Advertisement

Hari Guru Nasional: BPIP Dorong Guru Tarakan Hadapi Tantangan Polarisasi Digital

Selasa, 25 November 2025 - 20:20 WIB
Advertisement
TARAKAN — Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjadikan Tarakan sebagai salah satu titik strategis penguatan ideologi negara. Kegiatan Penguatan Nilai-Nilai Pancasila sebagai Ideologi Negara dan Pondasi Bangsa Menuju Indonesia Raya itu digelar Selasa, (25/11), bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional. Ratusan peserta hadir dari unsur pemerintah daerah, tokoh agama, organisasi masyarakat, pemuda, hingga para pendidik.

Kepala BPIP, Yudian Wahyudi menegaskan bahwa pembangunan karakter bangsa kini menjadi prioritas nasional. Menurutnya, penguatan Pancasila harus bergerak paralel dengan penguatan ekosistem pendidikan.

“Guru adalah pilar pembentukan karakter bangsa. Di momentum Hari Guru Nasional ini, kita perlu mengingat bahwa tanpa guru yang berpegang pada nilai-nilai Pancasila, mustahil melahirkan generasi yang berintegritas,” kata Yudian.

Yudian menambahkan bahwa pemerintah pusat memberi perhatian besar pada pembangunan karakter bangsa sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.

“Pembangunan manusia Indonesia tidak hanya soal keterampilan teknis, tetapi karakter dan integritas. Pancasila adalah fondasinya,” ucapnya.

Ia juga menyoroti tekanan sosial pada wilayah perbatasan dan kota-kota multikultural seperti Tarakan, yang menurutnya membutuhkan pendekatan pembinaan ideologi yang lebih terstruktur.

Wali Kota Tarakan, Khairul menilai, kegiatan BPIP relevan dengan karakter sosial Tarakan yang selama ini dikenal stabil dan toleran. Ia menegaskan bahwa keberagaman di kotanya bukan sekadar fakta demografis, tetapi praktik sosial yang hidup.

“Keragaman di Tarakan adalah modal sosial. Warga hidup saling menghormati, dan ini mencerminkan nilai Pancasila yang sudah teruji,” ujarnya.

Tarakan sebagai kota transit yang menerima arus pendatang dari berbagai daerah, menurut Khairul memerlukan penguatan literasi nilai kebangsaan agar tetap terjaga dari gesekan sosial.

Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, Prakoso mengingatkan bahwa ancaman terhadap nilai Pancasila kini sebagian besar datang dari ruang digital. Ia menyebut maraknya disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi politik sebagai tantangan paling serius.

“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ruang digital mempercepat penyebaran intoleransi. Ini harus dihadapi dengan sosialisasi yang lebih masif dan adaptif,” katanya.

Prakoso menyebut, BPIP akan memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah dan lembaga pendidikan untuk memperkuat literasi digital berbasis Pancasila, terutama bagi generasi muda dan kelompok pendidik yang menjadi garda depan.

Kegiatan ini menghadirkan sesi diskusi tentang toleransi, perubahan teknologi, dan resilien generasi muda menghadapi arus informasi yang kian tak terkontrol. BPIP menyatakan akan menindaklanjuti program tersebut dengan pendampingan lanjutan di Tarakan dan wilayah Kalimantan Utara.
(sra)
Advertisement
Tim Editor :
Isra Triansyah
Isra Triansyah
Editor
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Advertisement