Hutan Kemenyan Batak Terancam Punah
Sabtu, 25 Juli 2015 - 23:12 WIB
A
A
A
Petani memanjatkan doa kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan YME) sebelum memulai prosesi manige (membuat cukilan pertama pada batang pohon kemenyan) di kawasan hutan kemenyan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Mereka berharap kelimpahan rezeki dari pohon kemenyan yang akan mereka panen tiga bulan ke depan. Prosesi tersebut disertai dengan sejumlah bawaan antara lain lemak daging dan itak gurgur (tepung beras dan gula merah dicampur parutan kelapa) yang merupakan syarat khusus bagi para Parhaminjon (penyadap kemenyan). Kue tersebut dikunyah lalu disemburkan ke batang pohon kemenyan yang hendak disadap. Setelah prosesi selesai, mulailah dilakukan pekerjaan manguris atau membersihkan pohon.
Penyadapan pertama akan menghasilkan getah berwarna putih (kualitas nomor satu). Getah putih itu akan menempel di kulit pohon sehingga untuk memanennya petani harus mencongkel kulit batang pohon. Getah putih yang paling besar dari sadapan pertama (disebut sidukapi) merupakan kualitas terbaik dan paling mahal harganya. Setelah getah dari cukilan pertama dipanen, bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut Tahir dan dipanen dua atau tiga bulan setelah memanen Sidukapi, harganya pun lebih murah.
Kemenyan atau disebut Haminjon dalam bahasa setempat, merupakan komiditi andalan kawasan ini. Peneliti sejarah menyatakan, kemenyan berasal dari Tapanuli dengan pintu keluar melalui Pelabuhan Barus. Para pelaut Persia (sekarang Iran) yang membawa kemenyan itu ke dunia luar dan kemudian menjadi perangkat pengharum upacara keagamaan. Kemenyan Tanah Batak sudah lama dikenal, diperkirakan sejak Pelabuhan Barus mulai aktif sebagai pintu masuk dunia ke Tapanuli, yaitu di abad ke-13. Pohon kemenyan (Styrax Benzoin) mampu hidup lebih dari 100 tahun. Selain di Tapanuli, pohon tersebut hanya ditemukan di Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Wilayah Humbang Hasundutan di Tanah Batak dikenal sebagai sumber Haminjon berkualitas terbaik.
Haminjon merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat Humbang-Hasundutan. Sekitar 65 persen warga hidup dari Haminjon. Penghasil kemenyan utama di kawasan ini adalah Kecamatan Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Parlilitan, dan Pakkat, Sijamapolang, Pollung dan Adiankoting. Namun belakangan ini hasil panen kemenyan terus mengalami penurunan akibat terdesaknya lahan hutan kemenyan oleh hutan industri dan pengolahan kayu. Perhatian instansi dan pihak terkait diperlukan untuk mencegah punahnya kawasan hutan kemenyan kawasan ini.
Penyadapan pertama akan menghasilkan getah berwarna putih (kualitas nomor satu). Getah putih itu akan menempel di kulit pohon sehingga untuk memanennya petani harus mencongkel kulit batang pohon. Getah putih yang paling besar dari sadapan pertama (disebut sidukapi) merupakan kualitas terbaik dan paling mahal harganya. Setelah getah dari cukilan pertama dipanen, bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut Tahir dan dipanen dua atau tiga bulan setelah memanen Sidukapi, harganya pun lebih murah.
Kemenyan atau disebut Haminjon dalam bahasa setempat, merupakan komiditi andalan kawasan ini. Peneliti sejarah menyatakan, kemenyan berasal dari Tapanuli dengan pintu keluar melalui Pelabuhan Barus. Para pelaut Persia (sekarang Iran) yang membawa kemenyan itu ke dunia luar dan kemudian menjadi perangkat pengharum upacara keagamaan. Kemenyan Tanah Batak sudah lama dikenal, diperkirakan sejak Pelabuhan Barus mulai aktif sebagai pintu masuk dunia ke Tapanuli, yaitu di abad ke-13. Pohon kemenyan (Styrax Benzoin) mampu hidup lebih dari 100 tahun. Selain di Tapanuli, pohon tersebut hanya ditemukan di Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Wilayah Humbang Hasundutan di Tanah Batak dikenal sebagai sumber Haminjon berkualitas terbaik.
Haminjon merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat Humbang-Hasundutan. Sekitar 65 persen warga hidup dari Haminjon. Penghasil kemenyan utama di kawasan ini adalah Kecamatan Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Parlilitan, dan Pakkat, Sijamapolang, Pollung dan Adiankoting. Namun belakangan ini hasil panen kemenyan terus mengalami penurunan akibat terdesaknya lahan hutan kemenyan oleh hutan industri dan pengolahan kayu. Perhatian instansi dan pihak terkait diperlukan untuk mencegah punahnya kawasan hutan kemenyan kawasan ini.
(ary)