Fahri Hamzah : Prabowo Fokus Putus Rantai Ketimpangan Kaya dan Miskin
Sabtu, 13 Juni 2026 - 09:43 WIB
A
A
A
Jakarta - Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah menegaskan bahwa salah satu fokus utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah memutus rantai ketimpangan antara kelompok masyarakat paling kaya dan paling miskin di Indonesia.
Hal itu disampaikan Fahri saat menanggapi berbagai kritik dan keresahan publik terkait kondisi ekonomi nasional.
Menurut Fahri, pemerintah saat ini tidak hanya berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Yang kedua, setelah kita punya uang dan kita mesti mulai dari sekarang, kita harus memutus rantai ketimpangan antara yang paling kaya dan sangat kaya dengan yang paling miskin dan sangat miskin. Karena gini koefisien kita juga menunjukkan hal yang sama," ungkap Fahri, yang dikutip, Jumat (12/6/2026).
Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini menjelaskan, langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah menghentikan kebocoran negara yang selama ini mengurangi manfaat kekayaan nasional bagi rakyat.
"Pertama kita mengakhiri kebocoran korupsi dan perampokan sumber daya alam yang selama ini dibiarkan terjadi," ujarnya menambahkan.
Fahri menilai ketimpangan masih menjadi tantangan besar Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi selama ini belum sepenuhnya mampu mempersempit jarak antara kelompok kaya dan masyarakat yang berada di lapisan bawah.
"Pertumbuhan ekonomi kita ini flat. Jumlah orang miskinnya itu nambah atau berkurang sedikit. Jumlah kelas menengahnya juga flat. Tapi jumlah orang kayanya itu luar biasa melompat dan itu menciptakan ketimpangan," tegasnya.
Sementara itu Ketua DPW Partai Gelora Riau Iskandar menilai pernyataan Fahri menunjukkan bahwa pemerintah sedang berupaya menjawab salah satu kegelisahan utama masyarakat, yakni kesenjangan ekonomi yang masih dirasakan diberbagai daerah.
Menurut Iskandar, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan kesempatan yang lebih adil bagi seluruh rakyat.
"Yang disampaikan Bang Fahri menunjukkan bahwa pemerintah memahami persoalan mendasar yang dirasakan masyarakat. Ketika pertumbuhan ekonomi tidak diikuti pemerataan, maka akan muncul rasa tertinggal di sebagian kelompok masyarakat. Karena itu fokus memutus rantai ketimpangan menjadi agenda yang sangat penting," kata Iskandar.
Ia menambahkan, berbagai kebijakan seperti pemberantasan kebocoran anggaran, penguatan hilirisasi, dan program-program yang menyentuh masyarakat harus dipandang sebagai upaya memperluas manfaat pembangunan agar tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
"Demokrasi memberi ruang bagi kritik dan aspirasi masyarakat. Pada saat yang sama, pemerintah perlu terus menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan benar-benar diarahkan untuk memperkecil kesenjangan dan memperkuat kelas menengah Indonesia," ujarnya.
Hal itu disampaikan Fahri saat menanggapi berbagai kritik dan keresahan publik terkait kondisi ekonomi nasional.
Menurut Fahri, pemerintah saat ini tidak hanya berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Yang kedua, setelah kita punya uang dan kita mesti mulai dari sekarang, kita harus memutus rantai ketimpangan antara yang paling kaya dan sangat kaya dengan yang paling miskin dan sangat miskin. Karena gini koefisien kita juga menunjukkan hal yang sama," ungkap Fahri, yang dikutip, Jumat (12/6/2026).
Wakil Ketua Umum Partai Gelora ini menjelaskan, langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah menghentikan kebocoran negara yang selama ini mengurangi manfaat kekayaan nasional bagi rakyat.
"Pertama kita mengakhiri kebocoran korupsi dan perampokan sumber daya alam yang selama ini dibiarkan terjadi," ujarnya menambahkan.
Fahri menilai ketimpangan masih menjadi tantangan besar Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi selama ini belum sepenuhnya mampu mempersempit jarak antara kelompok kaya dan masyarakat yang berada di lapisan bawah.
"Pertumbuhan ekonomi kita ini flat. Jumlah orang miskinnya itu nambah atau berkurang sedikit. Jumlah kelas menengahnya juga flat. Tapi jumlah orang kayanya itu luar biasa melompat dan itu menciptakan ketimpangan," tegasnya.
Sementara itu Ketua DPW Partai Gelora Riau Iskandar menilai pernyataan Fahri menunjukkan bahwa pemerintah sedang berupaya menjawab salah satu kegelisahan utama masyarakat, yakni kesenjangan ekonomi yang masih dirasakan diberbagai daerah.
Menurut Iskandar, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan kesempatan yang lebih adil bagi seluruh rakyat.
"Yang disampaikan Bang Fahri menunjukkan bahwa pemerintah memahami persoalan mendasar yang dirasakan masyarakat. Ketika pertumbuhan ekonomi tidak diikuti pemerataan, maka akan muncul rasa tertinggal di sebagian kelompok masyarakat. Karena itu fokus memutus rantai ketimpangan menjadi agenda yang sangat penting," kata Iskandar.
Ia menambahkan, berbagai kebijakan seperti pemberantasan kebocoran anggaran, penguatan hilirisasi, dan program-program yang menyentuh masyarakat harus dipandang sebagai upaya memperluas manfaat pembangunan agar tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
"Demokrasi memberi ruang bagi kritik dan aspirasi masyarakat. Pada saat yang sama, pemerintah perlu terus menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan benar-benar diarahkan untuk memperkecil kesenjangan dan memperkuat kelas menengah Indonesia," ujarnya.
(sra)