Darmadi Durianto dan PERPRINDO: Membangun Indonesia dari Lapangan
Sabtu, 08 November 2025 - 18:51 WIB
A
A
A
Di tengah pesatnya pertumbuhan industri pendingin dan tata udara, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan teknisi AC yang kompeten menjadi isu strategis yang tidak dapat diabaikan. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Elektronik Indonesia: Dari Pelaku Usaha untuk Masa Depan Indonesia”, yang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Darmadi Durianto, Anggota DPR RI Komisi VI.
FGD ini mempertemukan tiga asosiasi besar di sektor pendingin nasional — PERPRINDO (Perkumpulan Perusahaan Pendingin dan Refrigerasi Indonesia), APITU (Asosiasi Praktisi Pendingin dan Tata Udara Indonesia), serta ASISI Nusantara (Asosiasi Teknisi Refrigerasi dan Air Conditioner Nusantara). Pertemuan ini membahas penguatan TKDN, pengembangan SDM industri, serta kebijakan fiskal yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Hadir dalam forum tersebut antara lain Ketua Umum PERPRINDO Budi Mulia, Wakil Ketua Umum PERPRINDO Michael Budiman, dan Sekjen PERPRINDO Andy Arif Widjaja. Turut hadir pula Ketua Umum APITU Agus Susilo beserta jajaran pengurus, serta Ketua Umum ASISI Nusantara Nanang Hendra Wardana bersama jajaran pengurusnya.
“Teknisi AC Adalah Garda Terdepan Industri Pendingin Nasional”
Dalam forum tersebut, Prof. Darmadi menekankan bahwa keberhasilan industri pendingin Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi dan modal, tetapi juga pada manusia yang mengoperasikan serta merawat teknologi tersebut.
“Teknisi AC dan pendingin adalah ujung tombak di lapangan. Mereka bukan sekadar pekerja teknis, tetapi duta profesionalisme Indonesia. Jika SDM kita unggul dan terlatih, industri elektronik kita akan kuat dan mandiri,” tegas Darmadi di hadapan peserta.
Ia menambahkan bahwa di era transisi teknologi dan digitalisasi, peran teknisi semakin vital — mulai dari instalasi AC hemat energi, sistem pendingin pintar berbasis IoT, hingga manajemen refrigeran ramah lingkungan.
“Kita sedang menuju era industri yang membutuhkan kompetensi tinggi. Karena itu, teknisi kita harus dipersiapkan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan,” ujarnya.
Kolaborasi Asosiasi dan Dunia Pendidikan untuk SDM Unggul
Dalam FGD tersebut, APITU dan ASISI Nusantara memaparkan bahwa masih banyak teknisi di lapangan yang belum memiliki sertifikasi kompetensi resmi, padahal tuntutan terhadap standar kualitas dan keselamatan kerja semakin tinggi.
Menanggapi hal itu, Prof. Darmadi mendorong pembentukan Program Nasional Peningkatan Kompetensi Teknisi AC dan Pendingin Indonesia, yang melibatkan asosiasi industri, lembaga vokasi, serta pemerintah daerah.
“Kita harus membangun sistem pelatihan nasional berbasis industri, bukan hanya teori. Asosiasi seperti APITU dan ASISI sudah memiliki jaringan luas dan pengalaman praktis. Pemerintah tinggal memperkuat dukungan dan memperluas jangkauannya,” jelasnya.
Program ini diharapkan mampu mencetak teknisi bersertifikat berstandar nasional dan internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai basis tenaga ahli di bidang pendingin dan tata udara di kawasan Asia Tenggara.
TKDN dan SDM: Dua Sisi Kemandirian Nasional
Selain pengembangan SDM, diskusi juga membahas peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Prof. Darmadi menegaskan dukungannya terhadap penguatan TKDN sebagai bagian dari strategi kemandirian industri nasional.
“TKDN bukan sekadar mengganti komponen impor dengan produk lokal. Ia harus didukung oleh tenaga ahli lokal yang mampu merancang, memproduksi, dan merawat produk dalam negeri dengan kualitas dunia,” ujar anggota DPR yang dikenal dekat dengan kalangan industri tersebut.
Mendorong Kebijakan Pajak yang Pro-Pelatihan
Dalam sesi dialog terbuka, sejumlah pelaku UMKM menyampaikan tantangan mereka dalam menyelenggarakan pelatihan teknisi karena terbatasnya dukungan fiskal. Menanggapi hal tersebut, Prof. Darmadi berkomitmen memperjuangkan insentif pajak bagi perusahaan yang aktif melakukan pelatihan dan sertifikasi SDM.
“Kita harus mengubah paradigma fiskal: investasi pada SDM harus mendapat insentif, bukan disamakan dengan biaya biasa. Karena pelatihan SDM adalah investasi jangka panjang bagi bangsa,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini sejalan dengan arah kerja Komisi VI DPR RI yang mendorong peningkatan daya saing industri melalui kebijakan yang berpihak pada inovasi dan pengembangan manusia.
“Membangun SDM Bukan Beban, Tapi Kebanggaan”
FGD ditutup dengan pesan kuat dari Prof. Darmadi Durianto yang mendapat apresiasi luas dari para peserta.
“Kita sering membicarakan mesin, tapi lupa pada manusianya. Padahal SDM adalah mesin yang paling penting. Membangun SDM bukan beban anggaran, tapi kebanggaan nasional,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Para perwakilan asosiasi menyampaikan apresiasi atas komitmen dan perhatian nyata Prof. Darmadi terhadap pengembangan tenaga teknis nasional. Kehadiran beliau dinilai sebagai bukti bahwa masih ada wakil rakyat yang benar-benar memahami persoalan industri dari akar rumput.
FGD ini mempertemukan tiga asosiasi besar di sektor pendingin nasional — PERPRINDO (Perkumpulan Perusahaan Pendingin dan Refrigerasi Indonesia), APITU (Asosiasi Praktisi Pendingin dan Tata Udara Indonesia), serta ASISI Nusantara (Asosiasi Teknisi Refrigerasi dan Air Conditioner Nusantara). Pertemuan ini membahas penguatan TKDN, pengembangan SDM industri, serta kebijakan fiskal yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Hadir dalam forum tersebut antara lain Ketua Umum PERPRINDO Budi Mulia, Wakil Ketua Umum PERPRINDO Michael Budiman, dan Sekjen PERPRINDO Andy Arif Widjaja. Turut hadir pula Ketua Umum APITU Agus Susilo beserta jajaran pengurus, serta Ketua Umum ASISI Nusantara Nanang Hendra Wardana bersama jajaran pengurusnya.
“Teknisi AC Adalah Garda Terdepan Industri Pendingin Nasional”
Dalam forum tersebut, Prof. Darmadi menekankan bahwa keberhasilan industri pendingin Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi dan modal, tetapi juga pada manusia yang mengoperasikan serta merawat teknologi tersebut.
“Teknisi AC dan pendingin adalah ujung tombak di lapangan. Mereka bukan sekadar pekerja teknis, tetapi duta profesionalisme Indonesia. Jika SDM kita unggul dan terlatih, industri elektronik kita akan kuat dan mandiri,” tegas Darmadi di hadapan peserta.
Ia menambahkan bahwa di era transisi teknologi dan digitalisasi, peran teknisi semakin vital — mulai dari instalasi AC hemat energi, sistem pendingin pintar berbasis IoT, hingga manajemen refrigeran ramah lingkungan.
“Kita sedang menuju era industri yang membutuhkan kompetensi tinggi. Karena itu, teknisi kita harus dipersiapkan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan,” ujarnya.
Kolaborasi Asosiasi dan Dunia Pendidikan untuk SDM Unggul
Dalam FGD tersebut, APITU dan ASISI Nusantara memaparkan bahwa masih banyak teknisi di lapangan yang belum memiliki sertifikasi kompetensi resmi, padahal tuntutan terhadap standar kualitas dan keselamatan kerja semakin tinggi.
Menanggapi hal itu, Prof. Darmadi mendorong pembentukan Program Nasional Peningkatan Kompetensi Teknisi AC dan Pendingin Indonesia, yang melibatkan asosiasi industri, lembaga vokasi, serta pemerintah daerah.
“Kita harus membangun sistem pelatihan nasional berbasis industri, bukan hanya teori. Asosiasi seperti APITU dan ASISI sudah memiliki jaringan luas dan pengalaman praktis. Pemerintah tinggal memperkuat dukungan dan memperluas jangkauannya,” jelasnya.
Program ini diharapkan mampu mencetak teknisi bersertifikat berstandar nasional dan internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai basis tenaga ahli di bidang pendingin dan tata udara di kawasan Asia Tenggara.
TKDN dan SDM: Dua Sisi Kemandirian Nasional
Selain pengembangan SDM, diskusi juga membahas peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Prof. Darmadi menegaskan dukungannya terhadap penguatan TKDN sebagai bagian dari strategi kemandirian industri nasional.
“TKDN bukan sekadar mengganti komponen impor dengan produk lokal. Ia harus didukung oleh tenaga ahli lokal yang mampu merancang, memproduksi, dan merawat produk dalam negeri dengan kualitas dunia,” ujar anggota DPR yang dikenal dekat dengan kalangan industri tersebut.
Mendorong Kebijakan Pajak yang Pro-Pelatihan
Dalam sesi dialog terbuka, sejumlah pelaku UMKM menyampaikan tantangan mereka dalam menyelenggarakan pelatihan teknisi karena terbatasnya dukungan fiskal. Menanggapi hal tersebut, Prof. Darmadi berkomitmen memperjuangkan insentif pajak bagi perusahaan yang aktif melakukan pelatihan dan sertifikasi SDM.
“Kita harus mengubah paradigma fiskal: investasi pada SDM harus mendapat insentif, bukan disamakan dengan biaya biasa. Karena pelatihan SDM adalah investasi jangka panjang bagi bangsa,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan ini sejalan dengan arah kerja Komisi VI DPR RI yang mendorong peningkatan daya saing industri melalui kebijakan yang berpihak pada inovasi dan pengembangan manusia.
“Membangun SDM Bukan Beban, Tapi Kebanggaan”
FGD ditutup dengan pesan kuat dari Prof. Darmadi Durianto yang mendapat apresiasi luas dari para peserta.
“Kita sering membicarakan mesin, tapi lupa pada manusianya. Padahal SDM adalah mesin yang paling penting. Membangun SDM bukan beban anggaran, tapi kebanggaan nasional,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Para perwakilan asosiasi menyampaikan apresiasi atas komitmen dan perhatian nyata Prof. Darmadi terhadap pengembangan tenaga teknis nasional. Kehadiran beliau dinilai sebagai bukti bahwa masih ada wakil rakyat yang benar-benar memahami persoalan industri dari akar rumput.
(sra)