Tiga Pekan Berlalu,...
1/3
Relawan memberikan kegiatan psikososial kepada anak-anak pengungsian korban erupsi Gunung Semeru.
Tiga Pekan Berlalu,...
2/3
Relawan memberikan kegiatan psikososial kepada anak-anak pengungsian korban erupsi Gunung Semeru.
Tiga Pekan Berlalu,...
3/3
Relawan memberikan kegiatan psikososial kepada anak-anak pengungsian korban erupsi Gunung Semeru.
Tiga Pekan Berlalu,...
Tiga Pekan Berlalu,...
Tiga Pekan Berlalu,...

Tiga Pekan Berlalu, Pengungsi Erupsi Semeru Masih Trauma

Selasa, 28 Desember 2021 - 05:18 WIB
A A A
Rasa trauma masih belum hilang. ketakutan menghantui setiap hari, terutama di malam hari mengakibatkan sulit memejamkan mata. Karena beberapa kali erupsi susulan bukan hanya di pagi, siang atau sore hari, namun juga di tengah malam.

Demikian diungkapkan salahsatu warga yang tinggal di zona merah lereng Gunung Semeru, Faiqotul Himma (21) saat ditanya apa yang ia rasakan saat ini pasca erupsi Semeru dalam webinar yang digelar Rumah Polymath, Minggu (26/12) bertema Sehat Mental Di Tengah Erupsi Semeru.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah kaum lelaki secara bergiliran terjaga di tengah malam. "Mereka ronda untuk berjaga-jaga bila ada erupsi, bisa segera membangunkan warga. Selain itu juga mencegah terjadinya pencurian," ujar wanita yang akrab disapa Fafa tersebut.

Gadis berhijab itu mengaku rasa trauma itu bukan saja disebabkan dari potensi erupsi yang hingga kini masih terus terjadi, namun juga dari pelaku-pelaku kejahatan yang mengambil kesempatan saat warga mengungsi. "Mereka mencuri rumah-rumah yang ditinggal kosong. Termasuk mencuri hewan ternak. Sudah beberapa kali kejadian disini," ungkap Fafa yang tinggal di Desa Sumber Wuluh, Candipuro, Lumajang itu

Mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di kota malang tersebut mengaku kegiatan psikososial yang dilakukan sejumlah lembaga kemanusiaan belum menyentuh para pengungsi "rumahan". "Rata-rata kegiatan trauma healing dilakukan di posko-posko pengungsi. Sedangkan kita yang menginap di rumah kerabat atau tetangga belum tersentuh. Padahal kami disini tak kalah stresnya dengan yang di pengungsian," keluhnya.

Dikatakannya, ada sekali dua kali lembaga yang mengajukan kegiatan psikososial bagi warga yang tidak mengungsi di posko, namun begitu warga berdatangan untuk mengikuti ternyata pihak lembaganya yang tidak hadir. "Kasihan mereka di PHP beberapa kali, membuat malas datang. Ada baiknya selanjutnya kegiatan trauma healing dengan jemput bola, menyisir warga yang mengungsi di rumah kerabat," pinta Fafa.

Merespon demikian, Direktur Eksekutif Indonesia Care, Lukman Azis yang hadir sebagai salah satu narasumber dalam webinar tersebut berharap agar kegiatan psikososial dilakukan secara suistanable dan tidak berganti-ganti personil. "Hal ini bertujuan membangun kedekatan para relawan pendamping dengan penyintas. Dilakukan juga dalam jangka panjang. Tidak hit and run," harap Lukman

Mantan jurnalis yang juga mantan relawan kemanusiaan di Rohingya, gempa Palu, Lombok dan banjir bandang Lebak tersebut menilai penderitaan sesungguhnya para penyintas bukan saat tanggap darurat. "Tapi justru saat para relawan sudah pulang, tak ada lagi wartawan yang memberitakan. Tak ada bantuan logistik mengalir. Suasana kembali sepi. Rasa kehilangan dan kesedihan sesungguhnya barulah sangat terasa," ungkapnya.

Pihak perguruan tinggi, lanjut Lukman, harus mulai memikirkan mengambil alih momentum ini dengan menerjunkan mahasiswa-mahasiswa psikologinya untuk membersamai. "Minimal tiga bulan di lokasi bencana. Kalau perlu pengabdian hingga satu tahun seperti kedokteran" usul Lukman.

Founder Rumah Polymath yang juga Guru Besar Psikologi UIN Jakarta, Prof Achmad Syahid menekankan agar menjadikan momentum ini sebagai peluang bagi mahasiswa psikologi untuk berbuat bagi masyarakat korban bencana. "Temuan yang disampaikan narasumber lapangan (dalam webbinar) ini, bisa menjadi bahan rujukan untuk membuat sebuah rumusan program lanjutan," imbuhnya.

Narasumber lain dalam diskusi tersebut diantaranya dua relawan psikososial dari Brigade Relawan Nusantara yang juga mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, Aprilia Saraswati dan Angelia Pratama Kennedy. Keduanya menceritakan pengalaman terjun ke pengungsian Semeru dan membeberkan sejumlah temuan lapangan.
(sra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Anda punya koleksi foto jalan-jalan yang keren, liburan tak terlupakan, atau foto indah penuh makna?
Kirim foto-foto Anda untuk tampil di Galerimu Unggah Foto
Foto Terkait
Bantuan Sosial Bagi...
Bantuan Sosial Bagi Pengungsi Erupsi Semeru
Pengungsi Longsor Bogor...
Pengungsi Longsor Bogor Masih Trauma, Relawan Indonesia Care Cs Gelar Trauma Healing
Mengintip Semangat Anak-anak...
Mengintip Semangat Anak-anak Pengungsi Korban Erupsi Semeru Belajar di Tenda Darurat
Gunung Semeru Kembali...
Gunung Semeru Kembali Erupsi
Peringatan Bahaya Erupsi...
Peringatan Bahaya Erupsi Susulan Semeru
Penyintas Gempa Pulau...
Penyintas Gempa Pulau Bawean Masih Trauma, Indonesia CARE Gelar Trauma Healing
Foto Terkini
Ratusan Mahasiswa Gelar...
Ratusan Mahasiswa Gelar Aksi Longmarch dari Senayan ke Bundaran HI
7 jam yang lalu
KACA 2026 Tegaskan Kekuatan...
KACA 2026 Tegaskan Kekuatan K-Wave sebagai Motor Kolaborasi Brand dan Komunitas Penggemar
8 jam yang lalu
Sampoerna Raih Penghargaan...
Sampoerna Raih Penghargaan di Forum CSR Jabar 2026
13 jam yang lalu
ANKER soundcore Luncurkan...
ANKER soundcore Luncurkan Liberty 5 Pro Series, Earbuds AI untuk Produktivitas dan Komunikasi Modern
15 jam yang lalu
Gubernur Pramono Anung...
Gubernur Pramono Anung Resmikan Jakarta Fair Kemayoran 2026
18 jam yang lalu
Potret Transportasi...
Potret Transportasi Tradisional untuk Menyeberangi Sungai Cisadane
1 hari yang lalu
Foto Terpopuler
Diskon Hingga 50 Persen...
Diskon Hingga 50 Persen dan Hadiah Langsung! United Bike dan United E-Motor Meriahkan Jakarta Fair 2026
Suasana SPBU di Jakarta...
Suasana SPBU di Jakarta Usai Harga Pertamax Meroket menjadi Rp16.250 Per Liter
Suasana Pom Bensin Usai...
Suasana Pom Bensin Usai Kenaikan Harga Pertamax Nyaris Rp4.000 per Liter
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Warga Beralih ke Pertalite
SwipeRx Sukses Gelar...
SwipeRx Sukses Gelar IPEC 2026 ke-IV, Satukan Lebih dari 1.500 Apoteker dalam Ajang Farmasi Terbesar di Indonesia
Raffi Ahmad Bantah Terlibat...
Raffi Ahmad Bantah Terlibat Kasus Impor Blueray Cargo