Mengkaji Ulang Risiko,...
1/3
Indonesia Re Institute melalui iLearn Program sukses menggelar iLearn Thematic Webinar yang bertajuk Reimagining Risk: The Intersection of Insurance, Climate Change, and Disaster Preparedness. Webinar ini merupakan bentuk komitmen Indonesia Re dalam meningkatkan wawasan dan kesadaran akan dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana serta peran strategis Industri Perasuransian dalam mitigasi dan pemulihan dampak bencana.
Mengkaji Ulang Risiko,...
2/3
Indonesia Re Institute melalui iLearn Program sukses menggelar iLearn Thematic Webinar yang bertajuk Reimagining Risk: The Intersection of Insurance, Climate Change, and Disaster Preparedness. Webinar ini merupakan bentuk komitmen Indonesia Re dalam meningkatkan wawasan dan kesadaran akan dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana serta peran strategis Industri Perasuransian dalam mitigasi dan pemulihan dampak bencana.
Mengkaji Ulang Risiko,...
3/3
Webinar ini menghadirkan berbagai pakar di bidangnya, termasuk Prof. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Sc., Ph.D. - Head of Forest Protection, Institut Pertanian Bogor (IPB) Noor Syaifudin, Ph.D. - Senior Policy Analyst in Climate Fiscal & Finance, Kementerian Keuangan Republik Indonesia serta Dr. Ir. Woro Estiningtyas, M.Si - Expert Researcher, Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN).
Mengkaji Ulang Risiko,...
Mengkaji Ulang Risiko,...
Mengkaji Ulang Risiko,...

Mengkaji Ulang Risiko, Indonesia Re Bahas Strategi Asuransi dalam Mitigasi Perubahan Iklim  

Jum'at, 28 Februari 2025 - 12:25 WIB
A A A
Indonesia Re Institute melalui iLearn Program sukses menggelar iLearn Thematic Webinar yang bertajuk “Reimagining Risk: The Intersection of Insurance, Climate Change, and Disaster Preparedness”. Webinar ini merupakan bentuk komitmen Indonesia Re dalam meningkatkan wawasan dan kesadaran akan dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana serta peran strategis Industri Perasuransian dalam mitigasi dan pemulihan dampak bencana.

Webinar ini menghadirkan berbagai pakar di bidangnya, termasuk Prof. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Sc., Ph.D. - Head of Forest Protection, Institut Pertanian Bogor (IPB); Noor Syaifudin, Ph.D. - Senior Policy Analyst in Climate Fiscal & Finance, Kementerian Keuangan Republik Indonesia; serta Dr. Ir. Woro Estiningtyas, M.Si - Expert Researcher, Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN). Diskusi ini mengangkat isu utama tentang bagaimana perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko kebencanaan, implikasi perubahan iklim dan peningkatan risiko kebencanaan terhadap Industri Perasuransian, serta strategi kolaborasi antara Industri Perasuransian, Pemerintah, serta instansi-instansi terkait lainnya dalam upaya mitigasi risiko kebencanaan dan percepatan pemulihan dampak bencana.

Perubahan iklim telah menjadi isu global yang berdampak besar terhadap kehidupan manusia dan ekosistem. Perubahan pola cuaca yang ekstrem, naiknya permukaan laut, serta meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan, dan tanah longsor menjadi tantangan yang semakin nyata. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif industri perasuransian, menjadi kunci dalam mengelola risiko dan mempersiapkan mitigasi yang efektif.

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat yang hadir membuka acara, menyebut perubahan iklim berdampak signifikan terhadap risiko yang ditanggung industri asuransi, terutama dalam meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam seperti banjir, puting beliung, dan kebakaran hutan. Risiko yang sebelumnya dianggap sebagai "secondary perils" (bencana sekunder) kini menjadi lebih dominan dibandingkan "primary perils" (bencana utama seperti gempa dan tsunami). “Industri Perasuransian perlu bekerja sama dengan akademisi dan lembaga riset untuk memahami dan mengembangkan solusi yang bersifat end-to-end serta lebih efektif dalam menghadapi risiko perubahan iklim.” ujarnya.

Dampak perubahan iklim dan kebakaran hutan terjadi di berbagai negara, termasuk Kanada, Korea Selatan, serta Indonesia, khususnya di Kalimantan dan Sumatra. Penyebab dan kendala dalam pengendalian kebakaran terjadi akibat aktivitas ilegal seperti pembukaan lahan dan pembalakan liar.

“Rehabilitasi lahan terbakar sangat sulit karena minimnya pengawasan, keterbatasan regulasi, serta anggaran yang terbatas. Banyak regulasi yang justru bertentangan satu sama lain, sehingga penegakan hukum menjadi tidak efektif,” ujar Prof. Bambang Hero. Ia menambahkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga meningkatkan emisi karbon yang berkontribusi pada pemanasan global.

Sementara itu, Noor Syaifudin, Ph.D. menggarisbawahi pentingnya respons kebijakan fiskal dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. “Pemerintah Indonesia telah mengembangkan berbagai instrumen keuangan hijau, seperti green sukuk dan climate finance, untuk mendukung proyek ramah lingkungan dan menekan laju emisi karbon,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa sinergi antara sektor publik dan swasta sangat diperlukan untuk mencapai target pengurangan emisi yang ambisius.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Woro Estiningtyas dari BRIN menyoroti pentingnya riset dan teknologi dalam memahami pola risiko bencana akibat perubahan iklim. Perubahan iklim ekstrem, terutama El Nino dan La Nina, mengancam usaha tani dan ketahanan pangan di Indonesia. El Nino menyebabkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat, mengurangi curah hujan di Indonesia dan berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebaliknya, La Nina meningkatkan curah hujan, yang dapat menyebabkan banjir. Intensitas dampaknya tergantung pada kekuatan fenomena ini.

Salah satu strategi yang diusulkan adalah implementasi asuransi pertanian sebagai bentuk pelindungan bagi petani terhadap risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem. “Asuransi pertanian di Indonesia telah diinisiasi sejak 1982 dan berkembang hingga saat ini. Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) memberikan perlindungan bagi petani di mana skema pembayaran preminya 80% dibiayai oleh pemerintah dan 20% ditanggung oleh petani,” ujar Dr. Woro. Selain itu, pengembangan asuransi indeks iklim juga sedang dipertimbangkan untuk menyesuaikan perlindungan terhadap risiko iklim yang semakin tidak menentu.

Pentingnya Kolaborasi untuk Mitigasi Risiko

Webinar ini juga menyoroti bahwa sektor perasuransian perlu terus mengembangkan produk dan layanan yang inovatif dalam menghadapi risiko perubahan iklim. Hal ini mencakup asuransi bencana yang lebih komprehensif, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan finansial, serta kerja sama erat dengan pemerintah dalam membangun kebijakan mitigasi yang lebih kuat.

Melalui iLearn Thematic Webinar ini, Indonesia Re berharap dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada para pemangku kepentingan mengenai urgensi adaptasi terhadap risiko perubahan iklim dan bencana. Diharapkan, kolaborasi lintas sektor dapat semakin diperkuat guna menciptakan ketahanan yang lebih baik bagi masyarakat dan ekonomi Indonesia di masa depan.
(sra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Anda punya koleksi foto jalan-jalan yang keren, liburan tak terlupakan, atau foto indah penuh makna?
Kirim foto-foto Anda untuk tampil di Galerimu Unggah Foto
Foto Terkait
Indonesia Re Gelar Diskusi...
Indonesia Re Gelar Diskusi Intensif Tentang Risiko dan Asuransi Siber dalam Menghadapi Ancaman Siber
Peran Penting Keuangan...
Peran Penting Keuangan dalam Mengatasi Perubahan Iklim
Indonesia Re Gelar Seminar...
Indonesia Re Gelar Seminar Tahunan IAS 2025, Bahas Strategi dan Inovasi untuk Industri Asuransi Jiwa dan Kesehatan
Prabowo Bertemu Sekjen...
Prabowo Bertemu Sekjen PBB di Brasil, Bahas Palestina dan Perubahan Iklim
Kolaborasi Indonesia...
Kolaborasi Indonesia Re Group dan PT Asuransi Asei Indonesia dalam Meningkatkan Kapabilitas SDM
Indonesia Re Award 2023...
Indonesia Re Award 2023 Apresiasi Perusahaan Asuransi
Foto Terkini
Inovasi Baru Indomie...
Inovasi Baru Indomie Hadir Lewat Varian Goreng Cabe Ijo
16 jam yang lalu
FJGS 2026 Resmi Dibuka,...
FJGS 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Diskon Besar hingga Pameran UMKM
19 jam yang lalu
Suasana SPBU di Jakarta...
Suasana SPBU di Jakarta Usai Harga Pertamax Meroket menjadi Rp16.250 Per Liter
22 jam yang lalu
Diskon Hingga 50 Persen...
Diskon Hingga 50 Persen dan Hadiah Langsung! United Bike dan United E-Motor Meriahkan Jakarta Fair 2026
22 jam yang lalu
Suasana Pom Bensin Usai...
Suasana Pom Bensin Usai Kenaikan Harga Pertamax Nyaris Rp4.000 per Liter
23 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Warga Beralih ke Pertalite
23 jam yang lalu
Foto Terpopuler
Raih Guinness World...
Raih Guinness World Records, Layanan Umrah Indonesia Tembus Standar Global
Rupiah Tembus Rp18.000,...
Rupiah Tembus Rp18.000, Ukuran Tahu di Depok Berkurang 2 Sentimeter
Komisi VIII DPR dan...
Komisi VIII DPR dan Menteri Agama Bahas Pengawasan Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren
Raker Komisi IX DPR,...
Raker Komisi IX DPR, Menkes Paparkan Ancaman Krisis Dokter di Indonesia
Latihan Timnas Indonesia...
Latihan Timnas Indonesia Jelang Hadapi Mozambik
Indonesia Taklukkan...
Indonesia Taklukkan Mozambik Lewat Gol Tunggal Ole Romeny