Afi Kalla Unggul di Debat Perdana Caketum BPP HIPMI, Dorong Hilirisasi untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Minggu, 10 Mei 2026 - 09:28 WIB
A
A
A
JAMBI, 9 Mei 2026 – Afifuddin Suhaeli Kalla (Afi Kalla) tampil memukau dan dinilai sebagai kandidat paling siap dalam Debat Perdana Calon Ketua Umum (Caketum) BPP HIPMI periode 2026–2029.
Dengan argumen berbasis data makro serta visi yang membumi, Afi dinilai mampu memetakan solusi ekonomi yang lebih konkret dibandingkan kandidat lainnya.
Debat Kandidat Pertama Caketum BPP HIPMI digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026, di BW Luxury Hotel Jambi. Empat kandidat yang hadir dalam debat tersebut yakni Afi Kalla, Reynaldo Bryan, Anthony Leong, dan Ade Jona.
Mereka saling memaparkan gagasan mengenai strategi pengembangan pengusaha muda guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Afi Kalla selaku Calon Ketua Umum BPP HIPMI nomor urut 3 menegaskan bahwa industri pengolahan harus menjadi tulang punggung utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
“Pengolahan itu, kalau kita mendengar industri, kita tidak hanya melihat industri besar saja. Tapi kita juga harus melihat industri yang dimulai dari dapur rumah tangga, garasi kecil, dan juga ruang tamu. Karena itu semua adalah bagian dari rantai pengolahan nasional,” tegas Afi.
Visi tersebut diterjemahkan melalui program unggulannya bertajuk Jadi Mandiri, yang berfokus pada pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagai pintu masuk realistis bagi pengusaha muda untuk masuk ke ekosistem industri nasional. Melalui pengembangan IKM di seluruh provinsi, para pengusaha muda diharapkan mampu memaksimalkan potensi dan keunikan sumber daya di daerah masing-masing.
“Masing-masing provinsi di Indonesia memiliki keunikan dan resource tersendiri yang bisa dijadikan nilai tambah di daerah mereka masing-masing. Karena itu, saya mendorong teman-teman HIPMI untuk bisa mandiri secara ekonomi, menjadi pengusaha hilirisasi melalui Industri Kecil dan Menengah,” ujar Afi.
Selain itu, Afi menilai penciptaan ekosistem IKM di daerah merupakan solusi nyata untuk mengatasi ketimpangan ekonomi antara Jawa dan luar Jawa. Menurutnya, pembangunan pabrik-pabrik kecil di tingkat provinsi akan membuat nilai tambah komoditas tetap berada di daerah asal, menciptakan lapangan kerja lokal, serta mendorong pemerataan kesejahteraan.
“Kita dorong lebih banyak pabrik-pabrik kecil dan IKM di setiap daerah dalam rangka menambah nilai dari suatu barang dan jasa. Supaya nilai tambahnya ada di provinsi masing-masing, tidak pindah ke provinsi yang terlalu padat di Jawa. Dengan pemerataan hilirisasi dan IKM di setiap provinsi, pertumbuhan ekonomi daerah akan meningkat dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen,” tambahnya.
Afi juga menyoroti tingginya konsumsi rumah tangga di Indonesia yang dinilainya positif, namun belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Ia menekankan pentingnya transformasi Indonesia menjadi negara produsen melalui penguatan industri substitusi impor.
“Karena itu kami mendorong Indonesia untuk lebih fokus menjadi negara produsen. Dengan membuat produk-produk substitusi, barang-barang yang tadinya kita impor bisa dibangun di dalam negeri. Sehingga nilai tambahnya tetap ada di Indonesia dan dapat meningkatkan kemakmuran rakyat,” kata Afi.
Dengan berbagai langkah tersebut, Afi percaya HIPMI ke depan tidak hanya menjadi organisasi para pengusaha muda, tetapi juga mesin pertumbuhan ekonomi yang berkontribusi langsung terhadap target pertumbuhan nasional sebesar 8 persen.
Melalui visi “Kita Bikin Jadi”, Afi berkomitmen menghadirkan kepemimpinan yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu mengeksekusi ide menjadi hasil nyata bagi bangsa.
Penampilannya dalam debat perdana ini semakin menegaskan posisinya sebagai sosok pemimpin yang menawarkan tidak hanya ide besar, tetapi juga sistem eksekusi yang konkret untuk membawa HIPMI ke level berikutnya.
Dengan argumen berbasis data makro serta visi yang membumi, Afi dinilai mampu memetakan solusi ekonomi yang lebih konkret dibandingkan kandidat lainnya.
Debat Kandidat Pertama Caketum BPP HIPMI digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026, di BW Luxury Hotel Jambi. Empat kandidat yang hadir dalam debat tersebut yakni Afi Kalla, Reynaldo Bryan, Anthony Leong, dan Ade Jona.
Mereka saling memaparkan gagasan mengenai strategi pengembangan pengusaha muda guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Afi Kalla selaku Calon Ketua Umum BPP HIPMI nomor urut 3 menegaskan bahwa industri pengolahan harus menjadi tulang punggung utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
“Pengolahan itu, kalau kita mendengar industri, kita tidak hanya melihat industri besar saja. Tapi kita juga harus melihat industri yang dimulai dari dapur rumah tangga, garasi kecil, dan juga ruang tamu. Karena itu semua adalah bagian dari rantai pengolahan nasional,” tegas Afi.
Visi tersebut diterjemahkan melalui program unggulannya bertajuk Jadi Mandiri, yang berfokus pada pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagai pintu masuk realistis bagi pengusaha muda untuk masuk ke ekosistem industri nasional. Melalui pengembangan IKM di seluruh provinsi, para pengusaha muda diharapkan mampu memaksimalkan potensi dan keunikan sumber daya di daerah masing-masing.
“Masing-masing provinsi di Indonesia memiliki keunikan dan resource tersendiri yang bisa dijadikan nilai tambah di daerah mereka masing-masing. Karena itu, saya mendorong teman-teman HIPMI untuk bisa mandiri secara ekonomi, menjadi pengusaha hilirisasi melalui Industri Kecil dan Menengah,” ujar Afi.
Selain itu, Afi menilai penciptaan ekosistem IKM di daerah merupakan solusi nyata untuk mengatasi ketimpangan ekonomi antara Jawa dan luar Jawa. Menurutnya, pembangunan pabrik-pabrik kecil di tingkat provinsi akan membuat nilai tambah komoditas tetap berada di daerah asal, menciptakan lapangan kerja lokal, serta mendorong pemerataan kesejahteraan.
“Kita dorong lebih banyak pabrik-pabrik kecil dan IKM di setiap daerah dalam rangka menambah nilai dari suatu barang dan jasa. Supaya nilai tambahnya ada di provinsi masing-masing, tidak pindah ke provinsi yang terlalu padat di Jawa. Dengan pemerataan hilirisasi dan IKM di setiap provinsi, pertumbuhan ekonomi daerah akan meningkat dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen,” tambahnya.
Afi juga menyoroti tingginya konsumsi rumah tangga di Indonesia yang dinilainya positif, namun belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Ia menekankan pentingnya transformasi Indonesia menjadi negara produsen melalui penguatan industri substitusi impor.
“Karena itu kami mendorong Indonesia untuk lebih fokus menjadi negara produsen. Dengan membuat produk-produk substitusi, barang-barang yang tadinya kita impor bisa dibangun di dalam negeri. Sehingga nilai tambahnya tetap ada di Indonesia dan dapat meningkatkan kemakmuran rakyat,” kata Afi.
Dengan berbagai langkah tersebut, Afi percaya HIPMI ke depan tidak hanya menjadi organisasi para pengusaha muda, tetapi juga mesin pertumbuhan ekonomi yang berkontribusi langsung terhadap target pertumbuhan nasional sebesar 8 persen.
Melalui visi “Kita Bikin Jadi”, Afi berkomitmen menghadirkan kepemimpinan yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu mengeksekusi ide menjadi hasil nyata bagi bangsa.
Penampilannya dalam debat perdana ini semakin menegaskan posisinya sebagai sosok pemimpin yang menawarkan tidak hanya ide besar, tetapi juga sistem eksekusi yang konkret untuk membawa HIPMI ke level berikutnya.
(sra)