Ancaman Siber di Era...
1/3
Ancaman Siber di Era AI Meningkat, BDO Indonesia Dorong Integrasi AI Governance dan Perlindungan Data
Ancaman Siber di Era...
2/3
Associate Director IT & Digital BDO Indonesia Reza Aminy
Ancaman Siber di Era...
3/3
IT Advisory Partner Erikman Pardamean
Ancaman Siber di Era...
Ancaman Siber di Era...
Ancaman Siber di Era...

Ancaman Siber di Era AI Meningkat, BDO Indonesia Dorong Integrasi AI Governance dan Perlindungan Data

Senin, 25 Mei 2026 - 17:55 WIB
A A A
Jakarta - Seiring dengan pesatnya adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), cloud dan transformasi digital, fokus perusahaan kini tidak lagi hanya pada inovasi tetapi juga pada kepercayaan digital (digital trust), tata kelola dan akuntabilitas. Ditengah kompleksitas lanskap digital saat ini, organisasi dituntut untuk tidak hanya bergerak cepat dalam inovasi, tetapi juga mampu mengelola risiko yang semakin terintegrasi antara teknologi, keamanan siber dan perlindungan data.

Di Indonesia, urgensi ini semakin nyata. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 3,6 miliar anomali serangan siber pada tahun 2025.yang menunjukkan bahwa ancaman siber tidak lagi bersifat sporadis, melainkan masif dan berkelanjutan. Disaat yang sama, implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) juga mempertegas bahwa perlindungan data tidak lagi sekadar isu kepatuhan, melainkan telah menjadi prioritas hukum, finansial dan reputasi bagi perusahaan.

Sebagai respons terhadap dinamika tersebut, BDO di Indonesia terus memperkuat kapabilitas layanannya dibidang IT Advisory melalui penunjukan Erikman Pardamean sebagai IT Advisory Partner. Ia dikenal memiliki pengalaman luas dalam membantu organisasi menghadapi tantangan teknologi yang semakin kompleks, khususnya di area IT GRC, cybersecurity, privacy dan AI governance.

Ia telah mendukung berbagai organisasi lintas sektor, termasuk sektor keuangan, BUMN dan industri digital. Menurut Erikman Pardamean, perkembangan teknologi seperti AI turut membawa tantangan baru yang perlu diantisipasi secara menyeluruh.

“Adopsi AI yang semakin cepat membuka peluang besar bagi bisnis, namun disaat yang sama juga menghadirkan risiko baru, seperti potensi penyalahgunaan data, bias algoritma hingga kurangnya transparansi. Hal ini membuat kebutuhan akan tata kelola yang kuat dan pengawasan yang bertanggung jawab menjadi semakin krusial,” ujar Erikman pada Minggu (24/5).

Erikman melihat bahwa tantangan terbesar yang dihadapi organisasi saat ini bukan hanya pada kompleksitas teknologi, tetapi pada bagaimana mengelola keterkaitan antara AI, cybersecurity dan perlindungan data secara menyeluruh. Dalam banyak kasus, ketiga aspek ini masih dikelola secara terpisah, sehingga menciptakan celah risiko yang justru dapat dimanfaatkan oleh pelaku serangan siber.

Lebih lanjut, Reza Aminy, selaku Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia menegaskan pentingnya awareness dari semua pihak yang terlibat dalam AI, cybersecurity dan perlindungan data. “Pemahaman yang komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk membangun sinergi yang kuat. Dengan adanya kesadaran yang terintegrasi, organisasi tidak hanya lebih siap memitigasi risiko baru yang dibawa oleh AI, seperti potensi penyalahgunaan data dan bias algoritma, tetapi juga mampu memastikan kepatuhan terhadap regulasi, menjaga reputasi bisnis dan pada akhirnya membangun fondasi digital trust yang berkelanjutan di mata publik,” ungkap Reza.

Menanggapi perubahan lanskap risiko digital tersebut, Johanna Gani, selaku salah satu leader BDO di Indonesia, menilai bahwa membangun kepercayaan digital saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih luas dari sekadar investasi teknologi. Menurutnya, organisasi perlu memastikan bahwa tata kelola, budaya dan pengambilan keputusan berkembang seiring dengan percepatan inovasi.

“Di era ketika teknologi berkembang lebih cepat dari sebelumnya, kepercayaan menjadi aset yang sama pentingnya dengan inovasi itu sendiri. Organisasi perlu melihat AI, cybersecurity dan perlindungan data sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan hanya fungsi teknis atau kepatuhan.

Ketika ketiga aspek ini berjalan selaras, perusahaan tidak hanya lebih siap menghadapi risiko, tetapi juga lebih mampu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan, investor, regulator dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Johanna. Sinergi antara ketiga elemen tersebut kini menjadi kunci dalam membangun kepercayaan digital yang berkelanjutan.

Pendekatan yang terintegrasi tidak hanya membantu organisasi dalam mengurangi risiko, tetapi juga meningkatkan kesiapan dalam menghadapi dinamika regulasi, ekspektasi stakeholder serta perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Tanpa sinergi yang kuat, upaya inovasi justru berpotensi memperbesar eksposur risiko yang dapat berdampak langsung pada keberlangsungan bisnis dan reputasi perusahaan. “Kedepan, tantangan terbesar bagi organisasi bukan lagi sekadar bagaimana mengadopsi teknologi, tetapi bagaimana memastikan bahwa setiap inovasi berjalan seiring dengan kepercayaan. AI, cybersecurity, dan perlindungan data tidak bisa lagi dipandang sebagai tiga fungsi yang terpisah, melainkan sebagai satu pondasi yang saling terkait dalam membangun digital trust. Organisasi yang mampu menyelaraskan ketiganya dengan baik tidak hanya akan lebih resilien terhadap risiko, tetapi juga memiliki keunggulan kompetitif dalam memenangkan kepercayaan pasar dan stakeholder,” tambah Erikman.

Melalui penguatan kapabilitas IT Advisory, BDO di Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung organisasi dalam membangun fondasi digital trust yang kuat, melalui pendekatan yang mengintegrasikan inovasi, keamanan, dan tata kelola secara berkelanjutan.
(sra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Anda punya koleksi foto jalan-jalan yang keren, liburan tak terlupakan, atau foto indah penuh makna?
Kirim foto-foto Anda untuk tampil di Galerimu Unggah Foto
Foto Terkait
Capaian Kinerja Pemberantasan...
Capaian Kinerja Pemberantasan Perjudian Online dan Keamanan Siber dan Perlindungan Data
Perkuat Keamanan Digital...
Perkuat Keamanan Digital di Era Cloud dan AI, BDO di Indonesia Tekankan Pentingnya Ketahanan Siber
Indonesia Re Gelar Diskusi...
Indonesia Re Gelar Diskusi Intensif Tentang Risiko dan Asuransi Siber dalam Menghadapi Ancaman Siber
Aptika Kominfo Gelar...
Aptika Kominfo Gelar Webinar Perlindungan Data Pribadi dan Keterbukaan Informasi Dalam Era Digtal
Metrodata dan FPT Berkolaborasi...
Metrodata dan FPT Berkolaborasi untuk Memimpin Transformasi Keamanan Siber dan AI di Indonesia
Aptika Kominfo Gelar...
Aptika Kominfo Gelar Webinar Literasi Digital: Tantangan Era Digital, Perlindungan Data Pribadi
Foto Terkini
Lesbumi PBNU Serahkan...
Lesbumi PBNU Serahkan Petisi Penolakan Aturan Turunan PP 28/2024 kepada Kementerian Kesehatan
15 jam yang lalu
Perkuat Sinergi Bilateral,...
Perkuat Sinergi Bilateral, KADIN DKI Jakarta Sukses Perluas Pasar UMKM ke Jepang Jilid Kedua
1 hari yang lalu
TCL Tampilkan Inovasi...
TCL Tampilkan Inovasi Teknologi Rumah Tangga dan Hiburan di Jakarta Fair 2026
1 hari yang lalu
OJK Sita Aset Rp113,97...
OJK Sita Aset Rp113,97 Miliar Terkait Kasus Asuransi Prolife Indonesia
1 hari yang lalu
Teater Koma Pentaskan...
Teater Koma Pentaskan Kembali 'Rumah Sakit Jiwa'
1 hari yang lalu
Diduga Terima Gratifikasi...
Diduga Terima Gratifikasi Rp17 Miliar, Mantan Sekjen MPR Ditahan KPK
2 hari yang lalu
Foto Terpopuler
Teater Koma Pentaskan...
Teater Koma Pentaskan Kembali 'Rumah Sakit Jiwa'
Diduga Terima Gratifikasi...
Diduga Terima Gratifikasi Rp17 Miliar, Mantan Sekjen MPR Ditahan KPK
Masuki Hari ke-10, Kebakaran...
Masuki Hari ke-10, Kebakaran TPA Jatiwaringin Tinggal Sisakan Bara Api
Kapoksi Gerindra Muhammad...
Kapoksi Gerindra Muhammad Rahul Dukung Pengusutan Korupsi Batu Bara
Weplay Universe Resmi...
Weplay Universe Resmi Hadir di Jakarta, Ruang K-Entertainment Pertama di Indonesia
OJK Sita Aset Rp113,97...
OJK Sita Aset Rp113,97 Miliar Terkait Kasus Asuransi Prolife Indonesia