Mantra of Kahwa: KAPPI Angkat Kopi Sumatra Lewat Storytelling Global
Minggu, 10 Mei 2026 - 12:18 WIB
A
A
A
Jakarta, 9 Mei 2026 — Kopi Indonesia kini tidak lagi cukup dikenal hanya melalui cita rasa. Dalam rangkaian More Food Expo Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, KAPPI (Yayasan Pendidikan Pengembangan Perkopian Indonesia) menegaskan pentingnya storytelling sebagai strategi memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar global melalui pemutaran dan diskusi film dokumenter Mantra of Kahwa.
Film karya sutradara Budi Kurniawan ini menghadirkan kopi Sumatra sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar komoditas.
Dengan pendekatan visual yang kontemplatif dan reflektif, Mantra of Kahwa mengusung gagasan bahwa kopi merupakan “living, breathing mantra”—warisan budaya hidup yang terus membentuk relasi antara manusia, alam, dan tradisi.
Pemutaran film tersebut menjadi bagian dari upaya KAPPI untuk menghadirkan perspektif baru tentang kopi Indonesia, sekaligus membuka diskusi mengenai bagaimana nilai budaya dapat diterjemahkan menjadi kekuatan diferensiasi di pasar global.
Mewakili KAPPI, Roby Wibisono menegaskan bahwa penggunaan medium film merupakan langkah strategis dalam membangun narasi kopi Indonesia.
“KAPPI bersama Budi Kurniawan mengembangkan rangkaian film dokumenter sebagai medium untuk mengedukasi konsumen sekaligus memperkenalkan kopi Indonesia. Melalui film, berbagai cerita di balik secangkir kopi dapat disampaikan dengan cara yang lebih kuat dan menjangkau audiens yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
“Kami telah bekerja sama dengan berbagai kementerian dan instansi, baik di dalam maupun luar negeri, untuk memanfaatkan film sebagai sarana memperkenalkan kopi Indonesia dalam berbagai forum internasional,” lanjutnya.
Di tengah pasar global yang semakin kompetitif, Roby menilai bahwa keunikan menjadi faktor utama dalam menarik perhatian konsumen.
“Saat ini para pecinta kopi mencari produk yang unik. Indonesia memiliki keunikan yang tidak dapat ditemukan di negara lain karena keberagaman geografisnya.
Melalui film seperti Mantra of Kahwa, kami ingin memperlihatkan bukan hanya produknya, tetapi juga siapa saja yang terlibat—terutama dedikasi para petani kopi Indonesia,” jelasnya.
Pendekatan berbasis cerita ini dinilai semakin relevan seiring meningkatnya permintaan terhadap traceability, authenticity, dan origin story di pasar internasional. Storytelling tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan telah menjadi bagian penting dari nilai yang menentukan persepsi dan positioning sebuah produk.
Bagi Budi Kurniawan, Mantra of Kahwa merupakan bagian dari eksplorasi panjang terhadap kopi Indonesia sebagai identitas budaya. Sebelumnya, ia telah mengembangkan sejumlah film dokumenter kopi, antara lain The Aroma of Heaven, Legacy of Java, dan House of Cula, yang masing-masing mengangkat karakter serta cerita dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia.
“Film ini adalah bagian dari tujuh film yang sudah dan sedang saya kerjakan. Ke depan, masih ada tiga film lagi yang akan dibuat, termasuk tentang kopi dari Bajawa Flores, Bali Kintamani, dan Wamena di Papua,” ungkapnya.
Lebih jauh, Budi memandang kopi memiliki dimensi yang melampaui aspek rasa dan produk semata.
“Setiap kopi menyimpan endapan ingatan setiap orang dan identitas kultural bagi peradaban manusia,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kopi tidak hanya hadir sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan manusia—narasi yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.
Film Mantra of Kahwa sendiri telah diputar di berbagai ajang nasional maupun internasional, termasuk SCAJ Conference 2025, SKA Coffee Fest 2025, serta Jakarta Coffee Week 2025. Kehadirannya di berbagai forum tersebut semakin memperkuat relevansi pendekatan berbasis cerita dalam memperkenalkan kopi Indonesia kepada audiens global.
Melalui inisiatif ini, KAPPI menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mendorong peningkatan kualitas kopi, tetapi juga memperkuat cara Indonesia membangun narasi tentang kopinya sendiri.
Sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa kopi Indonesia tidak hanya dikenal, tetapi juga dipahami—sebagai produk sekaligus representasi budaya.
Film karya sutradara Budi Kurniawan ini menghadirkan kopi Sumatra sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar komoditas.
Dengan pendekatan visual yang kontemplatif dan reflektif, Mantra of Kahwa mengusung gagasan bahwa kopi merupakan “living, breathing mantra”—warisan budaya hidup yang terus membentuk relasi antara manusia, alam, dan tradisi.
Pemutaran film tersebut menjadi bagian dari upaya KAPPI untuk menghadirkan perspektif baru tentang kopi Indonesia, sekaligus membuka diskusi mengenai bagaimana nilai budaya dapat diterjemahkan menjadi kekuatan diferensiasi di pasar global.
Mewakili KAPPI, Roby Wibisono menegaskan bahwa penggunaan medium film merupakan langkah strategis dalam membangun narasi kopi Indonesia.
“KAPPI bersama Budi Kurniawan mengembangkan rangkaian film dokumenter sebagai medium untuk mengedukasi konsumen sekaligus memperkenalkan kopi Indonesia. Melalui film, berbagai cerita di balik secangkir kopi dapat disampaikan dengan cara yang lebih kuat dan menjangkau audiens yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
“Kami telah bekerja sama dengan berbagai kementerian dan instansi, baik di dalam maupun luar negeri, untuk memanfaatkan film sebagai sarana memperkenalkan kopi Indonesia dalam berbagai forum internasional,” lanjutnya.
Di tengah pasar global yang semakin kompetitif, Roby menilai bahwa keunikan menjadi faktor utama dalam menarik perhatian konsumen.
“Saat ini para pecinta kopi mencari produk yang unik. Indonesia memiliki keunikan yang tidak dapat ditemukan di negara lain karena keberagaman geografisnya.
Melalui film seperti Mantra of Kahwa, kami ingin memperlihatkan bukan hanya produknya, tetapi juga siapa saja yang terlibat—terutama dedikasi para petani kopi Indonesia,” jelasnya.
Pendekatan berbasis cerita ini dinilai semakin relevan seiring meningkatnya permintaan terhadap traceability, authenticity, dan origin story di pasar internasional. Storytelling tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan telah menjadi bagian penting dari nilai yang menentukan persepsi dan positioning sebuah produk.
Bagi Budi Kurniawan, Mantra of Kahwa merupakan bagian dari eksplorasi panjang terhadap kopi Indonesia sebagai identitas budaya. Sebelumnya, ia telah mengembangkan sejumlah film dokumenter kopi, antara lain The Aroma of Heaven, Legacy of Java, dan House of Cula, yang masing-masing mengangkat karakter serta cerita dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia.
“Film ini adalah bagian dari tujuh film yang sudah dan sedang saya kerjakan. Ke depan, masih ada tiga film lagi yang akan dibuat, termasuk tentang kopi dari Bajawa Flores, Bali Kintamani, dan Wamena di Papua,” ungkapnya.
Lebih jauh, Budi memandang kopi memiliki dimensi yang melampaui aspek rasa dan produk semata.
“Setiap kopi menyimpan endapan ingatan setiap orang dan identitas kultural bagi peradaban manusia,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kopi tidak hanya hadir sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan manusia—narasi yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.
Film Mantra of Kahwa sendiri telah diputar di berbagai ajang nasional maupun internasional, termasuk SCAJ Conference 2025, SKA Coffee Fest 2025, serta Jakarta Coffee Week 2025. Kehadirannya di berbagai forum tersebut semakin memperkuat relevansi pendekatan berbasis cerita dalam memperkenalkan kopi Indonesia kepada audiens global.
Melalui inisiatif ini, KAPPI menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mendorong peningkatan kualitas kopi, tetapi juga memperkuat cara Indonesia membangun narasi tentang kopinya sendiri.
Sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa kopi Indonesia tidak hanya dikenal, tetapi juga dipahami—sebagai produk sekaligus representasi budaya.
(sra)