Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin di Jantung Kota Tua Jakarta
Jum'at, 26 Juni 2026 - 19:05 WIB
A
A
A
JAKARTA - Di momentum HUT ke-499 Jakarta, Kota Tua kembali mengingatkan bahwa sejarah Ibu Kota tidak hanya tersimpan dalam buku-buku dan bangunan kuno. Di sejumlah sudut kota, kisah hampir lima abad perjalanan Jakarta masih hidup melalui artefak, ruang-ruang bersejarah, dan kisah para tokoh yang pernah mewarnai zamannya. Jejak itu antara lain banyak ditemukan di House of Tugu Old Town Jakarta.
Dari ballroom yang menghidupkan kembali kejayaan Gedung Harmoni yang telah lama hilang dari wajah Jakarta, kamar yang terinspirasi kunjungan Charlie Chaplin ke Hindia Belanda pada 1927, hingga.ruang yang menyimpan kenangan Presiden Soekarno.
Perjalanan sejarah itu dimulai dari Ruang Soekarno di lantai satu. Hampir di setiap properti Tugu Group terdapat ruang khusus yang didedikasikan untuk Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Guest Relation Manager House of Tugu Old Town Jakarta, Indriana Amanda Ticoalu, mengatakan, pendiri Tugu Hotels and Restaurants, Anhar Setjadibrata, merupakan pengagum Bung Karno. Karena itu, berbagai foto, dokumen, hingga benda pribadi Sang Proklamator banyak dikoleksi.
Sebuah lukisan setengah jadi karya Soekarno terpajang di salah satu sisi ruangan. Foto-foto dokumentasi kegiatan kenegaraan memenuhi dinding. Di atas gebyok besar terlihat potret Bung Karno mengenakan jas kebesaran presiden. Pada sisi lain terpampang foto lautan manusia yang mengiringi Soekarno menuju mimbar Lapangan Ikada pada 19 September 1945.
Tak jauh dari foto tersebut terdapat dokumentasi pelantikan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat pada 17 Desember 1949 di Keraton Yogyakarta. Sebuah celana milik Bung Karno juga tersimpan rapi dalam pelindung khusus. Meja panjang dengan taplak biru dan putih disiapkan untuk private dining maupun pertemuan eksklusif berkapasitas 25 hingga 30 orang.
Dari Ruang Soekarno, perjalanan berlanjut menuju Sumba Room. Ruangan ini menghadirkan representasi berbagai budaya Nusantara dalam satu tempat. Alunan gamelan terdengar samar dari kejauhan. Di berbagai sudut tampak ornamen Dayak Kalimantan, rumah adat Tongkonan Toraja, motif kain Sumba, hingga artefak dari Maluku dan Papua.
Siang itu meja-meja masih tersusun rapi setelah jamuan makan. Gelas, piring, dan peralatan makan belum sepenuhnya dibereskan. Justru pemandangan tersebut memberi gambaran bagaimana ruangan ini digunakan untuk berbagai acara.
Charlie Chaplin Suite
Lift kemudian membawa perjalanan menuju lantai tiga. Di sinilah salah satu kamar paling unik berada, kamar 307. Namanya Charlie Chaplin Suite. Kamar ini didedikasikan untuk mengenang kunjungan sang legenda film bisu ke Hindia Belanda pada 1927, tepatnya ke Jakarta, Bogor dan Garut.
Sebuah bathtub berdiri di tengah ruangan. Di depannya terdapat tulisan Sultan's Harem Bath, 1001 Nights as Imagined by Chaplin. Bak mandi tersebut dinaungi gazebo kayu bertuliskan Mooi Indie. Di atasnya terdapat lukisan burung yang konon pernah dilihat Chaplin saat berkunjung ke Bogor.
Di samping bathtub berdiri tempat tidur dengan gazebo kayu lain bertuliskan Circus Charlie Chaplin. Dominasi kayu terlihat hampir di seluruh bagian kamar. Sebuah ruang duduk kecil melengkapi area istirahat. Dinding televisi dapat dilipat sehingga tamu bisa menonton dari tempat tidur.
Amanda menjelaskan, Charlie Chaplin datang ke Hindia Belanda atas undangan jaringan bisnis Oei Tiong Ham, kakek buyut pendiri Tugu Group, Anhar Setjadibrata. ”Saat itu kelompok usaha Oei Tiong Ham juga bergerak di bidang distribusi film,” terangnya.
Tarif Charlie Chaplin Suite mencapai Rp16 juta per malam. Harga tersebut sudah termasuk sarapan, afternoon tea, welcome massage, dan hotel tour. Di lantai yang sama terdapat dua Riverside Suite yang menghadap langsung ke Kali Besar di seberang hotel.
Nyonya Besar dan Para Concubine
Tidak jauh dari sana terdapat Nyonya Besar Suite. Amanda menjelaskan, istilah nyonya besar merujuk istri sah dalam keluarga-keluarga kaya Peranakan masa lalu. Sebaliknya, concubine atau selir memiliki ruang tersendiri dalam struktur keluarga saat itu. "Nyonya Besar Suite tarifnya sekitar Rp5,7 juta," katanya.
Kamar ini memiliki area kerja di belakang tempat tidur. Kamar mandinya didominasi marmer dengan detail klasik yang menawan. Tepat berhadapan terdapat kamar lain dengan konsep berbeda. Meskipun masih satu kategori, dekorasinya tidak pernah sama.
Di lantai empat terdapat empat kamar Concubine. Salah satunya menggunakan lantai parket kayu. Tema Peranakan klasik terasa sangat kuat. Meja kerja kembali ditempatkan di belakang tempat tidur sehingga tamu dapat bekerja sambil menonton televisi. Amanda menegaskan tidak ada satu pun suite yang memiliki dekorasi identik. "Sebanyak 25 suite di sini semuanya berbeda, termasuk warna dan koleksinya," ujarnya.
Membangkitkan Lagi Gedung Harmoni
Dari lantai tiga, perjalanan turun menuju area restoran. Sebelum tiba di tujuan, Amanda mengajak melihat area Borneo. Ruang terbuka ini dihiasi motif batik Kalimantan berukuran besar. Berbagai patung dari Papua, Sumatra, Sulawesi, Ambon, Kalimantan, dan Sumba berdiri mengelilingi area tersebut.
Di atas musala terdapat patung batu burung enggang raksasa. Amanda menjelaskan patung itu melambangkan sacred rhinoceros hornbill dari Kalimantan. Meja dan kursi panjang disediakan untuk tamu yang ingin bersantai.
Perjalanan kemudian berbelok menuju Borobudur Room. Ruangan ini memiliki patung Dhyani Buddha berukuran besar yang selesai dibuat pada 1957. Fungsi utamanya untuk pertemuan privat maupun jamuan makan.
Namun ruang paling monumental berada di bagian lain kompleks. Amanda menyebut De Harmonie Hall. "Ini salah satu ruang favorit tamu internasional," katanya.
Ballroom tersebut didesain menyerupai Gedung Societeit de Harmonie yang dibangun pada 1810 namun sudah dirobohkan pada 1985. Gedung megah itu dulu menjadi tempat berkumpul dan pesta kalangan elite Belanda di Batavia.
Interior De Harmonie Hall di House of Tugu menampilkan berbagai elemen asli Gedung Harmoni. Pintu-pintu besar dari jati, furnitur, lampu kristal, meja biliar kuno, hingga perlengkapan jamuan berhasil dikumpulkan kembali.
Ruangan berkapasitas sekitar 150 orang itu tidak membutuhkan banyak dekorasi tambahan. Tiga lampu gantung antik bergaya Bohemian menghiasi bagian dalam kubah yang dilukis menyerupai langit biru. Meja panjang berbahan kayu dan keramik menjadi pusat ruangan. Karena bobotnya sangat besar, meja tersebut tidak dapat dipindahkan.
Masih di dalam ruangan tersimpan berbagai alat musik tiup. Mulai dari trombon, bass trumpet, mellophone, hingga bariton. Banyak kolektor memburu benda-benda itu ketika gedung lama akan dibongkar.
Salah satu koleksi paling menarik adalah anak-anak kunci Gedung Harmoni yang dibuang Sir Thomas Stamford Raffles ke sungai. Tokoh Inggris itu pernah menjabat Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1811 hingga 1816.
Amanda menjelaskan, Anhar Setjadibrata berhasil menemukan kembali 64 dari 83 anak kunci asli Gedung Harmoni. Menurut cerita yang beredar, sebagian kunci dibuang ke sungai oleh Raffles sebagai simbol agar gedung tersebut abadi. Namun roda sejarah berkata lain. Societeit de Harmoni dibongkar pada 1985 untuk keperluan pelebaran jalan dan perluasan area Kantor Sekretariat Negara.
Babah Koffie dan Naga yang Tertidur Puluhan Tahun
Menjelang malam, perjalanan kami sampai di Babah Koffie. Begitu memasuki ruangan, pandangan tertuju pada sosok naga merah raksasa yang membentang di langit-langit. "Naga ini panjangnya 26,5 meter," ujar Amanda.
Naga bernama Leang Leong tersebut dibuat pada 1961. Awalnya naga dipersiapkan untuk perayaan Cap Go Meh 1963 sekaligus memperingati 100 tahun firma Kian Gwan & Co milik Oei Tiong Ham. Namun sejarah berkata lain.
Kondisi politik dan ekonomi membuat perayaan tidak terlaksana. Seluruh kekayaan keluarga Oei Tiong Ham kemudian terseret berbagai persoalan. Akibatnya naga tersebut tidak pernah tampil di depan publik. Selama puluhan tahun ia tersimpan di gudang hingga akhirnya direstorasi pada 2022.
Di area yang sama terdapat gerbang klenteng suci dari Burma yang dibawa ayah Anhar ke Indonesia pada 1943. Gerbang tersebut dibuat sekitar 1750. Di bawahnya tersusun sofa dan kursi yang menyerupai ruang tamu rumah tempo dulu.
Foto-foto lama Perkebunan Kawisari menghiasi dinding. Sementara itu sepasang ondel-ondel berdiri di bagian depan kafe. Bagi pengunjung non-menginap, hotel tour tersedia dengan tarif Rp400 ribu termasuk sajian makanan. (Bersambung) *
Kreditasi: IMG/Armydian Kurniawan.
Dari ballroom yang menghidupkan kembali kejayaan Gedung Harmoni yang telah lama hilang dari wajah Jakarta, kamar yang terinspirasi kunjungan Charlie Chaplin ke Hindia Belanda pada 1927, hingga.ruang yang menyimpan kenangan Presiden Soekarno.
Perjalanan sejarah itu dimulai dari Ruang Soekarno di lantai satu. Hampir di setiap properti Tugu Group terdapat ruang khusus yang didedikasikan untuk Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Guest Relation Manager House of Tugu Old Town Jakarta, Indriana Amanda Ticoalu, mengatakan, pendiri Tugu Hotels and Restaurants, Anhar Setjadibrata, merupakan pengagum Bung Karno. Karena itu, berbagai foto, dokumen, hingga benda pribadi Sang Proklamator banyak dikoleksi.
Sebuah lukisan setengah jadi karya Soekarno terpajang di salah satu sisi ruangan. Foto-foto dokumentasi kegiatan kenegaraan memenuhi dinding. Di atas gebyok besar terlihat potret Bung Karno mengenakan jas kebesaran presiden. Pada sisi lain terpampang foto lautan manusia yang mengiringi Soekarno menuju mimbar Lapangan Ikada pada 19 September 1945.
Tak jauh dari foto tersebut terdapat dokumentasi pelantikan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat pada 17 Desember 1949 di Keraton Yogyakarta. Sebuah celana milik Bung Karno juga tersimpan rapi dalam pelindung khusus. Meja panjang dengan taplak biru dan putih disiapkan untuk private dining maupun pertemuan eksklusif berkapasitas 25 hingga 30 orang.
Dari Ruang Soekarno, perjalanan berlanjut menuju Sumba Room. Ruangan ini menghadirkan representasi berbagai budaya Nusantara dalam satu tempat. Alunan gamelan terdengar samar dari kejauhan. Di berbagai sudut tampak ornamen Dayak Kalimantan, rumah adat Tongkonan Toraja, motif kain Sumba, hingga artefak dari Maluku dan Papua.
Siang itu meja-meja masih tersusun rapi setelah jamuan makan. Gelas, piring, dan peralatan makan belum sepenuhnya dibereskan. Justru pemandangan tersebut memberi gambaran bagaimana ruangan ini digunakan untuk berbagai acara.
Charlie Chaplin Suite
Lift kemudian membawa perjalanan menuju lantai tiga. Di sinilah salah satu kamar paling unik berada, kamar 307. Namanya Charlie Chaplin Suite. Kamar ini didedikasikan untuk mengenang kunjungan sang legenda film bisu ke Hindia Belanda pada 1927, tepatnya ke Jakarta, Bogor dan Garut.
Sebuah bathtub berdiri di tengah ruangan. Di depannya terdapat tulisan Sultan's Harem Bath, 1001 Nights as Imagined by Chaplin. Bak mandi tersebut dinaungi gazebo kayu bertuliskan Mooi Indie. Di atasnya terdapat lukisan burung yang konon pernah dilihat Chaplin saat berkunjung ke Bogor.
Di samping bathtub berdiri tempat tidur dengan gazebo kayu lain bertuliskan Circus Charlie Chaplin. Dominasi kayu terlihat hampir di seluruh bagian kamar. Sebuah ruang duduk kecil melengkapi area istirahat. Dinding televisi dapat dilipat sehingga tamu bisa menonton dari tempat tidur.
Amanda menjelaskan, Charlie Chaplin datang ke Hindia Belanda atas undangan jaringan bisnis Oei Tiong Ham, kakek buyut pendiri Tugu Group, Anhar Setjadibrata. ”Saat itu kelompok usaha Oei Tiong Ham juga bergerak di bidang distribusi film,” terangnya.
Tarif Charlie Chaplin Suite mencapai Rp16 juta per malam. Harga tersebut sudah termasuk sarapan, afternoon tea, welcome massage, dan hotel tour. Di lantai yang sama terdapat dua Riverside Suite yang menghadap langsung ke Kali Besar di seberang hotel.
Nyonya Besar dan Para Concubine
Tidak jauh dari sana terdapat Nyonya Besar Suite. Amanda menjelaskan, istilah nyonya besar merujuk istri sah dalam keluarga-keluarga kaya Peranakan masa lalu. Sebaliknya, concubine atau selir memiliki ruang tersendiri dalam struktur keluarga saat itu. "Nyonya Besar Suite tarifnya sekitar Rp5,7 juta," katanya.
Kamar ini memiliki area kerja di belakang tempat tidur. Kamar mandinya didominasi marmer dengan detail klasik yang menawan. Tepat berhadapan terdapat kamar lain dengan konsep berbeda. Meskipun masih satu kategori, dekorasinya tidak pernah sama.
Di lantai empat terdapat empat kamar Concubine. Salah satunya menggunakan lantai parket kayu. Tema Peranakan klasik terasa sangat kuat. Meja kerja kembali ditempatkan di belakang tempat tidur sehingga tamu dapat bekerja sambil menonton televisi. Amanda menegaskan tidak ada satu pun suite yang memiliki dekorasi identik. "Sebanyak 25 suite di sini semuanya berbeda, termasuk warna dan koleksinya," ujarnya.
Membangkitkan Lagi Gedung Harmoni
Dari lantai tiga, perjalanan turun menuju area restoran. Sebelum tiba di tujuan, Amanda mengajak melihat area Borneo. Ruang terbuka ini dihiasi motif batik Kalimantan berukuran besar. Berbagai patung dari Papua, Sumatra, Sulawesi, Ambon, Kalimantan, dan Sumba berdiri mengelilingi area tersebut.
Di atas musala terdapat patung batu burung enggang raksasa. Amanda menjelaskan patung itu melambangkan sacred rhinoceros hornbill dari Kalimantan. Meja dan kursi panjang disediakan untuk tamu yang ingin bersantai.
Perjalanan kemudian berbelok menuju Borobudur Room. Ruangan ini memiliki patung Dhyani Buddha berukuran besar yang selesai dibuat pada 1957. Fungsi utamanya untuk pertemuan privat maupun jamuan makan.
Namun ruang paling monumental berada di bagian lain kompleks. Amanda menyebut De Harmonie Hall. "Ini salah satu ruang favorit tamu internasional," katanya.
Ballroom tersebut didesain menyerupai Gedung Societeit de Harmonie yang dibangun pada 1810 namun sudah dirobohkan pada 1985. Gedung megah itu dulu menjadi tempat berkumpul dan pesta kalangan elite Belanda di Batavia.
Interior De Harmonie Hall di House of Tugu menampilkan berbagai elemen asli Gedung Harmoni. Pintu-pintu besar dari jati, furnitur, lampu kristal, meja biliar kuno, hingga perlengkapan jamuan berhasil dikumpulkan kembali.
Ruangan berkapasitas sekitar 150 orang itu tidak membutuhkan banyak dekorasi tambahan. Tiga lampu gantung antik bergaya Bohemian menghiasi bagian dalam kubah yang dilukis menyerupai langit biru. Meja panjang berbahan kayu dan keramik menjadi pusat ruangan. Karena bobotnya sangat besar, meja tersebut tidak dapat dipindahkan.
Masih di dalam ruangan tersimpan berbagai alat musik tiup. Mulai dari trombon, bass trumpet, mellophone, hingga bariton. Banyak kolektor memburu benda-benda itu ketika gedung lama akan dibongkar.
Salah satu koleksi paling menarik adalah anak-anak kunci Gedung Harmoni yang dibuang Sir Thomas Stamford Raffles ke sungai. Tokoh Inggris itu pernah menjabat Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1811 hingga 1816.
Amanda menjelaskan, Anhar Setjadibrata berhasil menemukan kembali 64 dari 83 anak kunci asli Gedung Harmoni. Menurut cerita yang beredar, sebagian kunci dibuang ke sungai oleh Raffles sebagai simbol agar gedung tersebut abadi. Namun roda sejarah berkata lain. Societeit de Harmoni dibongkar pada 1985 untuk keperluan pelebaran jalan dan perluasan area Kantor Sekretariat Negara.
Babah Koffie dan Naga yang Tertidur Puluhan Tahun
Menjelang malam, perjalanan kami sampai di Babah Koffie. Begitu memasuki ruangan, pandangan tertuju pada sosok naga merah raksasa yang membentang di langit-langit. "Naga ini panjangnya 26,5 meter," ujar Amanda.
Naga bernama Leang Leong tersebut dibuat pada 1961. Awalnya naga dipersiapkan untuk perayaan Cap Go Meh 1963 sekaligus memperingati 100 tahun firma Kian Gwan & Co milik Oei Tiong Ham. Namun sejarah berkata lain.
Kondisi politik dan ekonomi membuat perayaan tidak terlaksana. Seluruh kekayaan keluarga Oei Tiong Ham kemudian terseret berbagai persoalan. Akibatnya naga tersebut tidak pernah tampil di depan publik. Selama puluhan tahun ia tersimpan di gudang hingga akhirnya direstorasi pada 2022.
Di area yang sama terdapat gerbang klenteng suci dari Burma yang dibawa ayah Anhar ke Indonesia pada 1943. Gerbang tersebut dibuat sekitar 1750. Di bawahnya tersusun sofa dan kursi yang menyerupai ruang tamu rumah tempo dulu.
Foto-foto lama Perkebunan Kawisari menghiasi dinding. Sementara itu sepasang ondel-ondel berdiri di bagian depan kafe. Bagi pengunjung non-menginap, hotel tour tersedia dengan tarif Rp400 ribu termasuk sajian makanan. (Bersambung) *
Kreditasi: IMG/Armydian Kurniawan.
(sra)