Menyulap Daun Pandan Menjadi Rupiah
Sabtu, 10 September 2016 - 23:10 WIB
A
A
A
Jari jemari Sumiyati, 55, telaten merajut helai demi helai daun pandan di sebuah gubug sebelah rumahnya di Desa Gunungteguh, Sangkapura, Bawean. Di tangannya, daun pandan berduri itu disulap menjadi kerajian bernilai ekonomi kerakyatan seperti tikar, tas, sajadah hingga dompet. Tak ayal kini kerajinan turun temurun itu menjadi salah satu souvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau kecil di Laut Jawa, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Proses pembuatan tikar daun pandan tidaklah mudah. Butuh waktu lama untuk menghasilkan satu produk. Perajin harus mengolah daun pandan dari tahap ke tahap, mulai dari pemotongan, rebus dengan campuran warna dan pengeringan.
"Untuk satu produk tas belanja ini saya menghabiskan waktu seminggu, kalau tikar bisa sebulan", ujar Sumiyati. Sejak Pulau Bawean ramai dikunjungi wisatawan, Sumiyati mengaku kewalahan memenuhi permintaan. Lantaran perajin tikar di kampungnya hanya bisa dihitung dengan jari. Selain itu bahan baku pandan juga mulai berkurang, sehingga kesulitan mencarinya.
Walaupun demikian, Sumiyati mengaku sabar menekuni profesinya sebagai perajin anyaman tikar di Desa Gunungteguh. “Pekerjaan menganyam dilakukan setelah urusan keluarga seperti memasak dan mencuci sudah
selesai,”pungkasnya.
"Untuk satu produk tas belanja ini saya menghabiskan waktu seminggu, kalau tikar bisa sebulan", ujar Sumiyati. Sejak Pulau Bawean ramai dikunjungi wisatawan, Sumiyati mengaku kewalahan memenuhi permintaan. Lantaran perajin tikar di kampungnya hanya bisa dihitung dengan jari. Selain itu bahan baku pandan juga mulai berkurang, sehingga kesulitan mencarinya.
Walaupun demikian, Sumiyati mengaku sabar menekuni profesinya sebagai perajin anyaman tikar di Desa Gunungteguh. “Pekerjaan menganyam dilakukan setelah urusan keluarga seperti memasak dan mencuci sudah
selesai,”pungkasnya.
(ary)