MOVE-ID: Pusat Informasi Terpadu untuk Dukung Migrasi Tenaga Kerja yang Aman dan Tertib
Jakarta, 27 Juni 2025 — Untuk meningkatkan tata kelola migrasi tenaga kerja Indonesia serta memaksimalkan manfaat migrasi bagi pembangunan berkelanjutan, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH atas nama Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), bekerja sama dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), resmi meluncurkan MOVE-ID (Migration, Vocation, and Development – Indonesia) di dua lokasi, yaitu Bandung dan Mataram.
Peluncuran MOVE-ID dilakukan serentak pada Kamis, 19 Juni 2025. Pusat informasi ini dikelola bersama oleh GIZ dan BP2MI, dengan tujuan menyediakan akses informasi akurat, layanan konsultasi, dan pendampingan profesional bagi masyarakat Indonesia yang berminat bekerja di luar negeri—khususnya di Jerman serta negara-negara di Eropa, Asia, dan Asia Tenggara.
MOVE-ID juga memberikan dukungan bagi para pekerja migran yang telah kembali ke Tanah Air melalui layanan reintegrasi seperti akses ke peluang kerja, pelatihan kewirausahaan, dan layanan publik lainnya. Lokasi MOVE-ID berada di Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat (Bandung) untuk wilayah Indonesia barat, dan BP3MI Nusa Tenggara Barat (Mataram) untuk wilayah Indonesia timur.
Menjawab Kebutuhan Global dan Potensi Nasional
Kebutuhan tenaga kerja profesional di negara-negara seperti Jerman terus meningkat, khususnya di sektor kesehatan, teknik, manufaktur, dan konstruksi. Kajian Bertelsmann Foundation pada 2024 memproyeksikan bahwa Jerman membutuhkan sekitar 288.000 pekerja asing terampil per tahun hingga 2040. Di sisi lain, Indonesia memiliki populasi usia produktif yang melimpah dan terampil.
MOVE-ID hadir untuk memastikan migrasi tenaga kerja dilakukan melalui jalur resmi, adil, aman, dan bermanfaat secara timbal balik—baik bagi Indonesia sebagai negara asal, negara tujuan, maupun bagi pekerja migran itu sendiri.
Sayangnya, sebagian pekerja migran Indonesia masih berangkat melalui jalur non-reguler. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS 2023, hanya 65,6% pekerja migran Indonesia yang berangkat secara legal.
Cerita Rukke dan Asmuni: Dua Sisi Perjalanan Migran
Rukke Endari, calon pekerja migran di sektor kesehatan, sedang bersiap berangkat ke Jerman melalui skema kerja sama G to G Triple Win. Ia merupakan satu dari 129 calon perawat yang harus memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) keperawatan, sertifikat Bahasa Jerman minimal B1, serta mengikuti Fachkurs (kursus keahlian) sebagai prasyarat bekerja di sana.
“Dengan bekerja sebagai perawat di Jerman, saya berharap bisa memperbaiki ekonomi keluarga,” ungkap Rukke.
Sementara itu, Asmuni, purna pekerja migran asal Lombok, pernah bekerja di Korea Selatan (2005–2008). Setelah kembali, ia merintis usaha kuliner Bebek Merseng yang kini memiliki enam cabang dan mempekerjakan sesama mantan pekerja migran. Sebelum berangkat, Asmuni mengikuti pelatihan keterampilan otomotif dan bahasa Korea, serta mendapatkan pelatihan wirausaha dari BP2MI setelah kembali.
“Pelatihan tersebut sangat membantu saya dalam menyesuaikan diri ketika kembali ke Tanah Air. Semoga MOVE-ID bisa memfasilitasi teman-teman yang akan berangkat melalui jalur resmi dan yang sudah kembali agar bisa melihat peluang baru di dalam negeri,” ujar Asmuni.
Layanan Lengkap MOVE-ID
Sebagai bagian dari program global Pusat Migrasi dan Pembangunan (ZME), MOVE-ID memberikan layanan yang mencakup:
Konsultasi prosedur dan syarat migrasi reguler ke negara tujuan.
Perencanaan karier dan rujukan pelatihan kerja, kursus bahasa, dan pengakuan kualifikasi profesi.
Pendampingan pengurusan visa kerja.
Dukungan reintegrasi bagi pekerja migran yang kembali.
Makhdonal dari GIZ menegaskan, “GIZ mendukung migrasi tenaga kerja yang aman, tertib, dan berbasis keterampilan guna memastikan kemitraan yang setara dan saling menguntungkan. Kami berharap MOVE-ID dapat membantu pekerja migran dari awal hingga kembali ke Tanah Air.”