Jejak Jalur Rempah Hidupkan Iftar Ramadan Bersejarah di Kota Tua Jakarta
Rabu, 11 Maret 2026 - 14:18 WIB
Advertisement
JAKARTA - Jejak perdagangan rempah Nusantara kembali dihidupkan melalui pengalaman berbuka puasa tematik. Program bertajuk The Spice Route of Indonesia Iftar berlangsung sepanjang Ramadan 1447 Hijriah hingga 20 Maret 2026. House of Tugu Jakarta menjadi tuan rumah digelarnya pengalaman kuliner tersebut. Properti heritage ini berdiri di kawasan Kota Tua Jakarta. Wilayah tersebut dahulu menjadi pusat distribusi rempah dunia.
Kisah rempah berakar dari peristiwa penting pada 30 Mei 1619. Saat itu Belanda membangun Batavia sebagai markas Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kota tersebut kemudian menentukan harga cengkih dunia sebelum dikirim ke Amsterdam. Setiap butir pala Maluku pernah melintasi pesisir utara Jawa tersebut. Kini House of Tugu Jakarta berdiri di jantung kawasan perdagangan bersejarah itu. Representative House Of Tugu Jakarta Shafa Haura menegaskan makna sejarah tersebut. “Rempah bukan sekadar bahan dapur, tetapi memori Nusantara,” ujar Shafa.
Rangkaian berbuka menghadirkan perjalanan rasa dari berbagai wilayah Nusantara. Gulai kambing padang menjadi pembuka dengan kuah rempah pekat berlapis rasa. Bebek betutu gianyar bali disajikan utuh dengan pasta rempah khas. Hidangan penutup menghadirkan kurma medjool isi kacang mede panggang. Kolak biji salak gula aren melengkapi sajian dengan sentuhan jahe hangat. Iftar Royale Espresso dari Babah Koffie by Kawisari Coffee turut memperkaya pengalaman berbuka.
Program Ramadan berlanjut hingga Lebaran melalui The Archipelago Legacy di Restoran Jajaghu. Menu utama menghadirkan lamb of the spice isles bergaya Bedouin. Kambing dipanggang perlahan di antara batu hitam membara dan pasir panas. Royal lebaran ketupat menyatukan rasa Jawa, Sunda, Padang, Batavia, dan Blitar. Tamu juga dapat memilih hampers kopi single origin Kawisari Coffee serta paket menginap Lebaran eksklusif di kawasan bersejarah tersebut. *
Kisah rempah berakar dari peristiwa penting pada 30 Mei 1619. Saat itu Belanda membangun Batavia sebagai markas Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kota tersebut kemudian menentukan harga cengkih dunia sebelum dikirim ke Amsterdam. Setiap butir pala Maluku pernah melintasi pesisir utara Jawa tersebut. Kini House of Tugu Jakarta berdiri di jantung kawasan perdagangan bersejarah itu. Representative House Of Tugu Jakarta Shafa Haura menegaskan makna sejarah tersebut. “Rempah bukan sekadar bahan dapur, tetapi memori Nusantara,” ujar Shafa.
Rangkaian berbuka menghadirkan perjalanan rasa dari berbagai wilayah Nusantara. Gulai kambing padang menjadi pembuka dengan kuah rempah pekat berlapis rasa. Bebek betutu gianyar bali disajikan utuh dengan pasta rempah khas. Hidangan penutup menghadirkan kurma medjool isi kacang mede panggang. Kolak biji salak gula aren melengkapi sajian dengan sentuhan jahe hangat. Iftar Royale Espresso dari Babah Koffie by Kawisari Coffee turut memperkaya pengalaman berbuka.
Program Ramadan berlanjut hingga Lebaran melalui The Archipelago Legacy di Restoran Jajaghu. Menu utama menghadirkan lamb of the spice isles bergaya Bedouin. Kambing dipanggang perlahan di antara batu hitam membara dan pasir panas. Royal lebaran ketupat menyatukan rasa Jawa, Sunda, Padang, Batavia, dan Blitar. Tamu juga dapat memilih hampers kopi single origin Kawisari Coffee serta paket menginap Lebaran eksklusif di kawasan bersejarah tersebut. *
(sra)