HISFARSI DKI Jakarta Dorong Transformasi Rumah Sakit Lewat Benchmarking Internasional di Malaysia
Jum'at, 26 Juni 2026 - 10:17 WIB
A
A
A
Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit (HISFARSI) DKI Jakarta mendorong percepatan transformasi layanan kesehatan di Indonesia melalui kegiatan benchmarking internasional ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada 23–25 Juni 2026. Kegiatan ini menghasilkan sejumlah pembelajaran terkait digitalisasi rumah sakit, pengelolaan obat terpusat, serta penguatan peran apoteker dalam pelayanan klinis yang dinilai berpotensi diterapkan di Indonesia.
Ketua HISFARSI DKI Jakarta, Apt. Renni Septini, mengatakan kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam meningkatkan mutu pelayanan farmasi dan layanan kesehatan rumah sakit melalui pembelajaran dari praktik terbaik di tingkat internasional.
“Kunjungan benchmarking ini merupakan bagian dari komitmen HISFARSI DKI Jakarta untuk terus mendorong peningkatan mutu pelayanan farmasi dan pelayanan kesehatan rumah sakit melalui pembelajaran dari praktik-praktik terbaik di tingkat internasional,” ujar Renni.
Renni Septini menilai rumah sakit saat ini dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung cepat di sektor kesehatan. Menurutnya, ruang lingkup perhatian tenaga kesehatan kini semakin luas seiring berkembangnya kebutuhan pelayanan dan ekspektasi masyarakat terhadap kualitas layanan.
"Peran tenaga kesehatan saat ini tidak hanya berfokus pada pelayanan klinis, tetapi juga dituntut mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan dalam sistem pelayanan kesehatan. Mulai dari pemanfaatan teknologi hingga peningkatan mutu dan keselamatan pasien, seluruhnya membutuhkan inovasi yang dilakukan secara berkelanjutan," tambahnya
Dalam kunjungan tersebut, sebanyak 12 peserta dari berbagai rumah sakit di Jakarta mempelajari penerapan sistem layanan kesehatan terintegrasi di Malaysia, khususnya di Institut Kanser Negara (IKN) yang menjadi salah satu institusi rujukan dengan implementasi digital health yang kuat.
Fokus pembelajaran mencakup integrasi sistem informasi rumah sakit yang menghubungkan berbagai layanan dalam satu platform, sehingga mempercepat proses layanan dan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan.
Peserta juga mengamati sistem manajemen obat berbasis teknologi yang dikelola secara terpusat. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan risiko kesalahan pemberian obat (medication error).
Malaysia dipilih sebagai lokasi benchmarking karena dinilai berhasil mengembangkan sistem kesehatan modern, khususnya dalam digitalisasi layanan, manajemen farmasi rumah sakit, serta penerapan standar keselamatan pasien yang tinggi. Kedekatan geografis dan karakteristik sistem layanan kesehatan yang relatif serupa dengan Indonesia juga membuat praktik yang diamati dinilai relevan untuk dipelajari.
Kegiatan ini berlangsung di tengah upaya rumah sakit di Indonesia untuk meningkatkan efisiensi di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tantangan tersebut mendorong kebutuhan pemanfaatan teknologi yang lebih optimal serta sistem pelayanan yang dapat menjawab kebutuhan pasien secara tepat dan cepat.
Dari hasil kunjungan, HISFARSI DKI Jakarta memperoleh sejumlah wawasan yang dinilai dapat diadaptasi di Indonesia, mulai dari penguatan layanan farmasi klinik dan optimalisasi rekam medis elektronik hingga pengembangan sistem pemantauan mutu berbasis data. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan regulasi dan kebutuhan masing-masing rumah sakit.
Renni berharap hasil benchmarking ini tidak berhenti sebagai kegiatan studi banding, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi program konkret yang berdampak pada peningkatan kualitas layanan kesehatan dan keselamatan pasien di Indonesia.
Ketua HISFARSI DKI Jakarta, Apt. Renni Septini, mengatakan kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam meningkatkan mutu pelayanan farmasi dan layanan kesehatan rumah sakit melalui pembelajaran dari praktik terbaik di tingkat internasional.
“Kunjungan benchmarking ini merupakan bagian dari komitmen HISFARSI DKI Jakarta untuk terus mendorong peningkatan mutu pelayanan farmasi dan pelayanan kesehatan rumah sakit melalui pembelajaran dari praktik-praktik terbaik di tingkat internasional,” ujar Renni.
Renni Septini menilai rumah sakit saat ini dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung cepat di sektor kesehatan. Menurutnya, ruang lingkup perhatian tenaga kesehatan kini semakin luas seiring berkembangnya kebutuhan pelayanan dan ekspektasi masyarakat terhadap kualitas layanan.
"Peran tenaga kesehatan saat ini tidak hanya berfokus pada pelayanan klinis, tetapi juga dituntut mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan dalam sistem pelayanan kesehatan. Mulai dari pemanfaatan teknologi hingga peningkatan mutu dan keselamatan pasien, seluruhnya membutuhkan inovasi yang dilakukan secara berkelanjutan," tambahnya
Dalam kunjungan tersebut, sebanyak 12 peserta dari berbagai rumah sakit di Jakarta mempelajari penerapan sistem layanan kesehatan terintegrasi di Malaysia, khususnya di Institut Kanser Negara (IKN) yang menjadi salah satu institusi rujukan dengan implementasi digital health yang kuat.
Fokus pembelajaran mencakup integrasi sistem informasi rumah sakit yang menghubungkan berbagai layanan dalam satu platform, sehingga mempercepat proses layanan dan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan.
Peserta juga mengamati sistem manajemen obat berbasis teknologi yang dikelola secara terpusat. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan risiko kesalahan pemberian obat (medication error).
Malaysia dipilih sebagai lokasi benchmarking karena dinilai berhasil mengembangkan sistem kesehatan modern, khususnya dalam digitalisasi layanan, manajemen farmasi rumah sakit, serta penerapan standar keselamatan pasien yang tinggi. Kedekatan geografis dan karakteristik sistem layanan kesehatan yang relatif serupa dengan Indonesia juga membuat praktik yang diamati dinilai relevan untuk dipelajari.
Kegiatan ini berlangsung di tengah upaya rumah sakit di Indonesia untuk meningkatkan efisiensi di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tantangan tersebut mendorong kebutuhan pemanfaatan teknologi yang lebih optimal serta sistem pelayanan yang dapat menjawab kebutuhan pasien secara tepat dan cepat.
Dari hasil kunjungan, HISFARSI DKI Jakarta memperoleh sejumlah wawasan yang dinilai dapat diadaptasi di Indonesia, mulai dari penguatan layanan farmasi klinik dan optimalisasi rekam medis elektronik hingga pengembangan sistem pemantauan mutu berbasis data. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan regulasi dan kebutuhan masing-masing rumah sakit.
Renni berharap hasil benchmarking ini tidak berhenti sebagai kegiatan studi banding, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi program konkret yang berdampak pada peningkatan kualitas layanan kesehatan dan keselamatan pasien di Indonesia.
(sra)