ASEAN–Jepang Perkuat Kerja Sama di Tengah Ketidakpastian Global Lewat Dialog FJCCIA ke-17
Selasa, 29 Juli 2025 - 18:38 WIB
A
A
A
Jakarta, 29 Juli 2025 – Federasi Kamar Dagang dan Industri Jepang di ASEAN (FJCCIA) menggelar Dialog ke-17 bersama Sekretaris Jenderal ASEAN, H.E. Dr. Kao Kim Hourn, di Sekretariat ASEAN, Jakarta. Pertemuan ini menyoroti penguatan kemitraan strategis ASEAN–Jepang di tengah tantangan global, termasuk proteksionisme dan ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan negara-negara besar.
Dialog ini dihadiri oleh perwakilan kamar dagang Jepang dari 10 negara ASEAN, serta pejabat dari Kementerian Ekonomi Jepang dan Japan External Trade Organization (JETRO). FJCCIA menyampaikan rekomendasi yang sejalan dengan Rencana Strategis Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2026–2030, berfokus pada empat pilar utama: rantai pasokan yang tangguh, ekonomi hijau dan berkelanjutan, ekonomi digital dan inovasi, serta ASEAN yang inklusif.
Ketua FJCCIA, Mr. Wakabayashi Koichi, menegaskan pentingnya integrasi “teknologi dan pengetahuan” dalam pembangunan ASEAN, bukan sekadar modal dan penciptaan lapangan kerja. Ia juga menggarisbawahi risiko meningkatnya hambatan terhadap perdagangan bebas dan dampaknya terhadap iklim bisnis.
Sorotan Rekomendasi Utama dari FJCCIA:
Rantai Pasokan: Dorongan untuk mengurangi hambatan perdagangan dan meningkatkan kerja sama logistik antarnegara ASEAN.
Ekonomi Hijau: Usulan pembentukan standar regional untuk perdagangan karbon dan energi terbarukan.
Digitalisasi dan Inovasi: Penanggulangan barang palsu di e-commerce, promosi e-government, dan tata kelola data lintas batas.
Inklusivitas ASEAN: Penguatan mobilitas tenaga kerja dan pengembangan SDM intra-regional.
Presiden JETRO, Mr. Kataoka, menyampaikan pentingnya keselarasan visi antara Jepang dan ASEAN dalam menghadapi tantangan global. Ia juga memperkenalkan arah strategis kerja sama JETRO ke depan: restrukturisasi rantai pasok, kolaborasi digital, dan transisi hijau.
FJCCIA, yang kini beranggotakan lebih dari 7.300 perusahaan di 9 negara ASEAN, telah secara konsisten mengadakan dialog tahunan dengan Sekretariat ASEAN sejak 2008. Tahun ini, dialog kembali digelar secara luring penuh, mempertegas komitmen Jepang untuk mendukung ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan dan bagian penting dalam rantai nilai global.
Dialog ini dihadiri oleh perwakilan kamar dagang Jepang dari 10 negara ASEAN, serta pejabat dari Kementerian Ekonomi Jepang dan Japan External Trade Organization (JETRO). FJCCIA menyampaikan rekomendasi yang sejalan dengan Rencana Strategis Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2026–2030, berfokus pada empat pilar utama: rantai pasokan yang tangguh, ekonomi hijau dan berkelanjutan, ekonomi digital dan inovasi, serta ASEAN yang inklusif.
Ketua FJCCIA, Mr. Wakabayashi Koichi, menegaskan pentingnya integrasi “teknologi dan pengetahuan” dalam pembangunan ASEAN, bukan sekadar modal dan penciptaan lapangan kerja. Ia juga menggarisbawahi risiko meningkatnya hambatan terhadap perdagangan bebas dan dampaknya terhadap iklim bisnis.
Sorotan Rekomendasi Utama dari FJCCIA:
Rantai Pasokan: Dorongan untuk mengurangi hambatan perdagangan dan meningkatkan kerja sama logistik antarnegara ASEAN.
Ekonomi Hijau: Usulan pembentukan standar regional untuk perdagangan karbon dan energi terbarukan.
Digitalisasi dan Inovasi: Penanggulangan barang palsu di e-commerce, promosi e-government, dan tata kelola data lintas batas.
Inklusivitas ASEAN: Penguatan mobilitas tenaga kerja dan pengembangan SDM intra-regional.
Presiden JETRO, Mr. Kataoka, menyampaikan pentingnya keselarasan visi antara Jepang dan ASEAN dalam menghadapi tantangan global. Ia juga memperkenalkan arah strategis kerja sama JETRO ke depan: restrukturisasi rantai pasok, kolaborasi digital, dan transisi hijau.
FJCCIA, yang kini beranggotakan lebih dari 7.300 perusahaan di 9 negara ASEAN, telah secara konsisten mengadakan dialog tahunan dengan Sekretariat ASEAN sejak 2008. Tahun ini, dialog kembali digelar secara luring penuh, mempertegas komitmen Jepang untuk mendukung ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan dan bagian penting dalam rantai nilai global.
(sra)