Global Mediacom (BMTR) Catat Pendapatan Rp10,05 Triliun di 2024, Program Reguler Masih Jadi Tulang Punggung
Senin, 30 Juni 2025 - 23:32 WIB
A
A
A
JAKARTA – PT Global Mediacom Tbk (BMTR) mencatatkan pendapatan sebesar Rp10,05 triliun sepanjang tahun 2024. Sebagian besar pendapatan, yaitu 71%, berasal dari program reguler, sementara 29% sisanya disumbang oleh program spesial.
Direktur Utama BMTR, Hary Tanoesoedibjo, menyampaikan bahwa dominasi program reguler menunjukkan kondisi yang relatif stabil di tengah persaingan ketat industri media dan tren penurunan belanja iklan.
“Kalau kita lihat dari sisi tipe iklan, kontribusi iklan di program reguler mencapai 76%, sedangkan non-reguler 24%. Ini mencerminkan situasi yang sehat, meski pasar iklan di Indonesia sedang mengalami penurunan,” ungkapnya dalam RUPS BMTR di Jakarta, Senin (30/6/2025).
Penurunan Iklan Digital, Kenaikan Pendapatan Konten
Sektor iklan, baik digital maupun non-digital, menyumbang pendapatan sebesar Rp5,83 triliun, turun 12% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai Rp6,63 triliun.
Sementara itu, pendapatan dari konten dan IP menunjukkan pertumbuhan signifikan, yakni mencapai Rp1,87 triliun, naik 47% dari tahun sebelumnya (Rp1,27 triliun). Pendapatan layanan langganan (subscription) juga meningkat sebesar 44% menjadi Rp714 miliar.
Untuk segmen TV berbayar dan broadband, BMTR mencatat pendapatan sebesar Rp1,6 triliun, turun dari Rp2,07 triliun tahun sebelumnya. Namun, pendapatan lainnya seperti dari layanan tambahan naik menjadi Rp313 miliar, atau tumbuh 4% dibandingkan Rp300 miliar di 2023.
“TV berbayar memang mulai tergerus di wilayah perkotaan. Karena itu, kami memfokuskan pengembangan ke kota-kota kecil. Strategi ini cukup berhasil, saat ini PTV memiliki 14,4 juta pelanggan,” jelas Hary Tanoe.
Jika dikalikan dengan jumlah anggota keluarga (sekitar empat orang), maka potensi jangkauan PTV mencapai 56–60 juta orang. Menurutnya, pasar kini terbagi: di perkotaan lebih banyak menggunakan broadband, sedangkan TV satelit lebih cocok untuk secondary market.
Laba Bersih dan Efisiensi Biaya
Dalam laporan keuangan 2024, BMTR mencatat laba kotor sebesar Rp4,03 triliun dan laba bersih Rp537,39 miliar. Beban langsung tercatat Rp6,01 triliun, menurun dari Rp6,17 triliun. Beban umum dan administrasi juga berkurang menjadi Rp2,29 triliun, dari sebelumnya Rp2,42 triliun.
Namun, beban keuangan meningkat menjadi Rp799,68 miliar dari Rp767,43 miliar. Perusahaan juga mencatat kerugian selisih kurs Rp16,94 miliar, berbalik dari laba Rp1,37 miliar pada 2023.
Direktur Global Mediacom, Ruby Panjaitan, menegaskan bahwa tidak ada pembagian dividen untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2024. Laba bersih sebesar Rp1 miliar dialokasikan sebagai dana cadangan, sedangkan sisanya sebagai laba ditahan untuk memperkuat permodalan dan mendukung pengembangan segmen digital yang memerlukan investasi berkelanjutan, baik dari sisi teknologi, konten, maupun SDM.
“Kami akan fokus untuk memperkuat segmen digital, karena di situlah masa depan industri media berada,” pungkas Ruby.
Direktur Utama BMTR, Hary Tanoesoedibjo, menyampaikan bahwa dominasi program reguler menunjukkan kondisi yang relatif stabil di tengah persaingan ketat industri media dan tren penurunan belanja iklan.
“Kalau kita lihat dari sisi tipe iklan, kontribusi iklan di program reguler mencapai 76%, sedangkan non-reguler 24%. Ini mencerminkan situasi yang sehat, meski pasar iklan di Indonesia sedang mengalami penurunan,” ungkapnya dalam RUPS BMTR di Jakarta, Senin (30/6/2025).
Penurunan Iklan Digital, Kenaikan Pendapatan Konten
Sektor iklan, baik digital maupun non-digital, menyumbang pendapatan sebesar Rp5,83 triliun, turun 12% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai Rp6,63 triliun.
Sementara itu, pendapatan dari konten dan IP menunjukkan pertumbuhan signifikan, yakni mencapai Rp1,87 triliun, naik 47% dari tahun sebelumnya (Rp1,27 triliun). Pendapatan layanan langganan (subscription) juga meningkat sebesar 44% menjadi Rp714 miliar.
Untuk segmen TV berbayar dan broadband, BMTR mencatat pendapatan sebesar Rp1,6 triliun, turun dari Rp2,07 triliun tahun sebelumnya. Namun, pendapatan lainnya seperti dari layanan tambahan naik menjadi Rp313 miliar, atau tumbuh 4% dibandingkan Rp300 miliar di 2023.
“TV berbayar memang mulai tergerus di wilayah perkotaan. Karena itu, kami memfokuskan pengembangan ke kota-kota kecil. Strategi ini cukup berhasil, saat ini PTV memiliki 14,4 juta pelanggan,” jelas Hary Tanoe.
Jika dikalikan dengan jumlah anggota keluarga (sekitar empat orang), maka potensi jangkauan PTV mencapai 56–60 juta orang. Menurutnya, pasar kini terbagi: di perkotaan lebih banyak menggunakan broadband, sedangkan TV satelit lebih cocok untuk secondary market.
Laba Bersih dan Efisiensi Biaya
Dalam laporan keuangan 2024, BMTR mencatat laba kotor sebesar Rp4,03 triliun dan laba bersih Rp537,39 miliar. Beban langsung tercatat Rp6,01 triliun, menurun dari Rp6,17 triliun. Beban umum dan administrasi juga berkurang menjadi Rp2,29 triliun, dari sebelumnya Rp2,42 triliun.
Namun, beban keuangan meningkat menjadi Rp799,68 miliar dari Rp767,43 miliar. Perusahaan juga mencatat kerugian selisih kurs Rp16,94 miliar, berbalik dari laba Rp1,37 miliar pada 2023.
Direktur Global Mediacom, Ruby Panjaitan, menegaskan bahwa tidak ada pembagian dividen untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2024. Laba bersih sebesar Rp1 miliar dialokasikan sebagai dana cadangan, sedangkan sisanya sebagai laba ditahan untuk memperkuat permodalan dan mendukung pengembangan segmen digital yang memerlukan investasi berkelanjutan, baik dari sisi teknologi, konten, maupun SDM.
“Kami akan fokus untuk memperkuat segmen digital, karena di situlah masa depan industri media berada,” pungkas Ruby.
(sra)