Jawa menjadi identitas yang melekat pada setiap racikan. Produk tersebut diperkenalkan Roemah Koffie di PIK 2, Tangerang, Rabu (16/7/2026).
Lagu sekaligus permainan tradisional Cublak Suweng mengajarkan makna kebersamaan dan kebahagiaan sederhana. Nilai itulah yang diterjemahkan menjadi konsep tiga lingkaran kehidupan. CEO Roemah Koffie Felix TJ mengatakan, konsep itu menggambarkan hubungan dengan diri sendiri, sesama, dan alam. "Tiga lingkaran itu menjadi filosofi utama Cublak Suweng," ujarnya. Perpaduan budaya dan kopi diharapkan memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia.
Karakter kopi Gayo dipadukan dengan nuansa karamel, hazelnut, dan cokelat dari Temanggung. Biji kopi diolah melalui proses giling basah (wet hulled) serta natural. Teknik tersebut menghasilkan tingkat keasaman rendah dengan rasa earthy dan manis alami. Tekstur tubuh kopi tetap padat sehingga seimbang ketika diseduh. Hasil akhirnya cocok dinikmati sebagai kopi hitam maupun berbasis espresso.
Commercial Director Roemah Koffie Ryo Limijaya menjelaskan, minat terhadap premium roastery terus meningkat. Karena itu, Cublak Suweng dirancang memiliki karakter Indonesia dengan fleksibilitas penyajian. "Satu base kopi untuk banyak kreasi," katanya.
Kemasan Cublak Suweng menampilkan ilustrasi kisah kancil dan kura-kura sebagai simbol ketekunan. Desain klasik koffie tins juga disiapkan menjadi buah tangan khas Indonesia. Selain pasar ritel domestik, produk ini diproyeksikan melayani kebutuhan commercial roastery hingga ekspor.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Irene Umar menilai pendekatan tersebut memperkuat nilai tambah kopi Indonesia. "Storytelling budaya menjadi kekuatan yang hanya dimiliki Indonesia," ujarnya. Dalam peluncuran itu, pengunjung juga mengikuti sesi Tasting & Sensory Experience melalui Kopi Walik. Ekstrak kopi bahkan diolah menjadi botanical room fragrance bersama Boemi Botanical.
Lagu sekaligus permainan tradisional Cublak Suweng mengajarkan makna kebersamaan dan kebahagiaan sederhana. Nilai itulah yang diterjemahkan menjadi konsep tiga lingkaran kehidupan. CEO Roemah Koffie Felix TJ mengatakan, konsep itu menggambarkan hubungan dengan diri sendiri, sesama, dan alam. "Tiga lingkaran itu menjadi filosofi utama Cublak Suweng," ujarnya. Perpaduan budaya dan kopi diharapkan memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia.
Karakter kopi Gayo dipadukan dengan nuansa karamel, hazelnut, dan cokelat dari Temanggung. Biji kopi diolah melalui proses giling basah (wet hulled) serta natural. Teknik tersebut menghasilkan tingkat keasaman rendah dengan rasa earthy dan manis alami. Tekstur tubuh kopi tetap padat sehingga seimbang ketika diseduh. Hasil akhirnya cocok dinikmati sebagai kopi hitam maupun berbasis espresso.
Commercial Director Roemah Koffie Ryo Limijaya menjelaskan, minat terhadap premium roastery terus meningkat. Karena itu, Cublak Suweng dirancang memiliki karakter Indonesia dengan fleksibilitas penyajian. "Satu base kopi untuk banyak kreasi," katanya.
Kemasan Cublak Suweng menampilkan ilustrasi kisah kancil dan kura-kura sebagai simbol ketekunan. Desain klasik koffie tins juga disiapkan menjadi buah tangan khas Indonesia. Selain pasar ritel domestik, produk ini diproyeksikan melayani kebutuhan commercial roastery hingga ekspor.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Irene Umar menilai pendekatan tersebut memperkuat nilai tambah kopi Indonesia. "Storytelling budaya menjadi kekuatan yang hanya dimiliki Indonesia," ujarnya. Dalam peluncuran itu, pengunjung juga mengikuti sesi Tasting & Sensory Experience melalui Kopi Walik. Ekstrak kopi bahkan diolah menjadi botanical room fragrance bersama Boemi Botanical.
(sra)